Google
 

21 September 2017

4 Manajemen Kerja Agensi Penerjemahan

Sejak pertama kali go national dan go international pada tahun 2005, saya melihat bahwa agensi penerjemahan yang berbeda menerapkan manajemen kerja yang berbeda pula. Manajemen kerja yang saya maksud di sini adalah cara kerja agensi penerjemahan dalam menangani order penerjemahan yang diserahkan kepada penerjemah yang telah lulus ujian penerjemahan yang mereka adakan sebelumnya. 

Tentu saja, suatu agensi penerjemahan harus mengetahui dulu apakah calon penerjemah yang akan direkrutnya memenuhi syarat atau tidak. Karena itu, agensi penerjemahan biasanya meminta calon penerjemah mereka mengerjakan ujian penerjemahan pada tahap awal kerja sama mereka. 

Setelah lulus ujian penerjemahan, maka penerjemah tersebut akan masuk daftar penerjemah di agensi penerjemahan tersebut. Penerjemah yang sudah masuk daftar inilah yang nanti akan dihubungi jika agensi penerjemahan tersebut mendapat order penerjemahan dari klien. 

Jika mendapat order penerjemahan dari klien, agensi penerjemahan menghubungi penerjemah pilihannya. Cara yang paling sering mereka gunakan adalah melalui surat elektronik atau email. 

Setelah tarif dan waktu penyelesaian order penerjemahan disepakati oleh agensi penerjemahan dan penerjemah, agensi penerjemahan mengirimkan dokumen yang akan diterjemahkan melalui surat elektronik. Setelah terjemahan selesai dikerjakan penerjemah, terjemahan tersebut dikirimkan kepada agensi penerjemahan beserta faktur (surat tagihan)-nya. 

Bayaran atas jasa penerjemahan yang telah diberikan oleh penerjemah dikirim oleh agensi penerjemahan setelah satu bulan. Namun demikian, jangka waktu pembayaran ini kadang tepat waktu dan kadang terlambat sehingga penerjemah perlu menanyakan soal pembayaran jasa penerjemahannya. 

Dalam sistem manajemen kerja yang kedua, agensi penerjemahan menghubungi penerjemah mengenai adanya order penerjemahan. Jika tercapai kesepakatan mengenai tarif dan waktu penyelesaian order penerjemahan, penerjemah harus mengunduh dokumen yang akan diterjemahkan dari situs web agensi penerjemahan tersebut. 

Kemudian, penerjemah menerjemahkan dokumen tersebut hingga selesai. Setelah terjemahan selesai, penerjemah mengunggah terjemahan tersebut beserta fakturnya ke situs web tadi. Selanjutnya, bayaran secara otomatis dan tepat waktu akan dikirim ke rekening penerjemah dalam jangka waktu satu bulan. Dengan cara kerja ini, penerjemah tidak perlu menanyakan kepada agensi penerjemahan mengenai perkembangan pembayaran jasa penerjemahannya. 

Dalam manajemen kerja yang ketiga, agensi penerjemahan mengirim email kepada penerjemah menawarkan order penerjemahan. Jika tarif dan jangka waktu penyelesaian order penerjemahan disepakati, penerjemah membuka situs web agensi penerjemahan tersebut untuk membuka dokumen yang akan diterjemahkan secara onlen menggunakan CAT tool (program alat bantu penerjemahan) yang telah disediakan agensi penerjemahan. 

Setelah terjemahan selesai, penerjemah tinggal menekan tombol kirim dan kemudian menekan beberapa tombol untuk mengirimkan fakturnya. Faktur yang telah dikirim akan dibayar secara otomatis dan tepat waktu dalam waktu tiga puluh hari sejak faktur tersebut dikirim. 

Manajemen kerja agensi penerjemahan yang keempat sangat jauh berbeda dengan ketiga manajemen kerja di atas. Dalam sistem manajemen ini, penerjemah dan agensi penerjemahan sudah mendaftarkan diri sebagai anggota dari suatu situs web pasar jasa penerjemahan internasional yang dikelola oleh suatu perusahaan. 

Jika suatu agensi penerjemahan ingin menggunakan jasa penerjemahan seorang penerjemah, agensi penerjemahan tersebut tinggal menekan tombol tertentu setelah memasukkan informasi mengenai tarif dan waktu penyelesaiannya. Setelah tombol tersebut ditekan, situs web tersebut secara otomatis mengirimkan pemberitahuan kepada penerjemah mengenai tawaran order penerjemahan tersebut. 

Jika penerjemah setuju dengan tarif dan waktu penyelesaiannya, penerjemah bersangkutan tinggal menekan tombol Terima. Begitu pula jika sebaliknya. Jika tawaran order penerjemahan diterima, maka penerjemah dapat langsung mengerjakan penerjemahan secara onlen di situs tersebut menggunakan program alat bantu penerjemahan yang telah tersedia. 

Setelah terjemahan selesai, penerjemah tinggal menekan tombol kirim. Dengan sistem manajemen kerja yang terakhir ini, penerjemah tidak perlu repot menekan sejumlah tombol untuk mengirimkan faktur. Setelah terjemahan dikirim, faktur secara otomatis dibuat dan dikirim oleh sistem di situs web tersebut kepada agensi penerjemahan, dan penerjemah diberi tahu oleh sistem. 

Selain memberitahukan bahwa faktur telah dikirim kepada agensi penerjemahan, sistem juga memberi tahu perkiraan kapan agensi penerjemahan mengirimkan uang bayaran kepada perusahaan pengelola situs web tersebut dan kapan situs web tersebut secara otomatis dan tepat waktu mengirimkan uang bayaran tersebut kepada penerjemah. 

Pada sistem manajemen kerja ketiga dan keempat, penerjemah tidak harus memiliki program penerjemahan (CAT tool) tertentu karena program tersebut sudah disediakan oleh situs web, apalagi harga CAT tool program alat bantu penerjemahan relatif mahal baik menurut ukuran penerjemah Indonesia maupun penerjemah luar negeri. 

Pada manajemen pertama dan kedua, penerjemah tidak perlu membeli program alat bantu penerjemahan yang mahal jika agensi penerjemahan tidak mensyaratkan program tertentu. Namun demikian, penerjemah akan terbebani jika agensi penerjemahan menetapkan program alat bantu penerjemahan tertentu sebagai syarat penerjemahan dokumen yang mereka kirim. 

Namun demikian, dengan manajemen kerja ketiga dan keempat, penerjemah dituntut memiliki koneksi Internet yang cepat dan andal agar proses penerjemahan tidak terganggu. 

Sebagai penerjemah, saya pribadi paling suka dengan sistem manajemen kerja yang keempat karena paling praktis dan efisien.

Hipyan Nopri, S.Pd.
Penerjemah Hukum Inggris-Indonesia 
Juga Menyediakan Jasa Penerjemahan Dokumen 
Bisnis, Keuangan, Kedokteran, Kimia, Pertanian, Peternakan, dll.
Medan, Sumatera Utara

18 September 2017

Profesi Penerjemah dan Obesitas: Pengalaman Pribadi

Saya mulai bekerja sebagai penerjemah frilans profesional di awal tahun 1990. Sebenarnya, sepanjang tahun 1989, saya sudah jadi penerjemah. Namun demikian, karena saat itu saya belum paham bagaimana menetapkan tarif, jasa penerjemahan saya berikan secara gratis.

Jasa penerjemahan gratis ini maksudnya saya tidak menentukan tarif tertentu. Meskipun begitu, jika orang yang sudah saya bantu memberi nasi bungkus, buah-buahan, atau makanan ringan, saya segan menolaknya.:)

Ya, pemberian orang sebaiknya jangan ditolak. Menurut ajaran nenek moyang, rezeki tidak boleh ditolak.

Dengan kata lain, pada masa itu saya bekerja sebagai penerjemah amatir. Sebagai penerjemah amatir, keadaan saya memang getir.

Watak orang yang dibantu memang berbeda-beda. Orang yang cukup pengertian biasanya memberikan imbalan setelah dokumennye saya terjemahkan. Sebaliknya, orang yang kurang pengertian hanya memberikan ucapan terima kasih atas jasa yang telah saya berikan.:)

Sayang sekali, ucapan terima kasih ini tidak bisa digunakan untuk membeli beras, lauk, pakaian, dll.:)

Menjelang akhir tahun 1989, saya mulai berpikir bagaimana menentukan tarif jasa penerjemahan saya dan berapa tarif jasa penerjemahan yang pantas mengingat keadaan ekonomi dan keuangan saya amat sangat memprihatinkan sekali sebagai seorang mahasiswa di rantau.

Sejak awal tahun 1990, saya mulai bekerja sebagai penerjemah profesional meskipun tarifnya masih amat sangat murah sekali, Rp125 per halaman dokumen sumber. Harga nasi bungkus di Padang pada masa itu kalau tidak salah Rp700, dan yang paling murah Rp500, yaitu nasi sayur. Sesuai namanya, nasi ini cuma ditemani sayur tanpa lauk sama sekali.

Untuk mengakalinya, saya biasanya minta kuah gulai ikan, ayam, atau daging. Dengan kuah ini, nasi sayurnya terasa lebih nikmat. Selain itu, dengan adanya kuah ini, sari ikan, ayam, atau dagingnya kita dapat juga meskipun tidak ada lauknya.:)

Sejak jadi penerjemah profesional, sepanjang hari saya duduk di depan meja mengetik terjemahan dokumen yang diserahkan para mahasiswa prasarjana dan pascasarjana IKIP Padang (sekarang UNP) dan Universitas Andalas.

Pada tahun 2005, saya mulai go national dan sekaligus go international. Berbeda dengan masa awal jadi penerjemah profesional yang cuma bermodalkan mesin tik sebagai alat tulis, di masa ini saya mulai menggunakan komputer dan Internet.

Jika dulu sebelum tahun 2005, saya bekerja dari Subuh sampai menjelang Magrib, sejah tahun itu dan seterusnya, saya mulai kerja sejak Subuh sampai sekitar jam 9 malam. Kadang-kadang, saya bahkan begadang sampai tengah malam atau lewat tengah malam mengingat perbedaan zona waktu dengan calon klien luar negeri.

Dengan demikian, waktu duduk saya setiap hari semakin lama, dan semakin malas pula berolahraga. Keadaan ini semakin diperparah oleh kebiasaan saya: semakin sibuk mengerjakan order, semakin banyak saya makan.

Akibat tidak pernah olahraga dan selera makan yang relatif besar, semakin lama badan jadi semakin gemuk. Dengan badan yang gemuk ini, badan jadi panas, cari pakaian susah, dan napas mudah sesak jika berolahraga.

Sewaktu-waktu saya memang sering berpikir bagaimana meluangkan sedikit waktu untuk melakukan kegiatan fisik di luar rumah agar lemak di badan bisa dikurangi. 

Saya pernah mencoba joging di pagi hari, tapi rasanya badan ini berat sekali untuk digerakkan, dan napas terasa sesak. Karena itu, besok paginya dan seterusnya tidak mau joging lagi.

Setelah itu, saya membeli thread mill. Alat ini saya beli dengan pertimbangan kegiatan fisik berjalan atau berlari bisa dilakukan di dalam rumah kapan saja ada waktu. Sayangnya, mirip dengan joging, kegiatan thread mill ini pun tidak berlangsung lama.:)

Selanjutnya, saya berpikir mencari olahraga yang bisa membakar lemak namun cukup santai dan menyenangkan. Alhamdulillah, di Facebook saya sering lihat status teman yang sering bersepeda. Setelah itu, saya juga tertarik untuk melakukan olahraga bersepeda. 

Alhamdulillah, sejak beli sepeda sekitar dua setengah bulan yang lalu, saya sering bersepeda di pagi hari selama satu hingga dua jam mengelilingi kampus Universitas Sumatera Utara.

Selain bersepeda di pagi hari, saya juga selalu bersepeda saat salat lima waktu ke mesjid. Ya, dengan bersepeda ke mesjid, kewajiban salat terlaksana dan lemak badan insya Allah berkurang karena melakukan gerakan fisik berulang kali setiap hari.

Satu bulan pertama sejak rajin bersepeda dan ditambah dengan diet nasi, berat badan saya mulai turun dua kilogram. Dengan diet nasi ini, saya cuma makan nasi sedikit di waktu sarapan saja. Makan siang dan malam hanya dengan sayuran dan lauk.

Mudah-mudahan saya mampu konsisten melakukan olahraga bersepeda dan diet nasi ini demi mencapai berat badan yang normal. Aamiin yra. 

Hipyan Nopri, S.Pd.
Penerjemah Hukum Inggris-Idonesia
Juga Menyediakan Jasa Penerjemahan
Dokumen Bisnis, Keuangan, Kedokteran, Kimia, dll.
Medan, Sumatera Utara

11 September 2017

Semua Orang Bisa Menjadi "Penerjemah": Benarkah?

Penerjemah adalah orang yang mengubah bahasa suatu naskah atau ucapan dari suatu bahasa sumber ke bahasa sasaran, misalnya dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia atau sebaliknya. 

Penerjemah yang mengubah bahasa suatu naskah disebut penerjemah tulisan atau translator, dan penerjemah yang mengubah bahasa suatu ucapan disebut penerjemah lisan atau interpreter. 

Untuk menjadi penerjemah, seseorang harus memiliki pengetahuan dan keahlian yang memadai sehubungan dengan bahasa sumber maupun bahasa sasaran. 

Jadi, dalam konteks penerjemah bahasa Inggris-Indonesia, seseorang harus menguasai bahasa Inggris dan juga bahasa Indonesia agar bisa menjadi penerjemah.

Untuk menjadi penerjemah tulisan, maka orang tersebut harus menguasai keahlian membaca dan keahlian menulis.

Untuk menjadi penerjemah lisan, orang harus memiliki keahlian menyimak dan berbicara.

Apakah orang yang sudah memiliki keahlian yang memadai dalam membaca, menulis, menyimak, dan berbicara ini otomatis langsung bisa jadi penerjemah? 

Jawaban atas pertanyaan ini adalah mungkin ya dan mungkin juga tidak.

Orang seperti itu bisa langsung menjadi penerjemah jika dia memiliki bakat alami penerjemah. Setelah memiliki keahlian membaca, menulis, menyimak, dan berbicara dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, orang ini bisa menerjemahkan naskah atau ucapan umum dengan relatif baik meskipun tanpa latihan dan pengalaman sebelumnya.

Sebaliknya, orang yang telah memiliki keempat keahlian berbahasa dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia namun tidak memiliki bakat alami penerjemah memerlukan latihan dan pengalaman yang cukup agar mampu menerjemahkan naskah atau ucapan umum dengan baik.

Sehubungan dengan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa menjadi penerjemah tidak bisa berlangsung seketika. Diperlukan waktu dan proses yang cukup panjang untuk benar-benar menguasai bahasa sumber dan bahasa sasaran sebelum orang bisa menjadi penerjemah.

Proses yang diperlukan tersebut berlangsung dalam hitungan tahun. Seandainya seseorang secara intensif belajar bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, paling tidak diperlukan waktu setahun untuk menguasai kedua bahasa tersebut.

Idealnya, perlu waktu setidaknya setahun untuk berlatih secara intensif menerjemahkan naskah atau ucapan pada bidang tertentu agar seseorang siap menjadi penerjemah profesional.

Jadi, paling tidak diperlukan proses belajar dan berlatih selama dua tahun untuk menjadi penerjemah di bidang tertentu.

Namun demikian, sebenarnya setiap orang bisa menjadi "penerjemah" secara instan tanpa melalui proses belajar dan berlatih yang bisa memakan waktu lebih dari dua tahun.

Ya, ada cara yang cepat untuk menjadi "penerjemah." Tentu saja, penerjemah berbeda dengan "penerjemah." 

Penerjemah harus memenuhi semua syarat di atas dan menjalani proses belajar dan berlatih. "Penerjemah" tidak perlu memenuhi semua syarat dan proses tersebut.

Dengan kata lain, "penerjemah" dalam pengertian ini adalah penerjemah semu. "Penerjemah" adalah siapa saja yang berminat bekerja sama dengan penerjemah untuk memasarkan jasa penerjemahannya. 

Sehubungan dengan hal ini, saya menawarkan reseller program atau program kerja sama pemasaran jasa penerjemahan Inggris-Indonesia.

Untuk saat ini, program ini ditujukan khusus untuk pemasaran jasa penerjemahan bahasa Inggris-Indonesia kepada para mahasiswa prasarjana (S1) dan pascasarjana (S2-S3) di seluruh Indonesia.

Siapa pun yang berminat, silakan hubungi saya melalui WA dengan nomor seperti pada brosur di bawah ini atau dengan mengklik tombol Chat via WA pada blog ini. 

Tugas Anda hanya menyebarkan dan memasang brosur ini di tempat yang sering dilihat banyak orang di lingkungan kampus prasarjana dan pascasarjana atau di blog dan situs web Anda. 

Jangan lupa mengganti nama dan nomor WA saya dengan nama dan nomor WA Anda.

Jika nanti ada orang yang perlu jasa penerjemahan, orang tersebut menghubungi Anda dan menyerahkan dokumennya kepada Anda. 

Kemudian, Anda mengirimkan dokumen tersebut ke email saya, dan saya menghitung biayanya dan kapan terjemahan selesai.

Selanjutnya, saya mengirimkan perhitungan biaya tersebut dan jadwal penyelesaian order ke email atau WA Anda, dan Anda memberitahukannya kepada calon klien serta meminta pembayaran penuh.

Setelah klien membayar, Anda mentransfer uang tersebut ke rekening bank saya setelah dipotong jatah bagi hasil untuk Anda sebesar 15% dari nilai order. 

Jika terjemahan sudah selesai, saya mengirimkannya ke email atau WA Anda, dan kemudian Anda menyerahkannya kepada klien. 

10 September 2017

Apa Padanan Bahasa Indonesia dari Challenge the Protective Order?


Konteks Naskah Sumber

Seorang editor surat kabar berniat mengajukan permohonan kepada pengadilan agar membuka dokumen rahasia tentang pencabulan terhadap anak kecil di sebuah lembaga keagamaan. Dia sadar hal itu akan mendapat tantangan besar. Tentang hal itu dia berkata:

I'd like to challenge the protective order in the
XXX case.


Pembahasan

Seorang penerjemah hukum bahasa Inggris-Indonesia harus memahami bahwa protective order (putusan perlindungan) mencakup dua hal: perlindungan korban terhadap pelaku dan perlindungan informasi penting atau sensitif sehubungan dengan suatu perkara.

Berdasarkan uraian pada naskah sumber, seorang penerjemah hukum akan menyimpulkan bahwa protective order yang dimaksud berkaitan dengan perlindungan informasi penting atau sensitif. Jika terungkap, informasi ini dapat merugikan hak pihak yang terkait dengan informasi tersebut atau mempermalukannya.

Jadi, protective order yang dikeluarkan pengadilan memang dapat menjaga nama baik pihak tersebut karena putusan ini mencegah orang untuk memperoleh informasi penting atau sensitif tersebut.

Selama protective order ini berlaku, tentu si editor tidak akan bisa mendapatkan informasi penting sehubungan dengan perkara dimaksud.

Karena itu, si editor berkepentingan untuk membatalkan protective order ini dengan melakukan challenge untuk mengungkap tuntas apa yang sebenarnya terjadi.

Dengan kata lain, si editor melakukan upaya hukum untuk mendapatkan hak memperoleh informasi.

Seorang penerjemah hukum juga harus memahami bahwa hak memperoleh informasi ini merupakan urusan perdata.

Dalam konteks hukum perdata Indonesia, upaya hukum yang menentang putusan pengadilan ini disebut perlawanan atau verzet.

Karena itu, padanan bahasa Indonesia dari 'challenge the protective order' adalah 'mengajukan perlawanan/verzet terhadap putusan perlindungan.'

Karena si editor adalah pihak ketiga dalam perkara tsb, maka upaya perlawanan ini disebut derden verzet (perlawanan pihak ketiga).

Hipyan Nopri, S.Pd.
Penerjemah Hukum Inggris-Indonesia
Juga Menyediakan Jasa Penerjemahan Dokumen
Bisnis, Keuangan, Kedokteran, Kimia, Pertanian, dll.
Medan, Sumatera Utara

09 September 2017

Apa Padanan Bahasa Indonesia dari Prothonotary?

Prothonotary adalah salah satu istilah hukum di negara yang menganut sistem hukum common law.

Sebagai penerjemah, apakah kita tergoda untuk langsung mengindonesiakannya menjadi protonotaris ataukah mencari padanan yang memang berlaku dalam sistem hukum Indonesia?

Dalam penerjemahan dokumen hukum, seorang penerjemah harus memahami sistem hukum yang berlaku di negara penulis naskah dan juga sistem hukum yang berlaku di negara pembaca sasaran.

Karena itu, seorang penerjemah tidak boleh mudah tergoda untuk melakukan pengindonesiaan istilah hukum luar negeri sebagai jalan pintas dan hemat waktu dan sumber daya.

Seorang penerjemah hukum harus melakukan riset untuk mencari padanan istilah yang cocok dalam konteks hukum yang berlaku di Indonesia.

Menurut Pasal 27 UU No. 2 tahun 1986 tentang peradilan umum, kepaniteraan dipimpin oleh seorang panitera.

Dalam melaksanakan tugasnya, panitera dibantu oleh seorang wakil panitera, beberapa orang panitera pengganti, dan beberapa orang juru sita.

Jadi, istilah yang digunakan untuk menyatakan pimpinan kepaniteraan adalah panitera, bukan ketua atau kepala panitera.

Selanjutnya, menurut definisinya:
Prothonotary = chief clerk (ketua panitera)
https://www.merriam-webster.com/dictionary/prothonotary

Secara harfiah, tentu saja kita menyimpulkan bahwa prothonotary = ketua panitera.

Namun demikian, karena dalam sistem hukum yang berlaku di Indonesia (UU No. 2 th 1986) sudah disebutkan dengan jelas bahwa istilah yang dipakai untuk menyebut pimpinan kepaniteraan adalah panitera, maka padanan istilah hukum bahasa Indonesia untuk istilah hukum bahasa Inggris prothonotary adalah panitera.

Rujukan:
Fauzan, Achmad. 2005. Peradilan Umum, Peradilan Khusus, dan Mahkamah Konstitusi. Jakarta: Kencana.


Hipyan Nopri, S.Pd.
Penerjemah Hukum Inggris-Indonesia
Juga Menyediakan Jasa Penerjemahan Dokumen
Bisnis, Keuangan, Kedokteran, Kimia, Pertanian, dll.
Medan, Sumatera Utara

03 September 2017

Padanan dari Not Necessarily: Tidak Mesti vs Belum Tentu?

Secara umum, seorang penerjemah sudah memahami bahwa mesti = tentu, dan tentu saja, tentu = mesti.

Menurut KBBI daring (onlen), mesti = pasti, tentu, tidak boleh tidak, harus. Contoh pemakaian dalam kalimat:
1. Kalau kauturuti nasihat itu, mesti tercapai maksudmu.
2. Engkau mesti berangkat sekarang kalau engkau tidak ingin terlambat menghadiri pemakaman ayahmu.

Selanjutnya, tentu = pasti, tidak berubah lagi, terang, positif, tegas, niscaya, mesti, tidak boleh tidak. Contoh penggunaan pada kalimat:
1. Tentu ia dapat menepati janjinya.
2. Kabar kenaikan pangkat suaminya masih belum tentu.
3. Minumlah obat ini, tentu penyakitmu cepat sembuh.

Dari definisi di atas terlihat bahwa pada dasarnya mesti dan tentu memiliki makna yang sama. Namun demikian, judul artikel ini membandingkan atau mempertentangkan 'tidak mesti' dan 'belum tentu.' Hal ini menyiratkan bahwa terdapat perbedaan makna di antara keduanya.

Ya, memang benar. Meskipun pada hakikatnya tentu dan mesti mempunyai pengertian yang sama, kedua frasa ini sebenarnya memiliki nuansa makna tergantung pada konteks pemakaiannya.

Sebelum melakukan eksperimen pertukaran menggunakan kalimat, nuansa makna tersebut tidak terlihat jelas. Meskipun demikian, mari kita lakukan eksperimen pertukaran berikut:

1. Kalau kauturuti nasihat itu, mesti tercapai maksudmu.
Sekarang kita ganti kata mesti dengan tentu, maka kalimatnya menjadi:

1.a. Kalau kauturuti nasihat itu, tentu tercapai maksudmu.
Pertukaran ini tidak mengubah makna. Mesti pada 1. sama saja maknanya dengan tentu 1.1a., yaitu pasti.

Selanjutnya, marti kita lihat kalimat berikut.
2. Engkau mesti berangkat sekarang kalau engkau tidak ingin terlambat menghadiri pemakaman ayahmu.

Lalu kita ganti mesti dengan tentu:
2.a. Engkau tentu berangkat sekarang kalau engkau tidak ingin terlambat menghadiri pemakaman ayahmu.

Mari kita bandingkan pengertian kedua kata tersebut pada kedua kalimat di atas. Pada 2., mesti = harus. Pada 2.a., tentu = pasti. Pada 2., mesti mengandung makna kewajiban, sedangkan pada 2.a., tentu tidak bermakna kewajiban tapi kepastian. Inilah nuansa maknanya.

Dengan kata lain, mesti dan tentu mengandung perbedaan makna walaupun kecil.

Sekarang mari kita kembali ke leptop: apa padanan bahasa Indonesia dari 'not necessarily' ? Apakah 'tidak mesti' ataukah 'belum tentu'?

Jawabannya tentu tergantung pada konteks pemakaiannya. 'Not necessarily' bisa bermakna 'tidak mesti' atau 'belum tentu' bergantung pada pemakaiannya dalam kalimat.

Sekarang mari kita lihat naskah sumber sebagai berikut:
The parties should be aware that the mediation process may not necessarily interrupt time limits.

Jika diterjemahkan:
1. Para pihak harus menyadari bahwa proses mediasi tidak mesti mengundurkan batas waktu.

2. Para pihak harus menyadari bahwa proses mediasi belum tentu mengundurkan batas waktu.

Pada kedua kalimat di atas, mesti dan tentu sama-sama mengandung makna kepastian, bukan kewajiban. Mengapa keduanya tidak mengandung makna kewajiban? Karena kewajiban hanya berlaku pada manusia, bukan pada benda. Faktanya, proses mediasi = benda, bukan manusia.

Karena itu, 'tidak mesti' dan 'belum tentu' sama-sama dapat digunakan untuk kalimat di atas.

Hipyan Nopri, S.Pd.
Penerjemah Hukum Inggris-Indonesia
Juga Menyediakan Jasa Penerjemahan Dokumen
Bisnis, Keuangan, Kedokteran, Kimia, dll.
Medan, Sumatera Utara