Google
 

22 February 2008

Kasus Tuduhan Salah-Terjemah Buku Menkes vs Undang-undang Penerjemahan

Rekan penerjemah,

Kasus terbaru mengenai penarikan buku tulisan Menkes Siti Fadilah Supari versi bahasa Inggris dengan dalih kesalahan penerjemahan jelas sekali membuktikan bahwa penerjemahan tidak hanya bisa menimbulkan konsekuensi akadmis tapi juga finansial dan politis.

Dalam sebuah wawancara mengenai penarikan buku tsb, si Menteri dengan tegas menuduh bahwa penerjemah telah melakukan kesalahan besar, dan karena itulah bukunya ditarik dari peredaran.

Dari pernyataan ini timbul pertanyaan,
1. Apakah memang benar terdapat kesalahan penerjemahan?
2. Sejauh mana kadar kesalahan penerjemahan tersebut?
3. Apakah klien (Menkes & stafnya) sudah memeriksa buku terjemahan tsb sebelum diterbitkan?
4. Apakah klien sudah menggunakan jasa penyunting (editor) untuk memeriksa hasil kerja penerjemah sebelum memutuskan versi akhir terjemahan tsb sebelum diterbitkan?
5. Apa konsekuensi dari tuduhan kesalahan penerjemahan tsb bagi penerjemah bersangkutan?
6. Apa konsekuensi dari tuduhan kesalahan penerjemahan tsb bagi profesi penerjemahan secara keseluruhan?

Pertanyaan 1 dan 2 belum bisa dijawab karena kita belum mendapatkan buku versi bahasa Indonesia dan Inggrisnya. Karena itu, belum bisa disimpulkan apakah penerjemah ataukah Menkes yg salah.

Pertanyaan 3 dan 4 sudah terjawab dari wawancara wartawan Detik dg Menkes. Di sana dikatakan bahwa Menkes tidak pernah membaca terjemahan tsb.

Pertanyaan 5 belum bisa dijawab karena belum jelas apakah akan ada langkah lebih lanjut yg bakal dilakukan pihak Menkes terhadap si penerjemah, kalau memang benar si penerjemah salah.

Namun demikian, seandainya penerjemah buku tsb melakukan penerjemahan dg baik dan benar, dia mungkin akan melakukan gugatan hukum terhadap Menkes karena telah melakukan pencemaran nama baik. Kalau ini berhasil, namanya akan langsung terkenal, dan dia juga mungkin bakal kebanjiran order. :)

Pertanyaan 6 berkaitan dengan citra profesi penerjemahan secara umum di mata masyarakat pengguna dan calon pengguna jasa penerjemahan. Konsekuensi positifnya, profesi penerjemahan akan semakin dikenal masyarakat sehubungan dengan fakta bahwa kasus ini cukup menghebohkan karena melibatkan orang penting dan berpengaruh di
Indonesia (Menkes dan Presiden) serta tanggapan ramai dari luar negeri.

Konsekuensi negatifnya, kasus ini akan menimbulkan citra negatif profesi penerjemahan di mata masyarakat. Masyarakat bisa beranggapan bahwa: 1) penerjemah melakukan penerjemahan asal-asalan; 2) setiap orang bisa dengan mudah menjadi penerjemah; 3) tidak ada tanggung jawab dan profesionalisme dalam profesi penerjemahan; 4) penerjemah tidak layak dibayar dengan tarif yang memadai; 5) profesi penerjemah
adalah profesi murahan; 6) tidak ada usaha pelatihan, pengembangan, dan pemantauan oleh himpunan penerjemah Indonesia; dan 7) tidak ada himpunan penerjemah di Indonesia. :'-(

Bagaimana mencegah dan menghilangkan kemungkinan persepsi negatif ini?

Bertolak dari kasus ini, sekarang sudah saatnya kita baik yang sudah bergabung dalam Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI) maupun belum untuk segera mencurahkan pikiran dan tenaga kita dalam membuat Rancangan Undang-undang Penerjemahan demi: 1) menjamin kebenaran informasi dan kelancaran komunikasi antara penulis teks sumber dan pembaca teks hasil terjemahan; 2)menjamin mutu hasil kerja para penerjemah; 3) melindungi para penerjemah dari berbagai konsekunesi negatif yg mungkin dihadapi; 4) menjaga dan meningkatkan citra positif dan profesionalisme dalam profesi penerjemahan; dan 5) memperkuat posisi tawar penerjemah dalam menghadapi klien.

Untuk menyusun RUUP ini para anggota Himpunan Penerjemah Indonesia, Bahtera, dan ProZ.com bisa bekerja sama mengumpulkan berbagai gagasan yang mungkin perlu dimasukkan dalam RUUP tsb. Sebagai lembaga resmi, HPI sebaiknya memainkan peran utama dalam usaha ini.

Setelah terkumpul berbagai gagasan baik dari para penerjemah, biro penerjemah, pakar hukum, lembaga swasta/pemerintah pengguna jasa penerjemahan, dan himpunan penerjemah luar negeri, Himpunan Penerjemah Indonesia dapat meminta bantuan pakar hukum untuk menyusun gagasan-gagasan tsb ke dalam sebuah RUUP.

Pada bagian pembukaan RUUP itu nanti diuraikan latar belakang yg lengkap, terperinci, dan meyakinkan mengenai perlunya pengesahan RUUP tsb ditinjau dari aspek akademis, ekonomis, politis, sosial, dan budaya.

Setelah itu, RUUP ini dibahas dulu di kalangan penerjemah dengan melibatkan para praktisi hukum dan pakar hukum. Kalau semuanya dirasa sudah memadai, RUUP tsb diajukan ke Depdiknas dan kemudian ke DPR untuk pengundangannya. Jadi, dalam hal ini kita sebagai bagian dari masyarakat melakukan langkah proaktif dalam pembuatan undang-undang.

Seandainya RUUP ini bisa diwujudkan dan kemudian disahkan menjadi UUP, kita para penerjemah tidak akan ragu lagi dalam menjalankan profesi penerjemahan.

Bagaimana rekan penerjemah? Apakah Anda punya ide yang dapat disumbangkan? Saya sendiri sudah punya beberapa ide yg mungkin bermanfaat bagi kita semua.

Mari kita berlomba menyumbang pikiran kita demi terwujudnya UUP.

12 February 2008

10 Panduan dalam Mencari Penerjemah

Bagi orang yang kurang mengerti seluk-beluk kebahasaan, mencari penerjemah mungkin cukup merepotkan. Anda mungkin belum atau kurang mengenal profesi penerjemah karena di sekitar Anda jarang terdengar keberadaan seorang penerjemah, atau Anda jarang mendengar, melihat, atau membaca berita mengenai penerjemah. 

Karena itu, Anda mungkin mengalami kesulitan dalam mencari seorang penerjemah. Anda mungkin juga kesulitan untuk menentukan mana penerjemah yang benar-benar berkualitas, profesional, dan dapat dipercaya.

Untuk membantu Anda mengurangi atau bahkan menghilangkan kerepotan tersebut, berikut ini saya sajikan beberapa panduan yang perlu Anda pertimbangkan dalam mencari penerjemah yang andal dan dapat membantu Anda mendapatkan terjemahan yang akurat, menyeluruh, dan dapat dipahami.

Yang pertama perlu Anda ketahui adalah definisi penerjemah. Penerjemah (translator) berbeda dengan juru bahasa (interpreter). Penerjemah menerjemahkan tulisan, sedangkan juru bahasa menerjemahkan lisan (ucapan).

Yang kedua, penerjemah dan juru bahasa dapat dicari di Internet, Buku Petunjuk Telepon Halaman Kuning, iklan koran dan majalah, atau brosur jasa penerjemahan. Dengan menggunakan mesin pencari Google atau Yahoo, Anda tinggal mengetikkan kata kunci penerjemah onlen inggris-indonesia atau penerjemah/penterjemah onlen, untuk mendapatkan penerjemah yang Anda cari. Agar pencarian Anda memberikan hasil yang lebih relevan, ketikkan kata kunci tersebut di dalam tanda kutip (misalnya, "penerjemah onlen inggris-indonesia"). 

Selain menggunakan mesin pencari Google dan Yahoo, Anda juga bisa mencari penerjemah di koran dan majalah, Anda dapat mencari iklan baris atau iklan kolom yang menampilkan jasa penerjemahan. Begitu pula, Anda juga bisa mencari penerjemah melalui brosur jasa penerjemahan yang sering dipasang di tempat-tempat foto kopi dan papan pengumuman kampus. Namun demikian, dari semua media tersebut, media pencarian yang paling efektif dan efisien adalah media onlen (Internet).

Yang ketiga, untuk menghemat biaya, tentukan bagian dari dokumen yang memang perlu diterjemahkan. Pastikan apakah Anda perlu menerjemahkan seluruhnya atau sebagian tertentu saja.

Yang keempat, tarif jasa penerjemahan sangat bervariasi antar penerjemah. Ini sangat berbeda dengan tarif berbagai kebutuhan pokok masyarakat, yang relatif sama dan dapat dikendalikan oleh pemerintah. Setiap penerjemah bebas menentukan sendiri tarif jasa penerjemahan yang dianggapnya layak. Walaupun tarif yang tinggi belum tentu menjamin kualitas yang tinggi, namun perlu diingat bahwa di bawah tarif tertentu Anda tidak mungkin mendapatkan terjemahan yang bermutu. 

Harus diingat bahwa penerjemah profesional menginvestasikan pikiran, dana, waktu, dan tenaga yang tidak sedikit untuk melakukan riset onlen maupun oflen, membeli Kamus Besar Bahasa Indonesia, kamus khusus berbagai bidang, membeli dan mempelajari buku referensi khusus berbagai bidang, membeli perangkat keras dan perangkat lunak komputer untuk mendukung pekerjaannya, dan berlangganan Internet agar dapat memasarkan jasa penerjemahannya secara onlen kepada calon klien di seluruh Indonesia dan bahkan di seluruh dunia. 

Sebagai perbandingan, harga berbagai produk elektronik bajakan memang jauh lebih murah daripada produk elektronik asli. Namun demikian, harus diingat bahwa kualitas produk yang murah tsb sangat jauh lebih rendah daripada produk elektronik asli. Karena itu, untuk membantu Anda mendapatkan gambaran umum mengenai tarif jasa penerjemahan nasional, silakan lihat tarif acuan jasa penerjemahan yang dikeluarkan Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI).

Yang kelima, jelaskan kepada penerjemah siapa orang yang akan membaca terjemahan tersebut - diri Anda sendiri, masyarakat umum, kalangan intelektual, relasi bisnis, penegak hukum, dll. Penerjemah akan menyesuaikan pilihan kata yang digunakannya agar dapat dipahami oleh pembaca sasaran. Misalnya, istilah teknis kedokteran cocok digunakan bila pembaca sasaran adalah para mahasiswa dan profesional kedokteran. Sebaliknya, bila pembaca sasarannya orang awam, maka penerjemah akan memilih istilah yang seumum mungkin.

Yang keenam, berbicara tidak sama dengan menerjemah. Kelancaran berbicara tidak menjamin kelancaran menerjemah. Karena itu, jangan tergoda untuk menerjemahkan sendiri teks Anda. Meskipun Anda lancar berbicara dalam bahasa Inggris, belum tentu Anda mampu menerjemahkan dokumen berbahasa Inggris ke bahasa Indonesia dengan baik.

Yang ketujuh, sedapat mungkin, jangan pernah menggunakan perangkat lunak (software) penerjemahan. Terjemahan yang dihasilkan program komputer sangat tidak akurat dan karena itu memerlukan penyuntingan (editing) penerjemah manusia (human translator). Namun demikian, penerjemah umumnya tidak mau menyunting terjemahan hasil kerja program komputer karena lebih cepat menerjemah dari nol daripada menyunting terjemahan program komputer yang penuh dengan kesalahan pilihan kata dan tata bahasa.

Yang kedelapan, mintalah bantuan penerjemah yang andal, profesional, dan berpengalaman. Jangan pernah meminta bantuan mahasiswa, guru, atau dosen bahasa asing untuk menerjemahkan dokumen Anda karena pertimbangan penghematan biaya. Kemampuan mengajar bahasa tidak menjamin kemampuan menerjemah. Penguasaan tata bahasa saja tidak cukup untuk menjadi penerjemah. Untuk menjadi penerjemah yang andal diperlukan penguasaan tata bahasa, kosa kata berbagai bidang, latihan intensif, dan pengalaman panjang dan berkelanjutan.

Dengan kata lain, untuk menerjemahkan dokumen Anda, baik untuk keperluan internal apalagi untuk keperluan eksternal (publikasi) dan bisnis, mintalah bantuan ahlinya, yaitu penerjemah profesional. Sebagai perbandingan, apakah Anda mau dioperasi oleh mahasiswa kedokteran ketimbang oleh dokter demi menghemat uang?

Yang kesembilan, sebagai kaidah umum, penerjemah profesional menerjemahkan dokumen dari bahasa asing ke bahasa natif (asli)-nya. Sebagai contoh, sebagai penerjemah dan warga negara Indonesia, saya menerjemahkan dokumen dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Namun demikian, mengingat tarif penerjemahan internasional yang sangat mahal (+/-Rp360.000 per halaman standar 300 kata) untuk ukuran kita orang Indonesia, penerjemah Indonesia sering juga menerjemahkan dokumen dari bahasa Indonesia ke bahasa asing. 

Walaupun demikian, Anda sebagai pengguna jasa penerjemahan harus terlebih dahulu berusaha mendapatkan informasi yang lengkap mengenai diri penerjemah tsb, contoh terjemahannya, dan referensinya, agar Anda yakin bahwa penerjemah tsb memang mampu menerjemahkan dokumen dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya dengan baik.

Yang terakhir, Anda harus mempertimbangkan dengan matang semua aspek di atas sebelum membuat keputusan akhir menentukan penerjemah pilihan Anda. Harus diingat bahwa suatu terjemahan bisa menimbulkan konsekuensi akademis, finansial, legal, dan politis, tergantung pada jenis dokumen yang diterjemahkan dan kegunaan dokumen terjemahan tersebut. 

Apakah konsekuensi tersebut berkaitan dengan aspek akademis, finansial, legal atau pun politis, tentu saja yang Anda harapkan adalah konsekuensi positif. Karena itu, untuk mendapatkan konsekuensi yang positif, lakukan usaha pencarian dan riset yang optimal untuk mendapatkan penerjemah yang profesional dan andal.

Semoga bermanfaat.

Sumber:
1. Pemikiran dan pengalaman pribadi saya sebagai penerjemah.
2. Panduan Mencari Penerjemah Himpunan Penerjemah Amerika (American Translators Association's Guide to Find a Translator)
http://www.atanet.org/docs/Getting_it_right.pdf


Hipyan Nopri, S.Pd.
Penerjemah Hukum Inggris-Indonesia
Juga Menyediakan Jasa Penerjemahan Dokumen
Bisnis/Keuangan, Kedokteran, Kimia, Agrobisnis, dll.
Medan, Sumatera Utara

Mau Order? Klik Tautan Ini.