Google
 

18 September 2017

Profesi Penerjemah dan Obesitas: Pengalaman Pribadi

Saya mulai bekerja sebagai penerjemah frilans profesional di awal tahun 1990. Sebenarnya, sepanjang tahun 1989, saya sudah jadi penerjemah. Namun demikian, karena saat itu saya belum paham bagaimana menetapkan tarif, jasa penerjemahan saya berikan secara gratis.

Jasa penerjemahan gratis ini maksudnya saya tidak menentukan tarif tertentu. Meskipun begitu, jika orang yang sudah saya bantu memberi nasi bungkus, buah-buahan, atau makanan ringan, saya segan menolaknya.:)

Ya, pemberian orang sebaiknya jangan ditolak. Menurut ajaran nenek moyang, rezeki tidak boleh ditolak.

Dengan kata lain, pada masa itu saya bekerja sebagai penerjemah amatir. Sebagai penerjemah amatir, keadaan saya memang getir.

Watak orang yang dibantu memang berbeda-beda. Orang yang cukup pengertian biasanya memberikan imbalan setelah dokumennye saya terjemahkan. Sebaliknya, orang yang kurang pengertian hanya memberikan ucapan terima kasih atas jasa yang telah saya berikan.:)

Sayang sekali, ucapan terima kasih ini tidak bisa digunakan untuk membeli beras, lauk, pakaian, dll.:)

Menjelang akhir tahun 1989, saya mulai berpikir bagaimana menentukan tarif jasa penerjemahan saya dan berapa tarif jasa penerjemahan yang pantas mengingat keadaan ekonomi dan keuangan saya amat sangat memprihatinkan sekali sebagai seorang mahasiswa di rantau.

Sejak awal tahun 1990, saya mulai bekerja sebagai penerjemah profesional meskipun tarifnya masih amat sangat murah sekali, Rp125 per halaman dokumen sumber. Harga nasi bungkus di Padang pada masa itu kalau tidak salah Rp700, dan yang paling murah Rp500, yaitu nasi sayur. Sesuai namanya, nasi ini cuma ditemani sayur tanpa lauk sama sekali.

Untuk mengakalinya, saya biasanya minta kuah gulai ikan, ayam, atau daging. Dengan kuah ini, nasi sayurnya terasa lebih nikmat. Selain itu, dengan adanya kuah ini, sari ikan, ayam, atau dagingnya kita dapat juga meskipun tidak ada lauknya.:)

Sejak jadi penerjemah profesional, sepanjang hari saya duduk di depan meja mengetik terjemahan dokumen yang diserahkan para mahasiswa prasarjana dan pascasarjana IKIP Padang (sekarang UNP) dan Universitas Andalas.

Pada tahun 2005, saya mulai go national dan sekaligus go international. Berbeda dengan masa awal jadi penerjemah profesional yang cuma bermodalkan mesin tik sebagai alat tulis, di masa ini saya mulai menggunakan komputer dan Internet.

Jika dulu sebelum tahun 2005, saya bekerja dari Subuh sampai menjelang Magrib, sejah tahun itu dan seterusnya, saya mulai kerja sejak Subuh sampai sekitar jam 9 malam. Kadang-kadang, saya bahkan begadang sampai tengah malam atau lewat tengah malam mengingat perbedaan zona waktu dengan calon klien luar negeri.

Dengan demikian, waktu duduk saya setiap hari semakin lama, dan semakin malas pula berolahraga. Keadaan ini semakin diperparah oleh kebiasaan saya: semakin sibuk mengerjakan order, semakin banyak saya makan.

Akibat tidak pernah olahraga dan selera makan yang relatif besar, semakin lama badan jadi semakin gemuk. Dengan badan yang gemuk ini, badan jadi panas, cari pakaian susah, dan napas mudah sesak jika berolahraga.

Sewaktu-waktu saya memang sering berpikir bagaimana meluangkan sedikit waktu untuk melakukan kegiatan fisik di luar rumah agar lemak di badan bisa dikurangi. 

Saya pernah mencoba joging di pagi hari, tapi rasanya badan ini berat sekali untuk digerakkan, dan napas terasa sesak. Karena itu, besok paginya dan seterusnya tidak mau joging lagi.

Setelah itu, saya membeli thread mill. Alat ini saya beli dengan pertimbangan kegiatan fisik berjalan atau berlari bisa dilakukan di dalam rumah kapan saja ada waktu. Sayangnya, mirip dengan joging, kegiatan thread mill ini pun tidak berlangsung lama.:)

Selanjutnya, saya berpikir mencari olahraga yang bisa membakar lemak namun cukup santai dan menyenangkan. Alhamdulillah, di Facebook saya sering lihat status teman yang sering bersepeda. Setelah itu, saya juga tertarik untuk melakukan olahraga bersepeda. 

Alhamdulillah, sejak beli sepeda sekitar dua setengah bulan yang lalu, saya sering bersepeda di pagi hari selama satu hingga dua jam mengelilingi kampus Universitas Sumatera Utara.

Selain bersepeda di pagi hari, saya juga selalu bersepeda saat salat lima waktu ke mesjid. Ya, dengan bersepeda ke mesjid, kewajiban salat terlaksana dan lemak badan insya Allah berkurang karena melakukan gerakan fisik berulang kali setiap hari.

Satu bulan pertama sejak rajin bersepeda dan ditambah dengan diet nasi, berat badan saya mulai turun dua kilogram. Dengan diet nasi ini, saya cuma makan nasi sedikit di waktu sarapan saja. Makan siang dan malam hanya dengan sayuran dan lauk.

Mudah-mudahan saya mampu konsisten melakukan olahraga bersepeda dan diet nasi ini demi mencapai berat badan yang normal. Aamiin yra. 

Hipyan Nopri, S.Pd.
Penerjemah Hukum Inggris-Idonesia
Juga Menyediakan Jasa Penerjemahan
Dokumen Bisnis, Keuangan, Kedokteran, Kimia, dll.
Medan, Sumatera Utara

No comments: