Google
 

30 November 2007

Tahapan dalam Menekuni Bisnis Penerjemahan

Selamat pagi rekan-rekan penerjemah.

Kali ini saya tertarik untuk berbagi pengalaman mengenai tahapan dalam menekuni bisnis penerjemahan. Yang saya maksud dengan tahapan di sini berkaitan dengan penggunaan perangkat keras dalam melakukan penerjemahan.

Saya sendiri ada empat tahapan yang dilalui:
1. Tulis tangan
2. Mesin Tik
3. Komputer
4. Komputer + Internet

Tulis Tangan
Waktu itu saya baru saja membuat keputusan penting meninggalkan jurusan teknik elektro, FPTK IKIP Padang karena sudah terbayang jelas di mata perjalanan studi saya bakal jauh lebih parah daripada keadaan yang sudah ada. Dari empat semester yang sudah dilalui, hanya semester pertama saja saya dapat IP 2,45. Tiga semester sisanya IP berkisar dari 0 sampai 1,5.

Sejak meninggalkan kampus inilah saya mulai mencoba menerjemahkan teks bahasa Inggris berbagai bidang - teknik elektro, pendidikan, pertanian, ekonomi, kedokteran, dan hukum untuk para mahasiswa.

Karena baru pertama kali dan memang selama ini tidak ada bantuan dana dari orang tua, penerjemahan saya lakukan hanya dengan bermodal pena dan kertas HVS. Sejujurnya, saya akui tulisan tangan saya tergolong 'berseni' sehingga pada mulanya orang kesulitan memahami apa yang saya tulis. Namun demikian, karena penerjemahan dengan modal minimal ini saya jalani selama bertahun-tahun, lama-kelamaan tulisan saya semakin bagus dan rapi.

Mesin Tik
Karena pada tahap tulis tangan tarif penerjemahan saya sangat murah (Rp250 per halaman teks sumber yang rata-rata terdiri dari 400 kata), order yang masuk luar biasa banyak. Dari awal semester sampai akhir semester jadwal saya sudah penuh.

Karena setiap kali menulis tangan saya selalu berkeringat dan hal ini jelas sangat merepotkan dan mengganggu, akhirnya uang yang sudah terkumpul saya pakai untuk beli mesin tik. Selamat tinggal tulis tangan.

Komputer
Dengan mesin tik masalah tangan berkeringat dan kertas yang sering jadi basah karenanya dapat diatasi dan penerjemahan juga berlangsung jauh lebih cepat dan rapi.

Sayangnya, timbul masalah baru - kesalahan yang terjadi ketika penerjemahan sudah masuk beberapa halaman mengharuskan kita mengulang pengetikan dari awal lagi. Ini jelas sangat menyita waktu dan menjengkelkan.

Karena itulah, dana yang didapat selama penerjemahan menggunakan mesin tik saya pakai untuk beli komputer Pentium 1.

Komputer + Internet
Waktu saya kuliah lagi di jurusan bahasa Inggris FKIP Universitas Bung Hatta tahun 1999, saya mulai mengenal Internet berkat adanya mata kuliah CALL (Computer Assisted Language Learning) 1 dan 2. Sejak itulah saya mulai bertekad untuk membeli komputer Pentium 4 supaya nanti bisa pasang Internet di rumah.

Karena itu, saya mulai sering ke Warnet untuk belajar menggunakan Internet dan mencari informasi berkaitan dengan bisnis penerjemahan. Dari Warnet inilah saya mendapat informasi mengenai ProZ.com dan tarif penerjemahan internasional.

Singkat cerita, saya mendaftar sebagai anggota gratis ProZ.com. Setelah mempelajari aturan main dan potensi keuntungan dari anggota berbayar, akhirnya dengan modal keyakinan dan kenekadan saya mendaftar sebagai anggota platinum.

Alhamdulillah, ternyata modal nekad saya tidak sia-sia. Sekitar 2-3 bulan setelah jadi anggota platinum, saya dapat tawaran order penerjemahan internasional pertama dari negeri om Tony. Berkat order pertama ini, uang pendaftaran anggota platinum langsung kembali modal dan saya segera membeli komputer Pentium 4 dan pakai Internet.

Karena Internet dial-up Telkomnet Instant sangat lamban, selanjutnya saya mendaftar untuk berlangganan Broadband Internet Access Telkomnet Speedy.

Demikianlah beberapa tahapan yang saya lalui sebagai seorang penerjemah bebas. Saya ingin mendengar bagaimana pengalaman rekan-rekan.

31 October 2007

Beberapa Usul untuk Kongres HPI ke 9

Rekan penerjemah,
Surat ini sebenarnya sudah saya pajang di Forum Bahasa Indonesia ProZ.com sebelum kongres HPI
23 Juni 2007 yang lalu, tapi karena rasanya penting dan relevan, maka surat ini saya pajang di blog penerjemah ini. Mudah-mudahan jadi gagasan yang bermanfaat bagi kita semua para penerjemah Indonesia. Berikut salinan lengkapnya:

Surat terbuka ini saya buat sebagai gagasan yang ditujukan untuk mempublikasikan dan mempromosikan para penerjemah Indonesia, profesi penerjemahan, HPI, dan meningkatkan mutu para penerjemah. Selain itu, surat ini saya buat karena saya tidak bisa ikut hadir dalam Kongres tsb. Selain dikirimkan ke ProZ.com dan Milis Bahtera, tentu saja, surat ini akan segera saya kirimkan kepada Panitia Penyelenggara Kongres HPI ke 9.
1. Sejak mendaftar bulan April 2006 sampai sekarang saya belum mendapatkan kartu anggota. Karena itu, pengurus baru diharapkan membuat dan membagikan kartu anggota kepada seluruh anggota HPI. Bagi saya, dan saya yakin juga bagi rekan-rekan semua, kartu anggota merupakan suatu kebanggaan yang menunjukkan identitas kita sebagai penerjemah dan keberadaan profesi penerjemahan.
2. Pembuatan stempel penerjemah anggota HPI sebagai salah satu cara untuk mempublikasikan dan mempromosikan profesi penerjemahan pada umumnya dan HPI khususnya. Sertifikasi/akreditasi (baik untuk bidang umum, ilmiah, maupun hukum (untuk penerjemah tersumpah)) dari PPFIB UI (Pusat Penerjemahan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia) dijadikan syarat untuk mendapatkan stempel ini.
3. Daftar seluruh anggota HPI (beserta profil lengkap masing-masing anggota) dipasang di laman HPI. Ini akan sangat memudahkan calon pengguna jasa penerjemahan dalam mencari penerjemah yang dibutuhkannya.
4. Klasifikasi anggota HPI: a. Anggota bersertifikat/terakreditasi dan b. Anggota yang belum bersertifikat/terakreditasi (biasa).
5. Untuk menjadi anggota bersertifikat/terakreditasi, penerjemah harus sudah memperoleh akreditasi minimal B dari PPFIB UI.
6. Pada daftar penerjemah di laman HPI, anggota bersertifikat/terakreditasi diletakkan di halaman terdepan, dan anggota biasa diletakkan di halaman berikutnya.
7. Selama ini, HPI dan PPFIB UI sudah menjalin kerjasama. Namun demikian, perlu penambahan satu item lagi kerjasama HPI dan PPFIB UI: PPFIB UI menjadi penyelenggara ujian kualifikasi penerjemah seperti selama ini, tapi pemeriksaan dan penilaian hasil terjemahan peserta ujian diserahkan kepada HPI. Selanjutnya, HPI menugaskan para anggotanya yang sudah memenuhi syarat-syarat tertentu (yang dapat ditentukan kemudian) untuk memeriksa dan menilai hasil terjemahan tsb. Dengan cara ini, peserta ujian tidak perlu menunggu selama satu tahun (seperti yang berlaku selama ini) untuk mengetahui hasil ujiannya.
8. HPI hanya terdiri dari para penerjemah perorangan. Biro penerjemah/agensi tidak boleh menjadi anggota HPI. Prinsip dasar ini perlu diterapkan untuk menghindari konflik kepentingan. Bagaimanapun, penerjemah dan biro penerjemah pasti mempunyai kepentingan yang berlawanan. Dengan demikian, posisi tawar penerjemah akan semakin kuat.
9. HPI menjalin kemitraan dengan media-media massa terkemuka nasional untuk mempublikasikan dan mempromosikan para penerjemah anggotanya dan keberadaan profesi penerjemahan.
10. Pendaftaran HPI sebagai anggota luar biasa (anggota yang berupa perhimpunan) KADIN. Keanggotaan di KADIN ini akan menjadi promosi yang sangat terarah dan efektif karena perusahaan-perusahaan anggota KADIN banyak yang membutuhkan jasa penerjemahan mengingat interaksi mereka dengan mitra internasionalnya.
11. Penerbitan Nawala (Newsletter) HPI. Nawala ini kemudian dibagikan kepada seluruh anggota HPI, perusahaan-perusahaan anggota KADIN, dan lembaga-lembaga pemerintah/swasta/internasional.
12. Di sekretariat HPI harus ada pengurus yang selalu bertugas dari hari Senin sampai Jum'at dan siaga untuk melayani korespondensi dari anggota maupun pihak lainnya.
Bagaimana tanggapan rekan semua?

Teruskan perjuangan

Hipyan

Klien Adalah Raja?

Banyak agensi atau biro penerjemahan berpandangan bahwa klien adalah raja. Begitu pula, banyak penerjemah berpandangan sama. Entah disadari atau tidak, istilah ini nampaknya sudah diterima secara luas dan bahkan dijadikan sebagai prinsip usaha para penerjemah maupun biro penerjemahan.

Di satu sisi, pandangan ini mungkin dimaksudkan untuk menggambarkan bahwa biro penerjemahan atau penerjemah harus selalu berusaha memberikan yang terbaik dan yang sesuai dengan harapan kliennya. Tentu saja, saya sepakat dengan pemikiran seperti ini.

Namun demikian, harus diingat bahwa istilah bahasa tidak hanya mengandung makna logis tapi juga menimbulkan makna konsekuensial. Istilah 'klien adalah raja' mengandung makna ketimpangan hak dan kewajiban. Dalam konteks hubungan penerjemah dan klien, kalau klien dikatakan sebagai raja berarti penerjemah adalah hamba - orang yang selalu setia melayani raja. Istilah ini secara tidak langsung menunjukkan bahwa kepentingan klien harus lebih diutamakan ketimbang kepentingan penerjemah atau biro penerjemah.

Dengan landasan seperti ini, tidak mengherankan bila banyak biro penerjemah atau juga penerjemah pemula maupun penerjemah yang sudah cukup berpengalaman merasa bahwa posisi mereka sangat lemah dalam berhadapan dengan klien. Karena itulah, tidak mengherankan kalau sebagian biro penerjemahan dan juga sebagian penerjemah rela banting harga demi mendapatkan order dari calon klien.

Pandangan dan istilah ini jelas menyesatkan. Bagi saya, klien adalah klien, dan penerjemah adalah penerjemah. Klien bukan raja, dan penerjemah bukan hamba. Begitu pula, penerjemah bukan raja, dan klien bukan hamba. Dengan kata lain, penerjemah dan klien menempati posisi yang setara - penerjemah beperan sebagai penjual jasa penerjemahan dan klien berperan sebagai pembeli jasa penerjemahan. Singkatnya, keduanya berinteraksi dalam suatu hubungan antara penjual dan pembeli.

Sejalan dengan hukum ekonomi, transaksi antara penjual dan pembeli terjadi karena adanya rasa saling membutuhkan - penjual membutuhkan uang yang dimliki pembeli dan sebaliknya pembeli membutuhkan jasa penerjemahan yang ditawarkan penjual. Kalau penjual merasa uang yang diberikan pembeli kepadanya tidak sepadan dengan kebutuhannya, atau sebaliknya bila pembeli merasa kualitas jasa yang diberikan penjual tidak sepadan dengan kebutuhannya, maka interaksi tersebut tidak berakhir dengan jual beli. Artinya, jual beli terjadi apabila kedua belah pihak merasa bahwa kebutuhannya dapat terpenuhi oleh transaksi tersebut.

Dengan demikian, jelas sekali bahwa agar terjadi transaksi jual beli jasa penerjemahan, harus tercapai kesepakatan yang saling menguntungkan di antara penerjemah dan klien. Klien tidak bisa menuntut agar semua keinginannya dipenuhi oleh penerjemah tanpa kesediaan klien untuk juga memenuhi keinginan penerjemah.

Bila hal ini terwujud, maka akan tercapailah tarif jasa penerjemahan yang dipandang layak oleh penerjemah dan dianggap sepadan dengan kualitas hasil terjemahan oleh klien.

Sayangnya, hal ini tidak selalu terjadi atau mungkin jarang terjadi. Penerjemah sering terpaksa menerima order penerjemahan dengan tarif yang tidak sesuai dengan harapannya. Tarif yang didapatnya adalah tarif yang murah, bukan tarif yang layak. Akibatnya, banyak penerjemah yang mengeluhkan rendahnya tarif ini.

Bagaimana agar penerjemah dapat memperoleh tarif jasa penerjemahan yang layak? Sangat sederhana - penerjemah harus berani bersikap. Jangan pernah menerima order penerjemahan dengan tarif yang tidak sesuai dengan tarif yang telah ditetapkan dan tenggat penyelesaian yang tidak layak.

Dengan kata lain, penerjemah harus menanggalkan persepsi bahwa klien adalah raja (dan dengan demikian, penerjemah adalah hamba). Mulai sekarang, para penerjemah harus menerapkan persepsi bahwa kedudukan penerjemah dan klien adalah setara, yaitu kedudukan antara penjual dan pembeli jasa penerjemahan.

09 October 2007

Penerjemah: Profesi yang Eksotis?

Menurut hasil penerawangan saya dari Sabang sampai Merauke, belum begitu banyak orang yang menekuni profesi penerjemah. Kenyataannya, memang banyak orang yang bekerja sebagai penerjemah di samping menekuni pekerjaan di bidang profesi lain.

Dengan kata lain, cukup banyak penerjemah paruh waktu di Indonesia namun relatif sedikit penerjemah penuh waktu (seperti saya, contohnya:)).

Bagi Anda yang belum tahu perbedaan antara penerjemah paruh waktu (part-time translator) dan penerjemah penuh waktu (full-time translator), silakan lihat tulisan saya lainnya di blog penerjemah ini mengenai definisi penerjemah penuh waktu dan paruh waktu.

Karena belum banyak penerjemah penuh waktu itulah maka masyarakat umumnya tidak begitu mengenal profesi penerjemah. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa penerjemah adalah suatu profesi yang eksotis (belum banyak dikenal orang, atau dalam istilah yang umum disebut langka).

Karena eksotisme profesi ini, tidak mengherankan kalau saya sering melihat orang yang keheranan melihat saya. Keluarga isteri saya dan masyarakat di sekitar tempat tinggal saya pada mulanya heran dengan apa profesi saya yang sesungguhnya.

Mertua saya dan ipar saya bertanya kepada isteri saya; tetangga saya bertanya kepada mertua dan isteri saya. Mereka heran melihat saya jarang sekali keluar rumah.

Saya biasanya hanya keluar rumah untuk shalat Jum'at, potong rambut, mencari kamus baru di toko buku, atau sekali-sekali menemani isteri ke pasar. Mereka tidak pernah melihat saya mengenakan pakaian seragam kerja pergi ke kantor.

Tetangga atau tamu jauh yang datang ke rumah juga heran melihat saya hanya mengenakan kain sarung dan baju kaus tanpa lengan sibuk di depan komputer.

Mereka juga heran melihat saya yang kadang-kadang memusatkan perhatian dan konsentrasi penuh ke layar komputer dan kadang-kadang tersenyum-senyum dan tertawa-tawa sambil mengarahkan pandangan ke layar televisi yang terletak di sebelah komputer saya.

Kalau order sedang kosong, saya memang sering menikmati acara televisi dan sewaktu-waktu melihat komputer untuk memeriksa kalau-kalau ada email yang masuk.

Melihat semua ini, orang menyangka saya adalah seorang pengangguran - orang yang tidak punya pekerjaan, tidak menghasilkan uang, dan hanya bersenang-senang nonton televisi.

Pada gilirannya, mereka cenderung memandang rendah kepada saya. Menghadapi semua ini, saya tenang-tenang saja. Mereka begitu karena belum tahu siapa saya.

Bagi saya itu bukanlah wujud dari ketidaksopanan dan tiadanya rasa hormat terhadap sesama; bagi saya itu adalah wujud dari ketidaktahuan mereka.

Karena itu, saya berusaha membuat orang yang tidak tahu menjadi tahu.

Alhamdulillah, setelah saya persilakan isteri saya memperlihatkan kepada mereka beberapa contoh bukti transfer uang internasional lewat Moneybookers, Western Union, dan transfer bank internasional, pandangan mereka langsung berubah.

Selain itu, dengan sedikit penjelasan mengenai profesi saya sebagai penerjemah, sikap dan pandangan mereka semakin berubah.

Mereka terkagum-kagum dengan profesi penerjemah. Mereka bahkan berkomentar bahwa kalau begitu enak sekali jadi penerjemah - kerjanya santai, bebas, di rumah, tapi menghasilkan uang.

Malah para tetangga ada yang meminta saya untuk mengajarkan bahasa Inggris kepada anaknya supaya nanti bisa jadi penerjemah juga seperti saya.:).

Mereka berkomentar, "Kalau anak saya bisa jadi penerjemah seperti kamu, saya tidak perlu repot-repot menyiapkan uang empat puluh juta rupiah setelah dia wisuda nanti sebagai uang sogok agar diterima sebagai PNS."

Inilah gambaran nyata masyarakat kita yang sudah sangat terpengaruh oleh paham materialisme dan hedonisme. Rasa menghargai dan menghormati terhadap orang lain sangat dipengaruhi oleh hal-hal material yang dapat dilihat dan dimiliki orang lain.

Selain itu, mereka cenderung melihat sesuatu dari salah satu aspek saja, yaitu hasil atau sisi mudah atau sisi enaknya saja. Yang mereka lihat hanya bukti transfer uang internasional yang nilainya sekian dolar.

Mereka tidak berpikir dan bertanya lebih kritis lagi mengenai proses dan suka-duka untuk mendapatkan uang dolar tsb.

Mereka tidak menyadari bahwa diperlukan ketekunan, kerja keras dan tekad kuat untuk menjadi penerjemah yang andal;

bahwa dibutuhkan sumber daya yang memadai untuk menjadi penerjemah yang mumpuni; bahwa order penerjemahan tidak datang setiap hari;

bahwa penerjemah tidak bisa memperkirakan kapan order penerjemahan akan masuk karena memang tawaran order penerjemahan itu sangat tidak menentu;

bahwa nilai order yang satu berbeda dengan order yang lain; bahwa seorang penerjemah sering harus menunda tidurnya sampai subuh karena harus siaga di depan komputernya menunggu kalau-kalau ada order masuk;

bahwa seorang penerjemah sering harus menghadapi kenyataan pada hari tertentu ia tidak mendapatkan order sama sekali walaupun dari pagi sampai tengah malam ia selalu berada di depan komputernya;

bahwa proposal yang diajukan seorang penerjemah kepada agensi internasional atau klien langsung internasional belum tentu diterima karena ada banyak penerjemah lain yang mengajukan proposal untuk order yang sama; dst.

Begitulah sepenggal kisah dan pengalaman saya sebagai penerjemah - sebuah profesi yang masih tergolong eksotis di negara kita - dan komentar masyarakat mengenai profesi ini.


Hipyan Nopri, S.Pd.
Penerjemah Dokumen Hukum Inggris-Indonesia
Juga Menyediakan Jasa Penerjemahan Dokumen
Bisnis/Keuangan, Kedokteran, Kimia, Agrobisnis, dll.
Medan, Sumatera Utara

30 September 2007

Adakah Hari Penerjemah Internasional?

Tanggal 30 September selalu diperingati sebagai Hari Penerjemah atau Hari Penerjemahan di seluruh dunia. Namun demikian, mungkin belum begitu banyak penerjemah Indonesia yang menyadari adanya hari bersejarah ini.

Saya sendiri, terus terang, baru tahu adanya hari peringatan bagi penerjemah ini ketika bergabung dengan ProZ.com, salah satu situs penerjemah ternama yang berbasis di New York, pada tahun 2005.

Ini di kalangan para penerjemah sendiri, apalagi di kalangan masyarakat awam. Saya yakin, masyarakat di luar kalangan penerjemah hampir semuanya tidak mengetahui hari penerjemah internasional ini.

Karena itulah, sebagai salah satu cara untuk memperkenalkan dan memasyarakatkan profesi penerjemah dan dunia penerjemahan kepada seluruh lapisan masyarakat, pada hari yang bersejarah ini saya menyajikan sejarah singkat Hari Penerjemahan Internasional di blog penerjemah ini.

Sebelum abad ke 4 M, bahasa yang dominan di seluruh imperium Romawi adalah bahasa Yunani. Bahasa Yunani dijadikan bahasa resmi karena para pemimpin Romawi meyakini bahwa mereka adalah pewaris kebudayaan dan peradaban Yunani.

Namun demikian, pada abad ke 4 M bahasa Latin mulai menggantikan posisi dominan bahasa Yunani. Seiring perjalanan waktu, tentu semakin sedikit orang yang bisa berbahasa Yunani.

Perubahan ini menimbulkan pengaruh besar terhadap Gereja karena kitab Injil ditulis dalam bahasa Yunani. Karena semakin sedikit orang Kristen yang bisa membaca atau memahami bahasa Yunani, Gereja menghadapi masalah pastoral serius - bagaimana kitab Injil bisa tetap dipahami oleh umat Kristen?

Tentu saja, agar kitab Injil tetap dapat membentuk iman dan kehidupan Kristen, kitab tersebut harus diterjemahkan ke bahasa Latin. Karena itu, para pendeta Kristen berusaha melakukan penerjemahan Injil ke bahasa Latin, tapi sayangnya tak satu pun dari terjemahan tersebut yang memuaskan.

Terjemahan tsb tidak dihasilkan dari penelitian mendalam atas naskah kitab Injil dalam bahasa aslinya. Selain itu, keharusan menyalin naskah asli dengan tangan telah menimbulkan banyak kesalahan pada Injil berbahasa Yunani.

Selanjutnya, Injil Latin pertama merupakan terjemahan dari Injil Yunani, bukan dari Injil dalam bahasa aslinya - Ibrani. Kedua, bahasa Latin yang digunakan dalam terjemahan tersebut terlalu kolokial, bukan bahasa Latin yang terbaik.

Akibatnya, tidak ada hasil terjemahan yang mendapat pengesahan dan status resmi sebagaimana Injil berbahasa Yunani yang digunakan sebelumnya. Paus Damasus menginginkan hasil terjemahan yang bagus dan dapat disahkan.

Tahun 382 M, ia menugaskan seorang pendeta muda bernama Jerome untuk menerjemahkan Injil berbahasa Yunani menjadi kitab Injil berbahasa Latin. Ia adalah seorang sekretaris pribadi Paus yang menguasai bahasa Latin, Yunani, dan Ibrani.

Sayangnya, sebelum proyek tersebut selesai, Paus Damasus meninggal dunia pada tahun 384 M. Setelah tidak terpilih sebagai pengganti paus meskipun ia menjadi calon unggulan, Jerome meninggalkan Roma dan tinggal di Bethlehem.

Diperlukan waktu 20 tahun bagi Jerome untuk menerjemahkan naskah Injil ke dalam bahasa Latin dari bahasa aslinya.

Berbeda dengan para penerjemah sebelumnya, Jerome tidak menerapkan prinsip 'kata per kata' tapi 'makna per makna' dalam proses penerjemahan tersebut. Karena itulah, hasil terjemahannya mendapat pengesahan dan status resmi dari Gereja.

Setelah berhasil menyelesaikan tugasnya, pada tanggal 30 September 420 Jerome meninggal dunia di Bethlehem. Sejak itulah, ia dianggap sebagai bapak penerjemah dan juru bahasa di seluruh dunia.

Sebenarnya, tanggal 30 September telah lama digunakan oleh para penerjemah dan juru bahasa (dan perhimpunan mereka) untuk merayakan hari bersejarah itu.

Namun demikian, Federasi Penerjemah Internasional (IFT, International Federation of Translators) yang didirikan pada tahun 1953, baru menjadikan tanggal 30 September sebagai Hari Penerjemah Internasional pada tahun 1991.

Selamat ulang tahun rekan-rekan penerjemah di seluruh dunia! Happy International Translators Day!


Hipyan Nopri, S.Pd.
Penerjemah Dokumen Hukum Inggris-Indonesia
Juga Menyediakan Jasa Penerjemahan Dokumen
Bisnis/Keuangan, Kedokteran, Kimia, Agrobisnis, dll.
Medan, Sumatera Utara

25 September 2007

Penerjemah Manusia vs Penerjemah Elektronik

Bagi orang awam, kedua istilah ini mungkin terdengar ganjil. Bila mendengar kata 'penerjemah,' orang cenderung langsung membayangkan orang yang melakukan penerjemahan.

Sebenarnya, dalam dunia penerjemahan terdapat dua kategori penerjemah - penerjemah manusia (human translators) dan penerjemah elektronik (electronic translators atau machine translators).

Pada penerjemah manusia, proses penerjemahan dilakukan oleh orang yang menguasai bahasa asal, bahasa sasaran, dan pokok bahasan dalam teks yang akan diterjemahkan.

Pada penerjemah elektronik atau penerjemah mesin, proses penerjemahan dilakukan oleh perangkat lunak atau program komputer yang telah dirancang untuk menerjemahkan kata-kata pada teks asal.

Dari segi biaya, penerjemah manusia jelas jauh lebih mahal daripada penerjemah elektronik. Namun demikian, dari segi mutu terjemahannya, penerjemah elektronik atau penerjemah mesin tidak dapat menandingi penerjemah manusia.

Memang, untuk wacana yang sangat sederhana dengan struktur kalimat yang singkat dan sederhana seperti prosedur-prosedur teknis, penerjemah elektronik bisa membantu.

Sayangnya, untuk wacana yang rumit seperti buku, artikel, dan brosur iklan, terjemahan yang dihasilkan penerjemah mesin sudah pasti harus diedit sehubungan dengan struktur kalimat yang berantakan, pilihan kata yang tidak sesuai konteksnya, dan banyaknya kata yang tak dapat diterjemahkan karena kata tersebut tidak terdapat dalam memori program penerjemah tsb.

Semua kelemahan penerjemah mesin ini terjadi karena pada dasarnya penerjemah ini tidak mempunyai kemampuan berpikir analitis, dinamis, adaptif, dan diskriminatif sebagaimana kemampuan penerjemah manusia.

Coba bayangkan perbedaan sopir manusia dan sopir robot. Sopir manusia akan hati-hati dalam menjalankan kendaraannya.

Kalau sopir robot, dia akan terus jalan dengan kecepatan yang telah diprogram tak peduli kalau di depannya ada nenek-nenek sedang lewat atau ada kerbau yang numpang lalu. Semuanya akan ditabrak saja.

Mengapa demikian? Karena penerjemahan merupakan suatu proses yang sangat rumit yang melibatkan dua bahasa dengan sistem tata bahasa dan budaya yang berbeda.

Bahasa melibatkan konsep-konsep seperti polisemi, kolokasi, dan tradisi. Jadi, tidak mengherankan kalau saya sering kedatangan para mahasiswa S1 maupun S2 yang meminta saya mengedit hasil terjemahan Transtool yang amburadul.

Memang, sebagian mahasiswa cenderung mengutamakan tarif murah. Setelah melihat hasil kerja Transtool yang murah namun amburadul itu, mereka baru menyesal. Biasanya, saya akan menolak permintaan mereka dan menawarkan penerjemahan ulang total dari awal karena kekacaubalauan terjemahan yang luar biasa.

Karena itu, Anda yang membutuhkan jasa penerjemahan sebaiknya jangan memakai penerjemah elektronik/mesin. Gunakanlah selalu jasa penerjemah manusia.

Memang kelihatannya biayanya lebih mahal, tapi kalau dilihat dari hasil terjemahan dan manfaatnya bagi kepentingan, pendidikan, karir, bisnis, dan masa depan Anda, biaya tsb sangat wajar.

Sebaliknya, biaya jasa penerjemahan yang memakai program komputer seperti Transtool atau program-program lainnya yang kelihatannya murah sebenarnya justru mahal mengingat rendahnya mutu terjemahan yang dihasilkan, biaya besar yang kemudian diperlukan untuk merombaknya, dan risikonya bagi kepentingan, pendidikan, karir, bisnis, dan masa depan Anda.

#PenerjemahManusia #HumanTranslator #PenerjemahElektronik #MachineTranslator


Hipyan Nopri, S.Pd.
Penerjemah Dokumen Hukum Inggris-Indonesia
Juga Menyediakan Jasa Penerjemahan Dokumen
Bisnis/Keuangan, Kedokteran, Kimia, Agrobisnis, dll.
Medan, Sumatera Utara

18 September 2007

Penerjemah: Ilmuwan dan Seniman?

Pada dasarnya, seorang penerjemah dapat dikatakan sebagai ilmuwan sekaligus seniman. Karena itu, penerjemahan dikategorikan sebagai suatu ilmu, yaitu ilmu bahasa terapan, dan sekaligus sebagai seni, yaitu seni bahasa.

Dalam penerjemahan sebagai ilmu, penerjemah harus: 1) menguasai bahasa sumber, 2) menguasai bahasa sasaran, dan 3) menguasai pokok bahasan dari teks yang diterjemahkan agar ia dapat menghasilkan terjemahan yang sesuai dengan makna yang dimaksud dan gaya bahasa yang sesuai dengan teks bahasa sumber.

Pengetahuan dan pemahaman penerjemah mengenai ketiga aspek ini dan juga pengalamannya menerjemahkan berbagai teks akan semakin meningkatkan keterampilan menerjemahnya. Karena itulah, pengembangan dan peningkatan pengetahuan penerjemah menjadi salah satu bagian dari kode etik penerjemah.

Apabila seorang penerjemah mengalami kesulitan dalam mencari padanan atau pengertian dari suatu istilah, dia harus melakukan riset atas referensi cetak maupun referensi yang tersedia di Internet.

Salah satu istilah bahasa Inggris kedokteran di bawah ini menjadi contoh kesulitan yang pernah saya alami sebagai seorang penerjemah.

1. cachexia - kaseksia atau kakeksia

Memang, di empat kamus kedokteran yang saya miliki, pengertian istilah tersebut diuraikan dengan jelas. Sayangnya, saya tidak tahu lafal bahasa Inggrisnya.

Lafal bahasa Inggris ini sangat penting sebagai pedoman untuk melakukan pengindonesiaan istilah asing yang tidak ada padanan Indonesianya. Alhamdulillah, setelah beberapa saat mencari informasi di Internet, saya menyimpulkan bahwa bentuk Indonesianya adalah 'kakeksia' karena -che- pada istilah tersebut dilafalkan /ke/, bukan /se/.

2. Your study doctor will review how well you take the study drugs according to the schedule and any side effects you may experience.

Pada kalimat ini, 'study doctor' dapat diterjemahkan menjadi 'dokter penelitian' (bandingkan, 'staf penelitian,' 'sponsor penelitian') tapi ' study drugs' terdengar janggal bila diterjemahkan 'obat penelitian.' Istilah ini akan terdengar lebih alami di telinga penutur bahasa Indonesia bila diterjemahkan 'obat yang sedang diteliti.'

Selanjutnya, dalam penerjemahan sebagai seni, seorang penerjemah harus mampu menghasilkan terjemahan yang dapat dipahami oleh pembaca sasaran dan yang sealami mungkin bagi pembaca sasaran.

Dapat dipahami artinya tidak terjadi kesalahan makna; sealami mungkin artinya pembaca sasaran tidak menyadari bahwa teks yang dibacanya adalah hasil terjemahan.

Sebagai contoh kasus, perhatikan kutipan-kutipan berikut ini.

3. To participate in the study, you can be either male or female and you must be 18 years of age or older. 

a. Untuk berpartisipasi dalam penelitian ini, Anda boleh pria atau wanita dan Anda harus berusia 18 tahun atau lebih tua. 

b. Bila Anda pria atau wanita berusia 18 tahun atau lebih, Anda dapat berpartisipasi dalam penelitian ini.

Dalam contoh ini, 2b lebih mengindonesia daripada 2a.

4. Most of these study visits will be held on the same days as your scheduled chemotherapy treatments.

a. Sebagian besar dari kunjungan penelitian ini akan dilakukan pada hari yang sama dengan pengobatan kemoterapi terjadwal Anda.

b. Sebagian besar dari kunjungan penelitian ini akan dilakukan pada hari yang sama dengan jadwal pengobatan kemoterapi Anda.

Dalam contoh ini, 4b juga lebih mengindonesia daripada 4a.

Demikianlah sedikit gambaran mengenai penerjemah yang berperan sebagai ilmuwan sekaligus seniman beserta contoh kasusnya.


Hipyan Nopri, S.Pd.
Penerjemah Dokumen Hukum Inggris-Indonesia
Juga Menyediakan Jasa Penerjemahan Dokumen
Bisnis/Keuangan, Kedokteran, Kimia, Agrobisnis, dll.
Medan, Sumatera Utara

17 September 2007

4 Cara Sertifikasi Terjemahan

Pengesahan atau sertifikasi hasil terjemahan, yang dilakukan untuk mendapatkan terjemahan tersumpah, biasanya diperlukan untuk penerjemahan dokumen hukum seperti akte kelahiran, surat nikah, akte perceraian, ijazah, transkrip nilai, perjanjian, kontrak, surat persetujuan resmi, berita acara pemeriksaan, dokumen penelitian, dll.

Masyarakat awam mungkin beranggapan bahwa pengesahan hasil terjemahan dokumen hukum hanya dapat dilakukan oleh penerjemah tersumpah. Dengan kata lain, mereka beranggapan bahwa hanya penerjemah tersumpah yang dapat dan boleh menerjemahkan dokumen hukum.

Sebenarnya, ada beberapa metode pengesahan hasil terjemahan - pernyataan tertulis penerjemah, penerjemah tersumpah, afidavit, dan apostil. Metode pertama dan kedua tidak memerlukan biaya; metode ketiga dan keempat memerlukan biaya yang cukup besar.

Metode pertama, yaitu pernyataan tertulis penerjemah, adalah metode pengesahan yang paling sederhana. Dengan metode pengesahan ini, penerjemah mencantumkan pernyataan tertulis pada hasil terjemahannya yang menyatakan bahwa teks bahasa sasaran adalah terjemahan yang akurat, benar, dan lengkap dari teks bahasa asal.

Metode pengesahan yang kedua adalah penerjemahan yang dilakukan oleh penerjemah tersumpah. Di Indonesia, seorang penerjemah mendapat sertifikat penerjemah tersumpah apabila dia sudah mendapat nilai A dalam ujian kualifikasi penerjemah (yang diadakan oleh PPFIB UI) dan mengajukan permohonan untuk mendapatkan sertifikat tersebut ke Gubernur DKI Jakarta. Dengan metode ini, penerjemah tersumpah mencantumkan pernyataan berstempel.

Hasil terjemahan bisa juga disahkan dengan afidavit, yaitu pernyataan tertulis di atas sumpah di depan notaris bahwa teks bahasa sasaran adalah terjemahan yang akurat dan lengkap dari teks bahasa asalnya.

Metode pengesahan hasil terjemahan yang terakhir adalah apostil. Dengan metode ini, hasil terjemahan disahkan dengan pernyataan bahwa hasil terjemahan tersebut sesuai dengan teks aslinya. Pernyataan pengesahan resmi ini biasanya diberikan oleh Departemen Kehakiman atau Departemen Luar Negeri.

Saya sendiri sudah sering menerjemahkan berbagai dokumen hukum untuk klien lokal, nasional, dan internasional. Untuk pengesahan hasil terjemahan, saya biasanya menggunakan metode pertama karena saya belum mendapat sertifikat penerjemah tersumpah.

Memang, mengingat konsekuensi hukum dan biaya sertifikasinya, tarif jasa penerjemahan dokumen hukum biasanya jauh lebih mahal daripada tarif jasa penerjemahan dokumen bukan hukum.

Kesimpulannya, dokumen hukum tidak hanya dapat dan boleh diterjemahkan oleh penerjemah tersumpah. Penerjemah yang belum memiliki sertifikat penerjemah tersumpah, seperti penerjemah terakreditasi atau penerjemah bersertifikat, atau bahkan penerjemah yang belum terakreditasi/bersertifikat sekalipun, dapat dan boleh menerjemahkan dokumen hukum.

Tentu saja, penerjemah bersangkutan harus benar-benar kompeten, berpengalaman, dan jujur.

Kalau tidak, dia sendiri akan menanggung konsekuensi hukum dan bisnisnya. Konsekuensi hukumnya, si penerjemah bisa menghadapi tuntutan hukum dari klien atas kerugian yang ditimbulkan akibat kesalahan dalam terjemahannya.

Konsekuensi bisnisnya, si penerjemah akan kehilangan order dari klien tsb dan juga klien potensial yg mungkin mendapat informasi dari klien tsb mengenai buruknya mutu terjemahan yang dihasilkan si penerjemah.


Hipyan Nopri, S.Pd.
Penerjemah Hukum Inggris-Indonesia
Juga Menyediakan Jasa Penerjemahan Dokumen
Bisnis/Keuangan, Kedokteran, Kimia, Agrobisnis, dll.
Medan, Sumatera Utara

Kualifikasi Profesional Penerjemah di Indonesia

Sebelumnya, saya tidak tahu kalau di Indonesia ada ujian kualifikasi penerjemah yang diadakan oleh sebuah lembaga profesional. Untungnya, salah seorang rekan penerjemah Indonesia dan juga pendiri milis penerjemah ternama di Indonesia, Bahtera, memberikan informasi penting.

Saya mendapatkan informasi berharga bahwa di Indonesia sudah ada lembaga profesional yang menyelenggarakan ujian kualifikasi penerjemah - Pusat Penerjemahan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

Pada judul posting ini saya memakai istilah kualifikasi profesional untuk membedakannya dengan kualifikasi akademik. Kualifikasi akademik merujuk pada latar belakang pendidikan penerjemah, sedangkan kualifikasi profesional merujuk pada bukti pengakuan kemampuan penerjemah yang diberikan oleh suatu lembaga profesional.

Untuk kualifikasi akademik, penerjemah mungkin mempunyai kualifikasi S1, S2, atau S3 dengan bidang ilmu yang berbeda - S1 pengajaran bahasa Inggris, S1 hukum, S2 pertanian, S3 aeronotika, dll.

Untuk kualifikasi profesional, PPFIB UI menetapkan tiga kategori:
1. Bidang umum
2. Bidang ilmiah
3. Bidang hukum

Penerjemah yang sudah lulus ujian kualifikasi profesional umum dan ilmiah dinamakan penerjemah terakreditasi atau penerjemah bersertifikat. Penerjemah yang lulus ujian kualifikasi bidang hukum sering dinamakan penerjemah tersumpah.

Pada akhir tahun 2005, saya mendaftarkan diri untuk mengikuti ujian kualifikasi penerjemah yang diadakan PPFIB UI. Dari ketiga kategori kualifikasi di atas, saya ingin memilih bidang ilmiah. Sayangnya, pada waktu itu kategori ini tidak diujikan.

Akhirnya, saya memilih bidang umum saja. Saya sengaja tidak memilih bidang hukum karena saya tidak punya KTP DKI sebagai syarat kedua (setelah syarat pertama - lulus dengan nilai A dalam ujian kualifikasi profesional bidang hukum) untuk mendapatkan sertifikat penerjemah tersumpah dari Gubernur DKI.


Hipyan Nopri, S.Pd.
Penerjemah Dokumen Hukum Inggris-Indonesia
Juga Menyediakan Jasa Penerjemahan Dokumen
Bisnis/Keuangan, Kedokteran, Kimia, Agrobisnis, dll.
Medan, Sumatera Utara

16 September 2007

Tarif Per Kata Teks Asal vs Tarif Per Halaman Terjemahan

Berbeda dengan sistem pentarifan internasional, yang umumnya didasarkan pada tarif per kata teks asal, klien lokal dan nasional lebih mengenal tarif per halaman hasil terjemahan.

Sebenarnya, sistem tarif per kata teks asal merupakan sistem pentarifan yang paling adil. Dengan penentuan tarif per kata teks asal, jumlah katanya menjadi pasti dan tidak bisa diubah. Kalau menurut perhitungan jumlah kata teks bahasa Inggris adalah 5000 kata, jumlah tersebut tidak bisa berubah.Siapa pun penerjemahnya, hasil perhitungannya akan sama saja.

Penerjemah kemudian memberitahukan jumlah kata tersebut kepada calon klien, kemudian calon klien bisa ikut menghitung jumlah kata tersebut dan mengkonfirmasi apakah hasil perhitungannya sama atau berbeda dengan perhitungan penerjemah. Untuk file dalam format Word, jumlah kata dapat dihitung dengan mengklik Tools dan kemudian Word Count; untuk file PowerPoint, jumlah kata dapat dihitung dengan mengklik File, Properties, dan Statistics; untuk Excel dan pdf, perhitungan jumlah kata dapat dilakukan setelah file tersebut dikonversi ke Word atau menggunakan program tertentu.

Ini berbeda sekali dengan penentuan tarif per halaman hasil terjemahan. Sistem pentarifan ini bisa sangat bervariasi antar penerjemah. Artinya, penerjemah yang berbeda bisa menetapkan spesifikasi halaman yang berbeda. Perbedaan ini mencakup: 1) perbedaan margin atas, bawah, kiri, dan kanan; 2) perbedaan spasi antar baris; 3) perbedaan jenis dan ukuran huruf; dan 4) perbedaan ukuran kertas.

Margin atas, bawah, kiri, dan kanan yang lebih lebar akan menghasilkan halaman yang lebih banyak. Teks dengan spasi 2 akan menghasilkan halaman yang lebih banyak daripada teks dengan spasi 1,5, apalagi dibandingkan dengan teks spasi 1.

Jenis dan ukuran huruf yang berbeda akan menghasilkan jumlah halaman yang berbeda. Misalnya, huruf Bookman Old Style akan menghasilkan halaman yang lebih banyak daripada huruf Times New Roman. Bookman Old Style 10 akan menghasilkan halaman yang lebih sedikit daripada BOS 12.

Yang terakhir, karena ukurannya yang lebih kecil, kertas ukuran kuarto akan menghasilkan halaman yang lebih banyak daripada kertas folio.

Selain itu, dengan perhitungan tarif per kata teks asal, besarnya biaya yang akan dibayar klien untuk jasa penerjemahan yang dibutuhkannya sudah bisa diketahui dari awal. Dengan demikian, calon klien bisa mendapatkan informasi dini mengenai biaya yang akan dikeluarkannya. Karena itu, calon klien dapat segera membuat keputusan apakah biaya yang ditawarkan penerjemah sesuai dengan anggarannya yang tersedia atau tidak.

Sebaliknya, perhitungan tarif per halaman hasil terjemahan tidak memberikan informasi biaya yang pasti kepada calon klien karena penerjemah tidak bisa memastikan berapa halaman hasil terjemahan nanti. Akibatnya, perbedaan jumlah halaman yang diperkirakan dan jumlah halaman yang sebenarnya bisa menimbulkan perselisihan antara penerjemah dan klien karena perbedaan ini menyebabkan perbedaan besarnya biaya yang harus disiapkan klien.

Saya sudah memberikan gambaran mengenai perhitungan tarif per kata teks asal dan per halaman hasil terjemahan. Sekarang, pilihan ada pada klien - mau memakai sistem tarif per kata teks asal atau sistem tarif per halaman hasil terjemahan?

Hipyan Nopri, S.Pd.
Penerjemah Dokumen Hukum Inggris-Indonesia
Juga Menyediakan Jasa Penerjemahan Dokumen
Bisnis/Keuangan, Kedokteran, Kimia, Agrobisnis, dll.
Medan, Sumatera Utara

Berapa Tarif Penerjemah Lokal, Nasional, dan Internasional?

Sebagaimana penetapan tarif jasa di bidang-bidang profesi lainnya, tidak ada tarif baku jasa penerjemahan. Seorang akuntan, pengacara, dan dokter dapat menetapkan tarif sesuai keinginan mereka. Namun demikian, tentu saja mereka tidak akan menetapkan tarif seenaknya. Tarif tersebut akan dipengaruhi oleh kualifikasi mereka, pengalaman mereka, popularitas mereka, keandalan mereka, banyaknya penyedia jasa, daerah tempat tinggal mereka, dan tingkat kebutuhan masyarakat akan jasa mereka.

Begitu pula dengan penerjemah. Seorang penerjemah dapat menentukan sendiri tarif jasa penerjemahan yang diinginkannya. Tentu saja, penerjemah yang dimaksud di sini adalah penerjemah frilans onlen - penerjemah yang berdiri sendiri dan menawarkan jasa penerjemahan secara onlen. Berbeda dengan penyedia jasa lainnya, seorang penerjemah frilans onlen dapat menawarkan jasanya kepada klien lokal, nasional, dan bahkan internasional. Dengan demikian, tarifnya juga bervariasi menurut lokasi klien - tarif lokal, nasional, dan internasional.

Namun demikian, sebagaimana telah disinggung di atas, tidak ada tarif baku jasa penerjemahan. Masing-masing penerjemah bebas menentukan sendiri tarif yang diinginkannya. Tarif ini mungkin ditentukan oleh kualifikasi, pengalaman, kelengkapan sumber daya, totalitas, dan sikap bisnisnya. Karena itu, tidak mengherankan bila orang melihat adanya variasi tarif jasa penerjemahan.

Meskipun terdapat variasi tarif, para penerjemah tentu mempunyai pandangan umum mengenai tarif terendah yang dapat mereka terima. Ini adalah hal yang logis karena penerjemah juga harus menanggung beban biaya rutin per bulan. Bila tarif order penerjemahan yang ditawarkan klien tidak dapat menopang biaya hidup bulanannya, tentu saja penerjemah akan menolak tarif tersebut.

Dari pengalaman dan pengamatan pribadi saya, untuk tarif lokal di Padang, penerjemah menetapkan tarif rata-rata Rp5000 per halaman hasil terjemahan. Tarif nasional berkisar dari Rp25.000 hingga Rp50.000 per halaman hasil terjemahan. Meskipun demikian, mengingat konsekuensi hukumnya, tarif penerjemahan dokumen hukum bisa mencapai Rp80.000 per halaman.

Berbeda dengan tarif penerjemahan lokal dan nasional, di tingkat internasional umumnya diterapkan tarif per kata. Untuk jasa penerjemahan internasional ini, tarifnya berkisar dari US$0,06 sampai US$0,12 per kata dokumen sumber.

Berkenaan dengan tarif jasa penerjemahan ini, sekarang untuk jasa penerjemahan lokal saya memasang tarif Rp18.900 per halaman dokumen sumber; Rp37.500 per halaman dokumen sumber untuk jasa penerjemahan nasional; dan US$0,12 per kata sumber untuk jasa penerjemahan internasional.

Hipyan Nopri, S.Pd.
Penerjemah Dokumen Hukum Inggris-Indonesia
Juga Menyediakan Jasa Penerjemahan Dokumen
Bisnis/Keuangan, Kedokteran, Kimia, Agrobisnis, dll.
Medan, Indonesia

10 September 2007

Tarif Penerjemahan vs Mutu Terjemahan

Sebagai seorang penerjemah yang telah menekuni bisnis penerjemahan selama tujuh belas tahun lebih, saya sudah menghadapi berbagai macam sifat dan tingkah laku klien. Sebagian klien tidak mempersoalkan besarnya tarif jasa penerjemahan asalkan hasil terjemahan yang diberikan penerjemah memenuhi kriteria terjemahan yang bermutu. Sebagian klien mengharapkan tarif yang murah namun mengharapkan hasil terjemahan yang bermutu.

Kalau menurut prinsip ekonomi kapitalis, pembeli akan berusaha mendapatkan barang/jasa dengan mutu setinggi-tingginya namun dengan harga semurah-murahnya. Tentu saja, ini adalah prinsip yang sangat tidak logis. Untuk mendapatkan barang/jasa bermutu, pembeli harus mau berkorban dengan membayar harga yang sesuai. Contoh sederhana, harga VCD bajakan (yang tentu saja bermutu rendah) jauh lebih murah daripada VCD asli; harga komputer rakitan jauh lebih murah daripada komputer yang langsung diproduksi pabrik; dan tarif pengacara handal dan berpengalaman jauh lebih mahal daripada pengacara pemula.

Sekarang kembali ke bidang penerjemahan. Untuk mendapatkan hasil terjemahan yang bermutu, seorang penerjemah harus menyediakan waktu dan mengerahkan tenaga, pengetahuan, keterampilan, dan pengalamannya, melengkapi referensinya seperti kamus berbagai bidang dan ensiklopedia, dan mempunyai koneksi Internet yang handal sebagai alat bantu untuk melakukan riset online. Semua ini tentu memerlukan biaya yang tidak sedikit.

Karena itu, secara umum, tarif jasa penerjemahan berkaitan erat dengan mutu hasil terjemahan. Penerjemah yang menetapkan tarif jasa penerjemahan yang tinggi akan menghasilkan terjemahan yang bermutu tinggi. Begitu pula sebaliknya, tarif yang murah biasanya menandakan mutu yang rendah.

Memang diakui bahwa ada sebagian kecil kasus di mana tarif jasa penerjemahan tidak berkorelasi dengan mutu hasil terjemahan. Dengan kata lain, ada juga kasus di mana penerjemah menetapkan tarif yang tinggi namun hasil terjemahannya bermutu rendah. Kasus ini bisa terjadi bila penerjemah tersebut mengetahui tarif pasaran jasa penerjemahan namun tidak jujur. Dia menyadari bahwa pengetahuan dan keterampilannya tidak sesuai dengan tarif yang dipasangnya tapi dia tetap melakukannya. Dalam jangka panjang, penerjemah seperti ini akan ditinggalkan klien.

Sayangnya, ada juga kasus di mana seorang penerjemah memasang tarif yang murah namun menghasilkan terjemahan bermutu tinggi. Kasus ini bisa terjadi bila penerjemah bersangkutan tidak mengetahui tarif pasaran jasa penerjemahan namun jujur. Artinya, dia melakukan yang terbaik untuk menghasilkan terjemahan bermutu. Namun demikian, seiring perjalanan waktu, penerjemah seperti ini akan mendapatkan semakin banyak klien dan akhirnya akan menaikkan tarifnya setelah ia mendapatkan informasi mengenai tarif pasaran yang berlaku.

Singkatnya, tarif jasa penerjemahan berkaitan erat dengan mutu hasil terjemahan. Seorang penerjemah berani memasang tarif yang tinggi apabila dia yakin mampu menghasilkan terjemahan bermutu. Sebaliknya, penerjemah yang belum percaya diri dengan pengetahuan dan keterampilan penerjemahannya akan cenderung menetapkan tarif yang lebih rendah daripada tarif pasaran.

Hipyan Nopri, S.Pd.
Penerjemah Hukum Inggris-Indonesia
Juga Menyediakan Jasa Penerjemahan Dokumen
Bisnis, Keuangan, Kedokteran, Kimia, Peternakan, dll.
Medan, Sumatera Utara

06 September 2007

Penerjemah vs Biro Penerjemah: Pilih Mana?

Secara umum, penerjemah dan biro penerjemah sama-sama merupakan penyedia jasa penerjemahan. Namun demikian, bila diteliti lebih jauh, penyedia jasa penerjemahan yang sesungguhnya adalah penerjemah karena biro penerjemah hanya berperan sebagai perantara.

Jika suatu skema jual-beli dapat kita gambarkan terdiri atas penjual dan pembeli, maka biro penerjemahan merupakan pedagang atau penjual perantara yang menghubungkan penjual produsen dan pembeli. Sebagai penjual kedua, tentu saja biro penerjemahan juga akan mengambil sejumlah keuntungan dari jualannya.

Sebagai perantara, biro penerjemah memasarkan jasa penerjemahan, dan setelah mendapat order dari klien biro tersebut memberikan order penerjemahan tsb kepada penerjemah. Dengan kata lain, biro penerjemah lebih berperan dalam hal manajemen pemasaran jasa penerjemahan.

Namun demikian, ini tidak berarti penerjemah tidak bisa memasarkan jasa penerjemahannya. Seorang penerjemah frilans dapat memasarkan sendiri jasa penerjemahannya melalui berbagai media seperti koran, newsletter (nawala), buku petunjuk telepon halaman kuning, atau Internet.

Dengan demikian, bila klien ingin mendapatkan jasa penerjemahan dengan biaya yang lebih murah, mereka lebih baik menghubungi langsung penerjemah bersangkutan untuk memperpendek rantai pemasaran jasa penerjemahan. Tanpa perantaraan biro penerjemah, tentu saja klien tidak perlu mengeluarkan biaya ekstra yang bakal dipungut biro penerjemah tersebut karena klien langsung berhubungan dengan penerjemah bersangkutan.

Sebagai ilustrasi sederhana, mari kita lihat mekanisme pemasaran kambing. Orang yang akan membeli kambing akan memperoleh harga kambing yang lebih murah jika dia membeli kambing langsung ke peternaknya dibandingkan dengan bila dia membelinya di pasar ternak.

Begitu pula dengan mekanisme pemasaran jasa penerjemahan. Orang yang memerlukan jasa penerjemah untuk menerjemahkan dokumen pentingnya akan memperoleh tarif jasa penerjemahan yang lebih murah jika dia langsung menghubungi penerjemah bersangkutan daripada menghubungi biro penerjemahan.

Namun demikian, kalau klien berupa perusahaan yang memerlukan jasa penerjemahan untuk banyak bahasa, klien biasanya selalu memberikan order kepada biro penerjemahan. Contoh klien seperti ini adalah perusahaan asing yang ingin menerjemahkan situs webnya ke sejumlah bahasa utama di dunia. Tentu bakal repot sekali kalau seorang penerjemah frilans diberi tugas untuk menangani order penerjemahan besar yang melibatkan beragam bahasa dan banyak penerjemah. Dengan keterampilan manajemen proyeknya, order seperti ini memang lebih baik ditangani biro penerjemahan.

Sebagai kesimpulan, dapat dikatakan bahwa penerjemah adalah penyedia jasa penerjemahan yang sesungguhnya, sedangkan biro penerjemah lebih berperan dalam manajemen pemasaran dan manajemen proyek penerjemahan multi-bahasa. Meskipun demikian, dengan keterampilan dan keahlian khas masing-masing, kedua pihak ini bisa melakukan kerja sama yang saling menguntungkan.

Hipyan Nopri, S.Pd.
Penerjemah Hukum Inggris-Indonesia
Juga Menyediakan Jasa Penerjemah Bidang Bisnis/Keuangan, Kedokteran, Kimia, Agrobisnis, dll.
Medan, Sumatera Utara

29 August 2007

Diskriminasi Tarif vs Diskriminasi Mutu Terjemahan?

Di telinga masyarakat umum, istilah diskriminasi mungkin mengandung konotasi negatif. Masyarakat sering mendengar istilah diskriminasi gender - karyawan laki-laki biasanya diberi gaji yang lebih besar daripada karyawan perempuan, orang tua cenderung lebih mengutamakan anak laki-laki untuk melanjutkan studi sampai perguruan tinggi, masyarakat lebih menghargai dan menghormati orang kaya daripada orang miskin, dll.

Dalam konteks di atas, istilah tersebut memang mengandung makna negatif. Namun demikian, bila dilihat dari maknanya, diskriminasi berarti pembedaan. Sama sekali tidak ada kesan negatif dari makna istilah tersebut. Karena itu, negatifitas atau positifitas istilah tersebut ditentukan oleh konteks pemakaian istilah tersebut.

Misalnya, dalam konteks sistem rangkaian pengaman listrik, istilah diskriminasi mengandung makna positif. Sistem rangkaian pengaman listrik yang baik harus mampu mendiskriminasi antara arus beban lebih (overload) dan arus start (yang besarnya bisa mencapai 2,5 kali arus nominal).

Kalau tidak ada diskriminasi, orang tidak akan pernah bisa menghidupkan perangkat komputer, kulkas, pendingin ruangan, dan alat-alat listrik rumah tangga lainnya karena pada saat perkakas ini dihidupkan sistem rangkaian pengaman listriknya langsung memutus aliran listrik. Tentu saja, hal ini sangat merugikan.

Seharusnya, sistem rangkaian pengaman tersebut hanya memutus aliran listrik apabila terjadi beban lebih atau bila terjadi hubung singkat. Dengan demikian, dalam konteks ini diskriminasi merupakan suatu keharusan.

Sekarang mari kita masuk ke dua konteks pemakaian istilah diskriminasi lainnya - diskriminasi tarif jasa penerjemahan dan diskriminasi mutu terjemahan. Mana yang berkonotasi positif dan mana yang negatif?

Sebagai penerjemah profesional, saya dengan yakin menyatakan bahwa yang pertama positif dan yang kedua negatif. Sehubungan dengan diskriminasi tarif jasa penerjemahan, saya membagi tarif menurut wilayah klien - lokal, nasional, dan internasional. Tentu saja, tarif nasional lebih tinggi daripada tarif lokal, dan tarif internasional juga lebih tinggi daripada tarif nasional.

Diskriminasi tarif ini didasarkan pada dua pemikiran logis - perbedaan daya beli dan faktor risiko bagi penerjemah. Secara umum, klien lokal mempunyai daya beli yang lebih rendah daripada klien nasional. Begitu pula, klien nasional mempunyai daya beli yang lebih rendah daripada klien internasional.

Selanjutnya, faktor risiko bagi penerjemah merujuk pada kemungkinan klien tidak membayar jasa penerjemahan. Untuk klien lokal, faktor ini sangat kecil atau boleh dikatakan nol karena klien biasanya langsung datang ke rumah memberikan order dan segera membayar lunas biaya jasa penerjemahan atau membayar panjar separuh dari nilai total biaya penerjemahan jika nilainya besar. Selain itu, klien lokal tentu saja bertempat tinggal di lokasi yang dekat dengan penerjemah. Karena itu, jika terjadi kemacetan pembayaran, biaya transportasi yang diperlukan penerjemah untuk menemui klien bermasalah tersebut relatif kecil.

Untuk klien nasional, faktor ini lebih besar daripada klien lokal karena transaksi umumnya dilakukan secara onlen, dan klien tinggal di tempat yang jauh dari penerjemah. Bila klien tidak membayar jasa penerjemahan sesuai waktu yang disepakati, tentu diperlukan biaya yang relatif besar bagi penerjemah untuk menemuinya.

Begitu pula dengan klien internasional. Transaksi antara penerjemah dan klien hanya dilakukan secara onlen, dan jarak tempat tinggal di antara keduanya sangat jauh. Seandainya terjadi masalah dalam hal pembayaran, biaya yang diperlukan untuk mengatasi masalah ini tentu jauh lebih besar dibandingkan dengan biaya yang diperlukan apabila terjadi masalah pembayaran dari klien lokal dan nasional.

Konteks yang kedua adalah diskriminasi mutu terjemahan. Ini jelas mengandung makna negatif. Sebagaimana telah saya paparkan dalam posting sebelumnya mengenai kode etik penerjemah, seorang penerjemah tidak boleh melakukan diskriminasi mutu terjemahan. Jadi, apakah order yang saya terima berasal dari klien lokal, nasional, ataupun internasional, saya akan selalu berusaha menghasilkan terjemahan dengan mutu setinggi mungkin.

Seorang penerjemah tidak boleh melakukan penerjemahan yang asal-asalan karena ordernya berasal dari klien lokal dan tarifnya jauh lebih murah daripada order dari klien nasional. Begitu pula, seorang penerjemah tidak melakukan penerjemahan dengan kualitas sedang-sedang saja karena order penerjemannya berasal dari klien nasional, yang tarifnya lebih murah daripada klien internasional. Dari mana pun order terjemahan tersebut berasal dan berapa pun tarif dan biaya total yang telah disepakati antara penerjemah dan kliennya, penerjemah bersangkutan harus melakukan usaha terbaiknya untuk mendapatkan hasil terjemahan yang benar dan akurat.

Kesimpulannya, diskriminasi tidak selalu berkonotasi negatif. Positifitas ataupun negatifitas makna istilah tersebut ditentukan oleh konteks pemakaiannya. Selain itu, diskriminasi tarif jasa penerjemahan adalah hal yang dapat diterima, sedangkan diskriminasi mutu terjemahan jelas merupakan hal yang harus dihindarkan.

Hipyan Nopri, S.Pd.
Penerjemah Dokumen Hukum Inggris-Indonesia
Juga Menyediakan Jasa Penerjemahan bidang
Bisnis/Keuangan, Kedokteran, Kimia, Agrobisnis, dll.
Medan, Sumatera Utara

27 August 2007

Apa Itu Penerjemah Penuh Waktu & Paruh Waktu?

Kita sering mendengar istilah penerjemah paruh waktu (part-time) dan penerjemah penuh waktu (full-time). Namun demikian, kalau ditanya apa yang dimaksud dengan penerjemah paruh waktu, penerjemah penuh waktu, dan perbedaan di antara keduanya, kita mungkin bingung menjawabnya.

Mungkinkah penerjemah paruh waktu adalah penerjemah yang separuh waktunya digunakan untuk menerjemah dan separuh lagi untuk melakukan pekerjaan lainnya? Mungkinkah penerjemah penuh waktu adalah penerjemah yang sepenuh waktu memusatkan perhatiannya pada kegiatan penerjemahan?

Kalau memang benar, apa yang dimaksud dengan paruh waktu dan penuh waktu itu? Apakah penerjemah paruh waktu adalah penerjemah yang melakukan kegiatan penerjemahan setengah hari saja, dan penerjemah penuh waktu adalah penerjemah yang menekuni usaha penerjemahan sehari penuh?

Dari hasil perbincangan saya dengan rekan-rekan penerjemah luar negeri dapat dirangkum pengertian sebagai berikut. Seorang penerjemah dapat dikatakan sebagai penerjemah penuh waktu apabila: (1) dia menjadikan penerjemahan sebagai pekerjaan atau profesi intinya; (2) dia bekerja paling tidak lima hari dalam seminggu (biasanya Senin sampai Jum'at); dan (3) dia bekerja setidaknya delapan jam dalam sehari.

Dengan ketiga kriteria ini, penerjemah yang tidak memenuhi salah satu kriteria di atas dapat dikategorikan sebagai penerjemah paruh waktu.

Sebagai perbandingan, saya sendiri menjadikan penerjemahan sebagai bisnis inti saya. Dengan kata lain, satu-satunya profesi saya adalah penerjemah. Selain itu, saya siaga di depan komputer dan selalu online tujuh hari dalam seminggu.

Kalau sedang ada order, tentu saja saya sibuk melakukan kegiatan penerjemahan. Sebaliknya, kalau sedang tidak ada order, saya tetap sibuk melakukan kegiatan yang ada kaitannya dengan bisnis penerjemahan saya - memperbarui atau memperbaiki profil di ProZ.com, membuat tulisan untuk blog ini, ikut serta di forum Bahtera, dan menjelajahi dunia maya untuk mencari klien baru.

Yang terakhir, sehubungan dengan jam kerja per hari, saya biasanya siaga di depan komputer dan onlen mulai dari jam 4 atau 5 pagi sampai jam 9 malam. Dengan demikian, saya termasuk penerjemah penuh waktu.

Hipyan Nopri, S.Pd.
Penerjemah Hukum Inggris-Indonesia
Juga Menyediakan Jasa Penerjemahan Dokumen
Bisnis/Keuangan, Kedokteran, Kimia, Agrobisnis, dll.
Medan, Sumatera Utara

17 August 2007

8 Kode Etik Penerjemah

Berikut ini adalah beberapa prinsip umum yang berperan sebagai kode etik penerjemah:

1. Profesionalitas
Seorang penerjemah harus bersikap sopan dan ramah kepada klien, menjelaskan perannya kepada klien, mempertahankan makna yang terkandung dalam teks sumber, menyelesaikan dan mengirimkan hasil kerjanya tepat waktu.

2. Kerahasiaan (Konfidensialitas)
Seorang penerjemah tidak boleh mempublikasikan informasi yang diperolehnya selama pengerjaan order penerjemahan tanpa izin klien.

3. Kompetensi
Seorang penerjemah tidak boleh menerima order penerjemahan yang tidak mampu dia kerjakan dengan kualitas terbaik.

4. Imparsialitas
Seorang penerjemah harus bersikap objektif dalam setiap kontrak penerjemahan.

5. Akurasi
Seorang penerjemah harus berusaha melakukan penerjemahan seakurat mungkin dengan mempertahankan makna dan gaya bahasa teks sumber.

6. Kualitas
Seorang penerjemah harus selalu berusaha menghasilkan terjemahan terbaik.

7. Pengembangan Profesi
Seorang penerjemah harus terus mengembangkan pengetahuan dan keterampilannya dan selalu mengevaluasi dan memperbaiki kinerjanya.

8. Solidaritas Profesi
Penerjemah harus saling menghormati dan menghargai di antara rekan-rekan seprofesi.

Semoga bermanfaat baik bagi penerjemah maupun pengguna jasa penerjemahan.

Hipyan Nopri, S.Pd.
Penerjemah Hukum Inggris-Indonesia
Juga Menyediakan Jasa Penerjemahan Dokumen
Bisnis/Keuangan, Kedokteran, Kimia, Agrobisnis, dll.
Medan, Sumatera Utara

16 August 2007

Penerjemah dan KTP

Ini adalah sebuah cerita ringan saya sebagai penerjemah onlen ketika mengurus KTP di kelurahan. Sebagaimana biasa, petugas mengajukan beberapa pertanyaan berkaitan dengan data pribadi saya seperti nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, alamat, agama, dan status perkawinan. Untuk semua pertanyaan ini, tidak ada persoalan sama sekali.

Yang sedikit bermasalah adalah ketika petugas menanyakan pekerjaan saya. Waktu ditanya apa pekerjaan saya, saya menjawab 'penerjemah.' Si petugas nampaknya tidak kenal dengan profesi ini dan bertanya apa yang dilakukan seorang penerjemah.

Secara sederhana saya jelaskan bahwa penerjemah itu adalah orang yang mengubah suatu teks dari teks berbahasa Inggris ke bahasa Indonesia atau sebaliknya.

Si petugas nampaknya paham dengan penjelasan saya tapi dari kerut kening dan ekspresi wajahnya terlihat bahwa dia masih agak bingung dan ragu. Katanya, selama ini dia belum pernah mendengar ada orang yang bekerja sebagai penerjemah.

Saya kembali menjelaskan, kalau di Padang memang profesi ini masih sangat langka tapi di Jakarta dan kota-kota besar lainnya sudah cukup banyak orang yang bekerja sebagai penerjemah.

Kemudian, si petugas kembali bertanya di mana saya berkantor. Sebagai penerjemah bebas (freelance translator), saya jelaskan bahwa saya bekerja di rumah.

Jawaban saya ini nampaknya membuat si petugas kembali heran. Mungkin dalam pikirannya ia bertanya 'Kok ada orang yang bekerja di rumah?' Karena itulah, kemudian dia bertanya bagaimana cara kerjanya.

Saya kembali menjelaskan bahwa sebagai penerjemah onlen, saya bekerja di rumah dan memasarkan jasa penerjemahan saya melalui Internet.

Si petugas kemudian terlihat manggut-manggut. Saya tidak tahu apakah penjelasan saya yang terakhir membuat dia semakin paham atau justru semakin bingung mengenai pekerjaan saya sebagai penerjemah.

Ternyata, si petugas menganjurkan supaya pada bagian pekerjaan ditulis saja 'wiraswasta.' Usulan ini langsung saya tolak dengan menjelaskan bahwa istilah 'wiraswasta' itu terlalu umum. Pedagang sayuran di pasar, orang yang buka warung, tukang ojek, dan juragan jengkol, semuanya termasuk pelaku wiraswasta.

Kalau istilah ini yang dipakai, pekerjaan saya sebagai penerjemah jadi kabur dan profesi ini jadi semakin tidak dikenal masyarakat. Selain itu, saya bangga dengan apa yang saya lakukan - menjadi penerjemah onlen. Saya tidak mau menutupi atau menyamarkan apa pekerjaan saya.

Karena itu, saya tetap berkeras meminta si petugas untuk menuliskan 'penerjemah' pada bagian pekerjaan di KTP. Apa gunanya mengaburkan pekerjaan saya? Ini kan pekerjaan yang baik dan halal.

Akhirnya, si petugas menyerah dan menuliskan 'penerjemah' di KTP saya. Saya tidak percaya begitu saja dan melihat apa yang dia tulis. Ternyata memang benar, kata 'penerjemah' sudah diketik di bagian pekerjaan pada KTP.


Hipyan Nopri, S.Pd.
Penerjemah Dokumen Hukum Inggris-Indonesia
Juga Menyediakan Jasa Penerjemahan Dokumen
Bisnis/Keuangan, Kedokteran, Kimia, Agrobisnis, dll.
Medan, Sumatera Utara

Apa Suka Duka Penerjemah Onlen?

Berbeda dengan profesi lain seperti dokter, pengacara, akuntan, notaris, dll., profesi penerjemah pada umumnya dan penerjemah onlen pada khususnya belum begitu dikenal masyarakat. Hal ini mungkin disebabkan oleh dua faktor utama - program pendidikan yang tersedia dan keberadaan penerjemah itu sendiri.

Dalam hal program pendidikan, belum ada program pendidikan penerjemah di Indonesia. Sebaliknya program pendidikan dokter, pengacara, akuntan, dan notaris, tersedia hampir di semua perguruan tinggi.

Sehubungan dengan keberadaan penerjemah itu sendiri, jumlah penerjemah di Indonesia masih sangat terbatas. Kalau di Jakarta, Bandung, dan Surabaya, jumlah penerjemah mungkin cukup banyak, tapi di daerah-daerah di luar ketiga kota ini masih sangat terbatas.

Tentu saja, penerjemah yang dimaksud di sini adalah penerjemah profesional atau penuh-waktu (full-time), yaitu penerjemah yang menekuni bidang penerjemahan sebagai bisnis intinya, bukan penerjemah sambilan atau part-time, yang menekuni bidang selain penerjemahan sebagai bisnis intinya dan melakukan kegiatan penerjemahan hanya sebagai kegiatan tambahan.

Jadi, tidak mengherankan bila masyarakat tidak begitu mengenal profesi penerjemah onlen.

Karena itu, sebagai salah satu cara mempromosikan profesi penerjemah onlen, saya mempublikasikan gagasan dan pengalaman saya sebagai penerjemah onlen Inggris-Indonesia melalui blog ini.

Sebagai penerjemah onlen, saya tidak harus tergesa-gesa bangun pagi dan bergegas berangkat ke kantor supaya tidak terlambat dan kena tegur atasan. Semua order penerjemahan yang masuk dikerjakan dari jam 9 pagi sampai jam 9 malam. Tujuh hari dalam seminggu saya siaga di depan komputer.

Selain itu, sebagai penerjemah onlen, saya berperan ganda sebagai bos sekaligus karyawan. Dengan kata lain saya bekerja sendiri, tanpa atasan atau bawahan. Karena itu, saya bisa mengatur sendiri jam kerja dan cara kerja saya.

Selanjutnya, penerjemah onlen bebas menentukan sendiri berapa besar penghasilan yang ingin didapatkannya. Karena penerjemah onlen adalah penerjemah bebas (frilans) yang tidak terikat pada lembaga tertentu, penerjemah onlen bebas menentukan sendiri tarif yang diinginkannya.

Sebagai penerjemah onlen, saya menetapkan tarif penerjemahan lokal Rp37,5 per kata teks sumber. Dengan halaman standar 300 kata, tarif ini setara dengan Rp7.500 per halaman hasil terjemahan. Untuk jasa penerjemahan nasional, saya mematok tarif Rp125 per kata teks sumber atau setara dengan Rp37.500 per halaman hasil terjemahan. Untuk tarif penerjemahan internasional, saya memasang tarif US$0.12 per kata teks sumber, sedangkan untuk penyuntingan (editing) tarif saya US$40 per jam per 1000 kata.

Sebagai tambahan, penerjemah onlen juga mempunyai jangkauan pasar yang tidak terbatas. Dengan adanya Internet, penerjemah onlen bisa membuat situs untuk mempromosikan jasa penerjemahannya. Situs ini bisa dilihat oleh siapa pun, di mana pun, dan kapan pun. Karena itulah, saya bisa mendapatkan order penerjemahan dari Jakarta, Semarang, Bali, dan Medan, dan bahkan dari Inggris, Perancis, Latvia, Amerika Serikat, Australia, dan Malaysia.

Namun demikian, selain cerita suka di atas, ada juga cerita duka sebagai penerjemah onlen. Yang pertama adalah order penerjemahan itu tidak datang setiap hari, setiap minggu, atau setiap bulan. Ada kalanya hari ini masuk order, besok tidak ada order; minggu ini masuk order, minggu besok kosong; bulan ini dapat order, bulan depan tidak ada satu order pun.

Yang kedua adalah kesulitan dalam mengatur waktu kerja, tidur, sosialisasi, penyegaran, dan olah raga. Kalau di Padang jam 3 sore, di Eropa pada umumnya jam kantor baru dimulai. Kalau di Padang jam 9 malam, di Amerika Serikat pada umumnya jam kantor baru dimulai. Karena itu, untuk bersiaga menghadapi kemungkinan tawaran order penerjemahan dari Eropa dan Amerika, saya harus siaga dari jam 3 sore sampai jam 12 malam, dan sering juga sampai jam 3 subuh.

Selain itu, karena kapan order masuk tidak bisa diperkirakan, penerjemah onlen harus selalu siaga di depan komputernya. Dengan demikian, saya jarang sekali keluar rumah atau ngobrol panjang lebar dengan teman-teman melalui telepon. Begitu juga, karena jarang bisa berolah raga, badan juga semakin melar.

Yang terakhir, karena masyarakat belum begitu mengenal profesi ini, apresiasi masyarat terhadap profesi penerjemah masih kurang. Kalau bertemu dengan teman-teman lama atau mantan tetangga, mereka sering bertanya 'Di mana kerja, Hipyan?' dan saya biasanya menjawab 'Di rumah.'

Mendengar jawaban ini, mereka biasanya tersenyum heran dan tidak melanjutkan dengan pertanyaan lain karena mungkin yang ada dalam pikiran mereka adalah 'Kalau di rumah berarti tidak punya kerja alias nganggur.'

Inilah sedikit cerita saya mengenai suka dan duka sebagai penerjemah onlen. Semoga bermanfaat.


Hipyan Nopri, S.Pd.
Penerjemah Dokumen Hukum Inggris-Indonesia
Juga Menyediakan Jasa Penerjemahan Dokumen
Bisnis/Keuangan, Kedokteran, Kimia, Agrobisnis, dll.
Medan, Sumatera Utara

15 August 2007

Bagaimana Penerjemah Onlen yang Terpercaya?

Dalam masyarakat pedesaan yang spiritualistis, rasa saling percaya di antara sesama warga sangat tinggi. Salah satu faktor penyebabnya mungkin adalah rasa kekeluargaan dan tolong-menolong yang masih kuat. Segala sesuatunya dilakukan dengan niat baik dan tanpa pamrih.

Sebaliknya, dalam masyarakat yang materialistis di perkotaan, rasa saling percaya sangat rendah. Hal ini mungkin disebabkan oleh rasa kekeluargaan dan tolong-menolong yang sudah sangat rendah. Segala sesuatunya dilakukan dengan motivasi uang dan perhitungan laba-rugi.

Sayangnya, untuk menjadi penerjemah onlen, penerjemah harus tinggal di daerah perkotaan. Ini menjadi suatu keharusan karena memang fasilitas listrik, telepon, dan Internet biasanya tersedia di perkotaan. Selain itu, yang membutuhkan jasa penerjemahan adalah masyarakat perkotaan.

Di sinilah beratnya tantangan sebagai penerjemah onlen. Sebagai penerjemah onlen, kita menghadapi masyarakat perkotaan yang materialistis dan rasa percayanya kepada orang lain, terutama orang yang belum dikenal, cenderung rendah. Selanjutnya, penerjemah onlen juga berhubungan dengan orang yang lokasinya berjauhan.

Dalam masyarakat materialistis, laba-rugi menjadi fokus utama. Karena itu, penerjemah sering mengalami kesulitan dalam menetapkan tarif jasa penerjemahannya. Klien cenderung berpikir untuk mendapatkan terjemahan bermutu dengan harga murah. Sementara itu, penerjemah berpikir untuk menghasilkan terjemahan bermutu dengan harga yang layak. Karena itu, kemampuan negosiasi dan komunikasi untuk meyakinkan calon klien sangat diperlukan pada diri seorang penerjemah.

Selanjutnya, sehubungan dengan rasa percaya calon klien yang rendah karena 1. mereka tinggal di tempat yang jauh dari penerjemah tsb, 2. mereka belum kenal dengan penerjemah tsb, 3. mereka khawatir akan ditipu oleh penerjemah tsb, dan 4. mereka belum tahu kemampuan penerjemah tsb, seorang penerjemah onlen tidak boleh memperlihatkan nada suara atau pun balasan email yang kurang sopan atau tersinggung.

Sebaliknya, seorang penerjemah onlen harus memberikan informasi yang dapat membuat calon klien percaya padanya. Sebagai penyedia jasa penerjemahan onlen, penerjemah onlen tentu saja harus mempunyai situs Internet yang menyajikan informasi lengkap mengenai jasa penerjemahan yang ditawarkan, kualifikasinya (jurusan dan program studi), pengalamannya, contoh terjemahannya, referensinya (kalau ada), sertifikasi/akreditasinya (kalau ada), tarifnya, prosedur pembayarannya (apakah pembayarannya sekaligus di muka, dua kali bayar - 50% di muka dan 50% setelah terjemahan dikirim), jam kerjanya (apakah part time atau full time), koneksi Internetnya (dial up atau broadband), serta kelengkapan dan kejelasan data kontaknya (data diri penerjemah, alamat rumah/kantor, nomor telepon/faks, alamat email, dan alamat situs Internet).

Dengan semua informasi ini, calon klien dapat menilai dan mempertimbangkan apakah penerjemah onlen tsb dapat dipercaya atau tidak. Sebagai contoh, pada saat seorang calon klien menghubungi penerjemah dan ternyata nama orang yang menjawab di seberang sana berbeda dengan nama penerjemah yang tercantum di situs Internetnya dan dia tidak kenal dengan penerjemah tsb berarti nomor telepon yang diberikan adalah nomor palsu.

Begitu pula, bila seorang penerjemah onlen mengklaim bahwa hasil terjemahannya sudah diakui klien internasional namun ketika diminta referensinya oleh seorang klien baru, penerjemah tsb tidak dapat memberikan perincian kontak (nama referensi, situs web, surel, nomor telepon/faks) yang dapat dihubungi, tentu saja penerjemah ini tidak dapat dipercaya.

Harus diingat bahwa dalam transaksi dengan klien baru yang nilainya cukup besar, penerjemah biasanya menawarkan kepada klien untuk melakukan pembayaran dua tahap - pembayaran pertama di muka dan pembayaran kedua setelah order selesai. Tahap pembayaran bisa lebih dari dua (misalnya, 25% di muka dan kemudian masing-masing 25% untuk setiap tahap penyelesaian order) bila nilai ordernya lebih besar lagi.

Singkatnya, sebagai klien baru Anda harus kritis dan menggunakan akal sehat dalam mempertimbangkan apakah penerjemah tsb dapat dipercaya atau tidak.


Hipyan Nopri, S.Pd.
Penerjemah Dokumen Hukum Inggris-Indonesia
Juga Menyediakan Jasa Penerjemahan Dokumen
Bisnis/Keuangan, Kedokteran, Kimia, Agrobisnis, dll.
Medan, Sumatera Utara

Produktivitas Harian Penerjemah

Yang dimaksud dengan produktivitas harian rata-rata penerjemah di sini adalah jumlah rata-rata kata teks sumber yang dapat diterjemahkan dengan nyaman dan mutu terjamin oleh seorang penerjemah dalam satu hari kerja. Diterjemahkan dengan nyaman maksudnya penerjemah dapat mengerjakan order terjemahannya dengan tenang dan penuh konsentrasi serta mendapat cukup waktu untuk melakukan riset apabila ada istilah sulit.

Diterjemahkan dengan mutu terjamin maksudnya terjemahan yang dihasilkan tidak mengandung kesalahan makna maupun tulisan. Dengan kata lain, pesan yang terdapat dalam teks sumber dapat dialihbahasakan penerjemah dengan baik sehingga dapat dipahami dan dihayati oleh pembaca teks sasaran.

Selain itu, pada hasil terjemahan tersebut tidak terdapat kesalahan ejaan dalam penulisan kata, kesalahan struktur kalimat, kesalahan struktur paragraf, ataupun kesalahan tanda baca.

Dari pengalaman pribadi saya sendiri maupun hasil tukar pikiran dengan rekan-rekan penerjemah lainnya, produktifitas rata-rata penerjemah adalah 2500 sampai 3500 kata per hari, di mana satu hari kerja adalah 8 jam, dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore.

Memang, faktanya seorang penerjemah bisa saja menyelesaikan order dengan volume yang dua kali lipat lebih banyak dari volume rata-rata tersebut. Misalnya, saya sendiri pernah menerjemahkan order dengan volume 8000 kata dan 11000 kata sehari.

Namun demikian, sehari di sini adalah dari jam 9 pagi sampai jam 9 malam (12 jam). Selain itu, untuk menyelesaikan order ini saya harus bekerja ekstra keras dan sangat memforsir tenaga dan pikiran.

Dengan kata lain, suasana kerjanya jelas tidak nyaman. Order seperti ini tergolong order mendesak (urgent job) dan tentu saja bayarannya lebih mahal dari order biasa.

Karena itu, calon klien harus mempertimbangkan tingkat produktifitas harian rata-rata ini bila mereka menginginkan hasil terjemahan yang bermutu.


Hipyan Nopri, S.Pd.
Penerjemah Dokumen Hukum Inggris-Indonesia
Juga Menyediakan Jasa Penerjemahan Dokumen
Bisnis/Keuangan, Kedokteran, Kimia, Agrobisnis, dll.
Medan, Sumatera Utara

05 July 2007

Komentar Klien Nasional

Berikut Ini Adalah Komentar Klien Nasional yang Pernah Menggunakan Jasa Penerjemahan Saya sewaktu saya masih tinggal di Padang, Sumatera Barat.

Pak Nopri,
Terima kasih untuk terjemahannya, sudah saya terima dengan baik dan sudah saya forward ke atasan saya.
Bersama ini saya ingin menyatakan penghargaan saya atas kerja sama yang baik dan cepat sehingga pekerjaan saya bisa selesai tepat waktu.


Ketika browsing di internet untuk mencari penerjemah dan menemukan blog-nya Pak Nopri, awalnya sempat ragu juga apakah pekerjaan ini bisa selesai dalam waktu yang diharapkan mengingat saya di Jakarta dan Pak Nopri di Padang. Tapi ternyata semua berlangsung dengan cepat dan memuaskan.


Saya mudah menghubungi Pak Nopri, hanya tinggal mengirimkan permintaan saya dan bahan yang akan diterjemahkan melalui fax dan semua selesai dengan baik, tepat seperti yang saya harapkan. Padahal saya baru menghubungi Pak Nopri kemarin sore dan minta agar terjemahan bisa saya dapatkan keesokan harinya, dan ternyata janji tersebut dipenuhi...dengan hasil kualitas terjemahan yang memuaskan.


Mengenai biaya, saya kira cukup terjangkau dan sepadan dengan hasil yang didapatkan. Dan cara pembayarannya pun fleksible...


Sekali lagi terima kasih Pak, semoga kita bisa bekerja sama lagi di lain waktu...Sukses selalu...

Salam

Sari
 

Stork Food Systems Indonesia
ELBE Building fl. 4
Jl. Sultan Agung No. 61
Jakarta Selatan 12970, Indonesia
P: +62 21 837 94 518/19
F: +62 21 837 94 535
E: indonesia.foodsystems@stork.com



Hipyan Nopri, S.Pd.
Penerjemah Hukum Inggris-Indonesia
Juga Menyediakan Jasa Penerjemahan Dokumen
Bisnis/Keuangan, Kedokteran, Kimia, Agrobisnis, dll.
Medan, Sumatera Utara

Mau Order? Klik Tautan Ini.