Google
 

29 August 2007

Diskriminasi Tarif vs Diskriminasi Mutu Terjemahan?

Di telinga masyarakat umum, istilah diskriminasi mungkin mengandung konotasi negatif. Masyarakat sering mendengar istilah diskriminasi gender - karyawan laki-laki biasanya diberi gaji yang lebih besar daripada karyawan perempuan, orang tua cenderung lebih mengutamakan anak laki-laki untuk melanjutkan studi sampai perguruan tinggi, masyarakat lebih menghargai dan menghormati orang kaya daripada orang miskin, dll.

Dalam konteks di atas, istilah tersebut memang mengandung makna negatif. Namun demikian, bila dilihat dari maknanya, diskriminasi berarti pembedaan. Sama sekali tidak ada kesan negatif dari makna istilah tersebut. Karena itu, negatifitas atau positifitas istilah tersebut ditentukan oleh konteks pemakaian istilah tersebut.

Misalnya, dalam konteks sistem rangkaian pengaman listrik, istilah diskriminasi mengandung makna positif. Sistem rangkaian pengaman listrik yang baik harus mampu mendiskriminasi antara arus beban lebih (overload) dan arus start (yang besarnya bisa mencapai 2,5 kali arus nominal).

Kalau tidak ada diskriminasi, orang tidak akan pernah bisa menghidupkan perangkat komputer, kulkas, pendingin ruangan, dan alat-alat listrik rumah tangga lainnya karena pada saat perkakas ini dihidupkan sistem rangkaian pengaman listriknya langsung memutus aliran listrik. Tentu saja, hal ini sangat merugikan.

Seharusnya, sistem rangkaian pengaman tersebut hanya memutus aliran listrik apabila terjadi beban lebih atau bila terjadi hubung singkat. Dengan demikian, dalam konteks ini diskriminasi merupakan suatu keharusan.

Sekarang mari kita masuk ke dua konteks pemakaian istilah diskriminasi lainnya - diskriminasi tarif jasa penerjemahan dan diskriminasi mutu terjemahan. Mana yang berkonotasi positif dan mana yang negatif?

Sebagai penerjemah profesional, saya dengan yakin menyatakan bahwa yang pertama positif dan yang kedua negatif. Sehubungan dengan diskriminasi tarif jasa penerjemahan, saya membagi tarif menurut wilayah klien - lokal, nasional, dan internasional. Tentu saja, tarif nasional lebih tinggi daripada tarif lokal, dan tarif internasional juga lebih tinggi daripada tarif nasional.

Diskriminasi tarif ini didasarkan pada dua pemikiran logis - perbedaan daya beli dan faktor risiko bagi penerjemah. Secara umum, klien lokal mempunyai daya beli yang lebih rendah daripada klien nasional. Begitu pula, klien nasional mempunyai daya beli yang lebih rendah daripada klien internasional.

Selanjutnya, faktor risiko bagi penerjemah merujuk pada kemungkinan klien tidak membayar jasa penerjemahan. Untuk klien lokal, faktor ini sangat kecil atau boleh dikatakan nol karena klien biasanya langsung datang ke rumah memberikan order dan segera membayar lunas biaya jasa penerjemahan atau membayar panjar separuh dari nilai total biaya penerjemahan jika nilainya besar. Selain itu, klien lokal tentu saja bertempat tinggal di lokasi yang dekat dengan penerjemah. Karena itu, jika terjadi kemacetan pembayaran, biaya transportasi yang diperlukan penerjemah untuk menemui klien bermasalah tersebut relatif kecil.

Untuk klien nasional, faktor ini lebih besar daripada klien lokal karena transaksi umumnya dilakukan secara onlen, dan klien tinggal di tempat yang jauh dari penerjemah. Bila klien tidak membayar jasa penerjemahan sesuai waktu yang disepakati, tentu diperlukan biaya yang relatif besar bagi penerjemah untuk menemuinya.

Begitu pula dengan klien internasional. Transaksi antara penerjemah dan klien hanya dilakukan secara onlen, dan jarak tempat tinggal di antara keduanya sangat jauh. Seandainya terjadi masalah dalam hal pembayaran, biaya yang diperlukan untuk mengatasi masalah ini tentu jauh lebih besar dibandingkan dengan biaya yang diperlukan apabila terjadi masalah pembayaran dari klien lokal dan nasional.

Konteks yang kedua adalah diskriminasi mutu terjemahan. Ini jelas mengandung makna negatif. Sebagaimana telah saya paparkan dalam posting sebelumnya mengenai kode etik penerjemah, seorang penerjemah tidak boleh melakukan diskriminasi mutu terjemahan. Jadi, apakah order yang saya terima berasal dari klien lokal, nasional, ataupun internasional, saya akan selalu berusaha menghasilkan terjemahan dengan mutu setinggi mungkin.

Seorang penerjemah tidak boleh melakukan penerjemahan yang asal-asalan karena ordernya berasal dari klien lokal dan tarifnya jauh lebih murah daripada order dari klien nasional. Begitu pula, seorang penerjemah tidak melakukan penerjemahan dengan kualitas sedang-sedang saja karena order penerjemannya berasal dari klien nasional, yang tarifnya lebih murah daripada klien internasional. Dari mana pun order terjemahan tersebut berasal dan berapa pun tarif dan biaya total yang telah disepakati antara penerjemah dan kliennya, penerjemah bersangkutan harus melakukan usaha terbaiknya untuk mendapatkan hasil terjemahan yang benar dan akurat.

Kesimpulannya, diskriminasi tidak selalu berkonotasi negatif. Positifitas ataupun negatifitas makna istilah tersebut ditentukan oleh konteks pemakaiannya. Selain itu, diskriminasi tarif jasa penerjemahan adalah hal yang dapat diterima, sedangkan diskriminasi mutu terjemahan jelas merupakan hal yang harus dihindarkan.

Hipyan Nopri, S.Pd.
Penerjemah Dokumen Hukum Inggris-Indonesia
Juga Menyediakan Jasa Penerjemahan bidang
Bisnis/Keuangan, Kedokteran, Kimia, Agrobisnis, dll.
Medan, Sumatera Utara

27 August 2007

Apa Itu Penerjemah Penuh Waktu & Paruh Waktu?

Kita sering mendengar istilah penerjemah paruh waktu (part-time) dan penerjemah penuh waktu (full-time). Namun demikian, kalau ditanya apa yang dimaksud dengan penerjemah paruh waktu, penerjemah penuh waktu, dan perbedaan di antara keduanya, kita mungkin bingung menjawabnya.

Mungkinkah penerjemah paruh waktu adalah penerjemah yang separuh waktunya digunakan untuk menerjemah dan separuh lagi untuk melakukan pekerjaan lainnya? Mungkinkah penerjemah penuh waktu adalah penerjemah yang sepenuh waktu memusatkan perhatiannya pada kegiatan penerjemahan?

Kalau memang benar, apa yang dimaksud dengan paruh waktu dan penuh waktu itu? Apakah penerjemah paruh waktu adalah penerjemah yang melakukan kegiatan penerjemahan setengah hari saja, dan penerjemah penuh waktu adalah penerjemah yang menekuni usaha penerjemahan sehari penuh?

Dari hasil perbincangan saya dengan rekan-rekan penerjemah luar negeri dapat dirangkum pengertian sebagai berikut. Seorang penerjemah dapat dikatakan sebagai penerjemah penuh waktu apabila: (1) dia menjadikan penerjemahan sebagai pekerjaan atau profesi intinya; (2) dia bekerja paling tidak lima hari dalam seminggu (biasanya Senin sampai Jum'at); dan (3) dia bekerja setidaknya delapan jam dalam sehari.

Dengan ketiga kriteria ini, penerjemah yang tidak memenuhi salah satu kriteria di atas dapat dikategorikan sebagai penerjemah paruh waktu.

Sebagai perbandingan, saya sendiri menjadikan penerjemahan sebagai bisnis inti saya. Dengan kata lain, satu-satunya profesi saya adalah penerjemah. Selain itu, saya siaga di depan komputer dan selalu online tujuh hari dalam seminggu.

Kalau sedang ada order, tentu saja saya sibuk melakukan kegiatan penerjemahan. Sebaliknya, kalau sedang tidak ada order, saya tetap sibuk melakukan kegiatan yang ada kaitannya dengan bisnis penerjemahan saya - memperbarui atau memperbaiki profil di ProZ.com, membuat tulisan untuk blog ini, ikut serta di forum Bahtera, dan menjelajahi dunia maya untuk mencari klien baru.

Yang terakhir, sehubungan dengan jam kerja per hari, saya biasanya siaga di depan komputer dan onlen mulai dari jam 4 atau 5 pagi sampai jam 9 malam. Dengan demikian, saya termasuk penerjemah penuh waktu.

Hipyan Nopri, S.Pd.
Penerjemah Dokumen Hukum Inggris-Indonesia
Juga Menyediakan Jasa Penerjemahan Dokumen
Bisnis/Keuangan, Kedokteran, Kimia, Agrobisnis, dll.
Medan, Sumatera Utara

17 August 2007

8 Kode Etik Penerjemah

Berikut ini adalah beberapa prinsip umum yang berperan sebagai kode etik penerjemah:

1. Profesionalitas
Seorang penerjemah harus bersikap sopan dan ramah kepada klien, menjelaskan perannya kepada klien, mempertahankan makna yang terkandung dalam teks sumber, menyelesaikan dan mengirimkan hasil kerjanya tepat waktu.

2. Kerahasiaan (Konfidensialitas)
Seorang penerjemah tidak boleh mempublikasikan informasi yang diperolehnya selama pengerjaan order penerjemahan tanpa izin klien.

3. Kompetensi
Seorang penerjemah tidak boleh menerima order penerjemahan yang tidak mampu dia kerjakan dengan kualitas terbaik.

4. Imparsialitas
Seorang penerjemah harus bersikap objektif dalam setiap kontrak penerjemahan.

5. Akurasi
Seorang penerjemah harus berusaha melakukan penerjemahan seakurat mungkin dengan mempertahankan makna dan gaya bahasa teks sumber.

6. Kualitas
Seorang penerjemah harus selalu berusaha menghasilkan terjemahan terbaik.

7. Pengembangan Profesi
Seorang penerjemah harus terus mengembangkan pengetahuan dan keterampilannya dan selalu mengevaluasi dan memperbaiki kinerjanya.

8. Solidaritas Profesi
Penerjemah harus saling menghormati dan menghargai di antara rekan-rekan seprofesi.

Semoga bermanfaat baik bagi penerjemah maupun pengguna jasa penerjemahan.

Hipyan Nopri, S.Pd.
Penerjemah Hukum Inggris-Indonesia
Juga Menyediakan Jasa Penerjemahan Dokumen
Bisnis/Keuangan, Kedokteran, Kimia, Agrobisnis, dll.
Medan, Sumatera Utara

16 August 2007

Penerjemah dan KTP

Ini adalah sebuah cerita ringan saya sebagai penerjemah onlen ketika mengurus KTP di kelurahan. Sebagaimana biasa, petugas mengajukan beberapa pertanyaan berkaitan dengan data pribadi saya seperti nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, alamat, agama, dan status perkawinan. Untuk semua pertanyaan ini, tidak ada persoalan sama sekali.

Yang sedikit bermasalah adalah ketika petugas menanyakan pekerjaan saya. Waktu ditanya apa pekerjaan saya, saya menjawab 'penerjemah.' Si petugas nampaknya tidak kenal dengan profesi ini dan bertanya apa yang dilakukan seorang penerjemah.

Secara sederhana saya jelaskan bahwa penerjemah itu adalah orang yang mengubah suatu teks dari teks berbahasa Inggris ke bahasa Indonesia atau sebaliknya.

Si petugas nampaknya paham dengan penjelasan saya tapi dari kerut kening dan ekspresi wajahnya terlihat bahwa dia masih agak bingung dan ragu. Katanya, selama ini dia belum pernah mendengar ada orang yang bekerja sebagai penerjemah.

Saya kembali menjelaskan, kalau di Padang memang profesi ini masih sangat langka tapi di Jakarta dan kota-kota besar lainnya sudah cukup banyak orang yang bekerja sebagai penerjemah.

Kemudian, si petugas kembali bertanya di mana saya berkantor. Sebagai penerjemah bebas (freelance translator), saya jelaskan bahwa saya bekerja di rumah.

Jawaban saya ini nampaknya membuat si petugas kembali heran. Mungkin dalam pikirannya ia bertanya 'Kok ada orang yang bekerja di rumah?' Karena itulah, kemudian dia bertanya bagaimana cara kerjanya.

Saya kembali menjelaskan bahwa sebagai penerjemah onlen, saya bekerja di rumah dan memasarkan jasa penerjemahan saya melalui Internet.

Si petugas kemudian terlihat manggut-manggut. Saya tidak tahu apakah penjelasan saya yang terakhir membuat dia semakin paham atau justru semakin bingung mengenai pekerjaan saya sebagai penerjemah.

Ternyata, si petugas menganjurkan supaya pada bagian pekerjaan ditulis saja 'wiraswasta.' Usulan ini langsung saya tolak dengan menjelaskan bahwa istilah 'wiraswasta' itu terlalu umum. Pedagang sayuran di pasar, orang yang buka warung, tukang ojek, dan juragan jengkol, semuanya termasuk pelaku wiraswasta.

Kalau istilah ini yang dipakai, pekerjaan saya sebagai penerjemah jadi kabur dan profesi ini jadi semakin tidak dikenal masyarakat. Selain itu, saya bangga dengan apa yang saya lakukan - menjadi penerjemah onlen. Saya tidak mau menutupi atau menyamarkan apa pekerjaan saya.

Karena itu, saya tetap berkeras meminta si petugas untuk menuliskan 'penerjemah' pada bagian pekerjaan di KTP. Apa gunanya mengaburkan pekerjaan saya? Ini kan pekerjaan yang baik dan halal.

Akhirnya, si petugas menyerah dan menuliskan 'penerjemah' di KTP saya. Saya tidak percaya begitu saja dan melihat apa yang dia tulis. Ternyata memang benar, kata 'penerjemah' sudah diketik di bagian pekerjaan pada KTP.


Hipyan Nopri, S.Pd.
Penerjemah Dokumen Hukum Inggris-Indonesia
Juga Menyediakan Jasa Penerjemahan Dokumen
Bisnis/Keuangan, Kedokteran, Kimia, Agrobisnis, dll.
Medan, Sumatera Utara

Apa Suka Duka Penerjemah Onlen?

Berbeda dengan profesi lain seperti dokter, pengacara, akuntan, notaris, dll., profesi penerjemah pada umumnya dan penerjemah onlen pada khususnya belum begitu dikenal masyarakat. Hal ini mungkin disebabkan oleh dua faktor utama - program pendidikan yang tersedia dan keberadaan penerjemah itu sendiri.

Dalam hal program pendidikan, belum ada program pendidikan penerjemah di Indonesia. Sebaliknya program pendidikan dokter, pengacara, akuntan, dan notaris, tersedia hampir di semua perguruan tinggi.

Sehubungan dengan keberadaan penerjemah itu sendiri, jumlah penerjemah di Indonesia masih sangat terbatas. Kalau di Jakarta, Bandung, dan Surabaya, jumlah penerjemah mungkin cukup banyak, tapi di daerah-daerah di luar ketiga kota ini masih sangat terbatas.

Tentu saja, penerjemah yang dimaksud di sini adalah penerjemah profesional atau penuh-waktu (full-time), yaitu penerjemah yang menekuni bidang penerjemahan sebagai bisnis intinya, bukan penerjemah sambilan atau part-time, yang menekuni bidang selain penerjemahan sebagai bisnis intinya dan melakukan kegiatan penerjemahan hanya sebagai kegiatan tambahan.

Jadi, tidak mengherankan bila masyarakat tidak begitu mengenal profesi penerjemah onlen.

Karena itu, sebagai salah satu cara mempromosikan profesi penerjemah onlen, saya mempublikasikan gagasan dan pengalaman saya sebagai penerjemah onlen Inggris-Indonesia melalui blog ini.

Sebagai penerjemah onlen, saya tidak harus tergesa-gesa bangun pagi dan bergegas berangkat ke kantor supaya tidak terlambat dan kena tegur atasan. Semua order penerjemahan yang masuk dikerjakan dari jam 9 pagi sampai jam 9 malam. Tujuh hari dalam seminggu saya siaga di depan komputer.

Selain itu, sebagai penerjemah onlen, saya berperan ganda sebagai bos sekaligus karyawan. Dengan kata lain saya bekerja sendiri, tanpa atasan atau bawahan. Karena itu, saya bisa mengatur sendiri jam kerja dan cara kerja saya.

Selanjutnya, penerjemah onlen bebas menentukan sendiri berapa besar penghasilan yang ingin didapatkannya. Karena penerjemah onlen adalah penerjemah bebas (frilans) yang tidak terikat pada lembaga tertentu, penerjemah onlen bebas menentukan sendiri tarif yang diinginkannya.

Sebagai penerjemah onlen, saya menetapkan tarif penerjemahan lokal Rp37,5 per kata teks sumber. Dengan halaman standar 300 kata, tarif ini setara dengan Rp7.500 per halaman hasil terjemahan. Untuk jasa penerjemahan nasional, saya mematok tarif Rp125 per kata teks sumber atau setara dengan Rp37.500 per halaman hasil terjemahan. Untuk tarif penerjemahan internasional, saya memasang tarif US$0.12 per kata teks sumber, sedangkan untuk penyuntingan (editing) tarif saya US$40 per jam per 1000 kata.

Sebagai tambahan, penerjemah onlen juga mempunyai jangkauan pasar yang tidak terbatas. Dengan adanya Internet, penerjemah onlen bisa membuat situs untuk mempromosikan jasa penerjemahannya. Situs ini bisa dilihat oleh siapa pun, di mana pun, dan kapan pun. Karena itulah, saya bisa mendapatkan order penerjemahan dari Jakarta, Semarang, Bali, dan Medan, dan bahkan dari Inggris, Perancis, Latvia, Amerika Serikat, Australia, dan Malaysia.

Namun demikian, selain cerita suka di atas, ada juga cerita duka sebagai penerjemah onlen. Yang pertama adalah order penerjemahan itu tidak datang setiap hari, setiap minggu, atau setiap bulan. Ada kalanya hari ini masuk order, besok tidak ada order; minggu ini masuk order, minggu besok kosong; bulan ini dapat order, bulan depan tidak ada satu order pun.

Yang kedua adalah kesulitan dalam mengatur waktu kerja, tidur, sosialisasi, penyegaran, dan olah raga. Kalau di Padang jam 3 sore, di Eropa pada umumnya jam kantor baru dimulai. Kalau di Padang jam 9 malam, di Amerika Serikat pada umumnya jam kantor baru dimulai. Karena itu, untuk bersiaga menghadapi kemungkinan tawaran order penerjemahan dari Eropa dan Amerika, saya harus siaga dari jam 3 sore sampai jam 12 malam, dan sering juga sampai jam 3 subuh.

Selain itu, karena kapan order masuk tidak bisa diperkirakan, penerjemah onlen harus selalu siaga di depan komputernya. Dengan demikian, saya jarang sekali keluar rumah atau ngobrol panjang lebar dengan teman-teman melalui telepon. Begitu juga, karena jarang bisa berolah raga, badan juga semakin melar.

Yang terakhir, karena masyarakat belum begitu mengenal profesi ini, apresiasi masyarat terhadap profesi penerjemah masih kurang. Kalau bertemu dengan teman-teman lama atau mantan tetangga, mereka sering bertanya 'Di mana kerja, Hipyan?' dan saya biasanya menjawab 'Di rumah.'

Mendengar jawaban ini, mereka biasanya tersenyum heran dan tidak melanjutkan dengan pertanyaan lain karena mungkin yang ada dalam pikiran mereka adalah 'Kalau di rumah berarti tidak punya kerja alias nganggur.'

Inilah sedikit cerita saya mengenai suka dan duka sebagai penerjemah onlen. Semoga bermanfaat.


Hipyan Nopri, S.Pd.
Penerjemah Dokumen Hukum Inggris-Indonesia
Juga Menyediakan Jasa Penerjemahan Dokumen
Bisnis/Keuangan, Kedokteran, Kimia, Agrobisnis, dll.
Medan, Sumatera Utara

15 August 2007

Bagaimana Penerjemah Onlen yang Terpercaya?

Dalam masyarakat pedesaan yang spiritualistis, rasa saling percaya di antara sesama warga sangat tinggi. Salah satu faktor penyebabnya mungkin adalah rasa kekeluargaan dan tolong-menolong yang masih kuat. Segala sesuatunya dilakukan dengan niat baik dan tanpa pamrih.

Sebaliknya, dalam masyarakat yang materialistis di perkotaan, rasa saling percaya sangat rendah. Hal ini mungkin disebabkan oleh rasa kekeluargaan dan tolong-menolong yang sudah sangat rendah. Segala sesuatunya dilakukan dengan motivasi uang dan perhitungan laba-rugi.

Sayangnya, untuk menjadi penerjemah onlen, penerjemah harus tinggal di daerah perkotaan. Ini menjadi suatu keharusan karena memang fasilitas listrik, telepon, dan Internet biasanya tersedia di perkotaan. Selain itu, yang membutuhkan jasa penerjemahan adalah masyarakat perkotaan.

Di sinilah beratnya tantangan sebagai penerjemah onlen. Sebagai penerjemah onlen, kita menghadapi masyarakat perkotaan yang materialistis dan rasa percayanya kepada orang lain, terutama orang yang belum dikenal, cenderung rendah. Selanjutnya, penerjemah onlen juga berhubungan dengan orang yang lokasinya berjauhan.

Dalam masyarakat materialistis, laba-rugi menjadi fokus utama. Karena itu, penerjemah sering mengalami kesulitan dalam menetapkan tarif jasa penerjemahannya. Klien cenderung berpikir untuk mendapatkan terjemahan bermutu dengan harga murah. Sementara itu, penerjemah berpikir untuk menghasilkan terjemahan bermutu dengan harga yang layak. Karena itu, kemampuan negosiasi dan komunikasi untuk meyakinkan calon klien sangat diperlukan pada diri seorang penerjemah.

Selanjutnya, sehubungan dengan rasa percaya calon klien yang rendah karena 1. mereka tinggal di tempat yang jauh dari penerjemah tsb, 2. mereka belum kenal dengan penerjemah tsb, 3. mereka khawatir akan ditipu oleh penerjemah tsb, dan 4. mereka belum tahu kemampuan penerjemah tsb, seorang penerjemah onlen tidak boleh memperlihatkan nada suara atau pun balasan email yang kurang sopan atau tersinggung.

Sebaliknya, seorang penerjemah onlen harus memberikan informasi yang dapat membuat calon klien percaya padanya. Sebagai penyedia jasa penerjemahan onlen, penerjemah onlen tentu saja harus mempunyai situs Internet yang menyajikan informasi lengkap mengenai jasa penerjemahan yang ditawarkan, kualifikasinya (jurusan dan program studi), pengalamannya, contoh terjemahannya, referensinya (kalau ada), sertifikasi/akreditasinya (kalau ada), tarifnya, prosedur pembayarannya (apakah pembayarannya sekaligus di muka, dua kali bayar - 50% di muka dan 50% setelah terjemahan dikirim), jam kerjanya (apakah part time atau full time), koneksi Internetnya (dial up atau broadband), serta kelengkapan dan kejelasan data kontaknya (data diri penerjemah, alamat rumah/kantor, nomor telepon/faks, alamat email, dan alamat situs Internet).

Dengan semua informasi ini, calon klien dapat menilai dan mempertimbangkan apakah penerjemah onlen tsb dapat dipercaya atau tidak. Sebagai contoh, pada saat seorang calon klien menghubungi penerjemah dan ternyata nama orang yang menjawab di seberang sana berbeda dengan nama penerjemah yang tercantum di situs Internetnya dan dia tidak kenal dengan penerjemah tsb berarti nomor telepon yang diberikan adalah nomor palsu.

Begitu pula, bila seorang penerjemah onlen mengklaim bahwa hasil terjemahannya sudah diakui klien internasional namun ketika diminta referensinya oleh seorang klien baru, penerjemah tsb tidak dapat memberikan perincian kontak (nama referensi, situs web, surel, nomor telepon/faks) yang dapat dihubungi, tentu saja penerjemah ini tidak dapat dipercaya.

Harus diingat bahwa dalam transaksi dengan klien baru yang nilainya cukup besar, penerjemah biasanya menawarkan kepada klien untuk melakukan pembayaran dua tahap - pembayaran pertama di muka dan pembayaran kedua setelah order selesai. Tahap pembayaran bisa lebih dari dua (misalnya, 25% di muka dan kemudian masing-masing 25% untuk setiap tahap penyelesaian order) bila nilai ordernya lebih besar lagi.

Singkatnya, sebagai klien baru Anda harus kritis dan menggunakan akal sehat dalam mempertimbangkan apakah penerjemah tsb dapat dipercaya atau tidak.


Hipyan Nopri, S.Pd.
Penerjemah Dokumen Hukum Inggris-Indonesia
Juga Menyediakan Jasa Penerjemahan Dokumen
Bisnis/Keuangan, Kedokteran, Kimia, Agrobisnis, dll.
Medan, Sumatera Utara

Produktivitas Harian Penerjemah

Yang dimaksud dengan produktivitas harian rata-rata penerjemah di sini adalah jumlah rata-rata kata teks sumber yang dapat diterjemahkan dengan nyaman dan mutu terjamin oleh seorang penerjemah dalam satu hari kerja. Diterjemahkan dengan nyaman maksudnya penerjemah dapat mengerjakan order terjemahannya dengan tenang dan penuh konsentrasi serta mendapat cukup waktu untuk melakukan riset apabila ada istilah sulit.

Diterjemahkan dengan mutu terjamin maksudnya terjemahan yang dihasilkan tidak mengandung kesalahan makna maupun tulisan. Dengan kata lain, pesan yang terdapat dalam teks sumber dapat dialihbahasakan penerjemah dengan baik sehingga dapat dipahami dan dihayati oleh pembaca teks sasaran.

Selain itu, pada hasil terjemahan tersebut tidak terdapat kesalahan ejaan dalam penulisan kata, kesalahan struktur kalimat, kesalahan struktur paragraf, ataupun kesalahan tanda baca.

Dari pengalaman pribadi saya sendiri maupun hasil tukar pikiran dengan rekan-rekan penerjemah lainnya, produktifitas rata-rata penerjemah adalah 2500 sampai 3500 kata per hari, di mana satu hari kerja adalah 8 jam, dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore.

Memang, faktanya seorang penerjemah bisa saja menyelesaikan order dengan volume yang dua kali lipat lebih banyak dari volume rata-rata tersebut. Misalnya, saya sendiri pernah menerjemahkan order dengan volume 8000 kata dan 11000 kata sehari.

Namun demikian, sehari di sini adalah dari jam 9 pagi sampai jam 9 malam (12 jam). Selain itu, untuk menyelesaikan order ini saya harus bekerja ekstra keras dan sangat memforsir tenaga dan pikiran.

Dengan kata lain, suasana kerjanya jelas tidak nyaman. Order seperti ini tergolong order mendesak (urgent job) dan tentu saja bayarannya lebih mahal dari order biasa.

Karena itu, calon klien harus mempertimbangkan tingkat produktifitas harian rata-rata ini bila mereka menginginkan hasil terjemahan yang bermutu.


Hipyan Nopri, S.Pd.
Penerjemah Dokumen Hukum Inggris-Indonesia
Juga Menyediakan Jasa Penerjemahan Dokumen
Bisnis/Keuangan, Kedokteran, Kimia, Agrobisnis, dll.
Medan, Sumatera Utara