Google
 

21 September 2017

4 Manajemen Kerja Agensi Penerjemahan

Sejak pertama kali go national dan go international pada tahun 2005, saya melihat bahwa agensi penerjemahan yang berbeda menerapkan manajemen kerja yang berbeda pula. Manajemen kerja yang saya maksud di sini adalah cara kerja agensi penerjemahan dalam menangani order penerjemahan yang diserahkan kepada penerjemah yang telah lulus ujian penerjemahan yang mereka adakan sebelumnya. 

Tentu saja, suatu agensi penerjemahan harus mengetahui dulu apakah calon penerjemah yang akan direkrutnya memenuhi syarat atau tidak. Karena itu, agensi penerjemahan biasanya meminta calon penerjemah mereka mengerjakan ujian penerjemahan pada tahap awal kerja sama mereka. 

Setelah lulus ujian penerjemahan, maka penerjemah tersebut akan masuk daftar penerjemah di agensi penerjemahan tersebut. Penerjemah yang sudah masuk daftar inilah yang nanti akan dihubungi jika agensi penerjemahan tersebut mendapat order penerjemahan dari klien. 

Jika mendapat order penerjemahan dari klien, agensi penerjemahan menghubungi penerjemah pilihannya. Cara yang paling sering mereka gunakan adalah melalui surat elektronik atau email. 

Setelah tarif dan waktu penyelesaian order penerjemahan disepakati oleh agensi penerjemahan dan penerjemah, agensi penerjemahan mengirimkan dokumen yang akan diterjemahkan melalui surat elektronik. Setelah terjemahan selesai dikerjakan penerjemah, terjemahan tersebut dikirimkan kepada agensi penerjemahan beserta faktur (surat tagihan)-nya. 

Bayaran atas jasa penerjemahan yang telah diberikan oleh penerjemah dikirim oleh agensi penerjemahan setelah satu bulan. Namun demikian, jangka waktu pembayaran ini kadang tepat waktu dan kadang terlambat sehingga penerjemah perlu menanyakan soal pembayaran jasa penerjemahannya. 

Dalam sistem manajemen kerja yang kedua, agensi penerjemahan menghubungi penerjemah mengenai adanya order penerjemahan. Jika tercapai kesepakatan mengenai tarif dan waktu penyelesaian order penerjemahan, penerjemah harus mengunduh dokumen yang akan diterjemahkan dari situs web agensi penerjemahan tersebut. 

Kemudian, penerjemah menerjemahkan dokumen tersebut hingga selesai. Setelah terjemahan selesai, penerjemah mengunggah terjemahan tersebut beserta fakturnya ke situs web tadi. Selanjutnya, bayaran secara otomatis dan tepat waktu akan dikirim ke rekening penerjemah dalam jangka waktu satu bulan. Dengan cara kerja ini, penerjemah tidak perlu menanyakan kepada agensi penerjemahan mengenai perkembangan pembayaran jasa penerjemahannya. 

Dalam manajemen kerja yang ketiga, agensi penerjemahan mengirim email kepada penerjemah menawarkan order penerjemahan. Jika tarif dan jangka waktu penyelesaian order penerjemahan disepakati, penerjemah membuka situs web agensi penerjemahan tersebut untuk membuka dokumen yang akan diterjemahkan secara onlen menggunakan CAT tool (program alat bantu penerjemahan) yang telah disediakan agensi penerjemahan. 

Setelah terjemahan selesai, penerjemah tinggal menekan tombol kirim dan kemudian menekan beberapa tombol untuk mengirimkan fakturnya. Faktur yang telah dikirim akan dibayar secara otomatis dan tepat waktu dalam waktu tiga puluh hari sejak faktur tersebut dikirim. 

Manajemen kerja agensi penerjemahan yang keempat sangat jauh berbeda dengan ketiga manajemen kerja di atas. Dalam sistem manajemen ini, penerjemah dan agensi penerjemahan sudah mendaftarkan diri sebagai anggota dari suatu situs web pasar jasa penerjemahan internasional yang dikelola oleh suatu perusahaan. 

Jika suatu agensi penerjemahan ingin menggunakan jasa penerjemahan seorang penerjemah, agensi penerjemahan tersebut tinggal menekan tombol tertentu setelah memasukkan informasi mengenai tarif dan waktu penyelesaiannya. Setelah tombol tersebut ditekan, situs web tersebut secara otomatis mengirimkan pemberitahuan kepada penerjemah mengenai tawaran order penerjemahan tersebut. 

Jika penerjemah setuju dengan tarif dan waktu penyelesaiannya, penerjemah bersangkutan tinggal menekan tombol Terima. Begitu pula jika sebaliknya. Jika tawaran order penerjemahan diterima, maka penerjemah dapat langsung mengerjakan penerjemahan secara onlen di situs tersebut menggunakan program alat bantu penerjemahan yang telah tersedia. 

Setelah terjemahan selesai, penerjemah tinggal menekan tombol kirim. Dengan sistem manajemen kerja yang terakhir ini, penerjemah tidak perlu repot menekan sejumlah tombol untuk mengirimkan faktur. Setelah terjemahan dikirim, faktur secara otomatis dibuat dan dikirim oleh sistem di situs web tersebut kepada agensi penerjemahan, dan penerjemah diberi tahu oleh sistem. 

Selain memberitahukan bahwa faktur telah dikirim kepada agensi penerjemahan, sistem juga memberi tahu perkiraan kapan agensi penerjemahan mengirimkan uang bayaran kepada perusahaan pengelola situs web tersebut dan kapan situs web tersebut secara otomatis dan tepat waktu mengirimkan uang bayaran tersebut kepada penerjemah. 

Pada sistem manajemen kerja ketiga dan keempat, penerjemah tidak harus memiliki program penerjemahan (CAT tool) tertentu karena program tersebut sudah disediakan oleh situs web, apalagi harga CAT tool program alat bantu penerjemahan relatif mahal baik menurut ukuran penerjemah Indonesia maupun penerjemah luar negeri. 

Pada manajemen pertama dan kedua, penerjemah tidak perlu membeli program alat bantu penerjemahan yang mahal jika agensi penerjemahan tidak mensyaratkan program tertentu. Namun demikian, penerjemah akan terbebani jika agensi penerjemahan menetapkan program alat bantu penerjemahan tertentu sebagai syarat penerjemahan dokumen yang mereka kirim. 

Namun demikian, dengan manajemen kerja ketiga dan keempat, penerjemah dituntut memiliki koneksi Internet yang cepat dan andal agar proses penerjemahan tidak terganggu. 

Sebagai penerjemah, saya pribadi paling suka dengan sistem manajemen kerja yang keempat karena paling praktis dan efisien.

Hipyan Nopri, S.Pd.
Penerjemah Hukum Inggris-Indonesia 
Juga Menyediakan Jasa Penerjemahan Dokumen 
Bisnis, Keuangan, Kedokteran, Kimia, Pertanian, Peternakan, dll.
Medan, Sumatera Utara

No comments: