31 March 2017

Power of Attorney vs Letter of Authorization: Sama atau Beda?

Naskah Sumber:

Differences between a Power of Attorney
and a Letter of Authorization

Actors and baseball players aren't the only people who need agents. Life is complicated so we often must appoint surrogates to help carry out our wishes, handle our money or make life-and-death decisions about our health care. You can use both the power of attorney and the letter of authorization to designate agents, their duties and their limitations. Be aware, however, of the important differences between the two kinds of documents.

Letter of Authorization
A letter of authorization is a document that gives another person, known as an "agent," the authority to act on another person's behalf, known as the "principal." The letter spells out the specific task that the principal has assigned to the agent. The principal can be an individual, corporation or some other entity. The task can be picking up the principal's dry cleaning, borrowing money on the principal's behalf or negotiating a contract for the principal. Under agency law, the agent's actions on the principal's behalf bind the principal. In other words, the agent steps into the principal's shoes and the principal is responsible for the agent's actions -- and mistakes -- undertaken on the principal's behalf.

Power of Attorney
A power of attorney is a document, signed by a principal and typically notarized, that gives another person the power to make decisions on behalf of the principal in accordance with the terms of the document.. The party being granted authority to act is commonly referred to as an "agent" or "attorney in fact." The agent need not be a lawyer, however. A general power of attorney allows the agent to undertake a range of activities on the principal's behalf, such as managing the principal's money and handling the principal's real property. A special power of attorney is akin to the letter of authorization, spelling out just that the agent is authorized to do on the principal's behalf. A durable power of attorney stays in effect even if the principal becomes incapacitated because, otherwise, a principal who can't make decisions can't delegate powers to an agent. If the power of attorney lets the agent make health care decisions on the principal's behalf when the principal is too sick to make them himself, it's called a health care power of attorney.

Usually the agent's authority expires once the act described in the letter of authorization is carried out. The power of attorney, however, is usually open-ended. If there is no expiration date written into the power of attorney, the agent can continue acting on the principal's behalf until the principal revokes the power. The principal does this by issuing a written and signed revocation and sending it to the agent and any other party who received the power of attorney. If the power of attorney deals with real estate transactions and is on file with the county clerk, the revocation must be filed with the clerk, too. The principal also can revoke a power of attorney or letter of authorization by tearing them up. If the principal dies, the power and authorization die with him.

The principal pays for the agent's mistakes so the principal should choose his agent carefully. After all, the principal may literally be entrusting his life to his agent. In most cases, the agent is a friend or relative of the principal and no money changes hands. If the agent is to be compensated for his work, the financial details should be spelled out in the authorization letter or power of attorney. Letters of authorization rarely are notarized, but signatures on powers of attorney should be. Hospitals and nursing homes usually require that durable powers of attorney be witnessed and notarized.

Naskah Terjemahan:

Perbedaan antara Surat Kuasa (Power of Attorney)
dan Surat Otorisasi (Letter of Authorization)

Bukan hanya aktor dan pemain bisbol yang membutuhkan penerima kuasa. Hidup ini rumit sehingga kita sering harus menunjuk wakil kita untuk membantu melaksanakan keinginan kita, menangani uang kita atau membuat keputusan hidup-mati mengenai perawatan kesehatan kita. Anda dapat menggunakan surat kuasa dan surat otorisasi untuk menunjuk penerima kuasa, tugas mereka, dan batasnya. Namun demikian, anda harus mengetahui perbedaan penting antara kedua jenis dokumen ini.

Surat Otorisasi
Surat otorisasi adalah dokumen yang memberikan kepada orang lain, yang dikenal sebagai "penerima kuasa," wewenang untuk bertindak atas nama orang lain, yang dikenal sebagai "pemberi kuasa." Surat ini menguraikan tugas tertentu yang diserahkan pemberi kuasa kepada penerima kuasa. Pemberi kuasa bisa jadi seorang individu, perusahaan, atau suatu badan hukum lainnya. Tugas tersebut bisa berupa pengambilan cucian pakaian pemberi kuasa, peminjaman uang atas nama pemberi kuasa, atau negosiasi kontrak atas nama pemberi kuasa. Menurut undang-undang pemberian kuasa, tindakan penerima kuasa atas nama pemberi kuasa mengikat pemberi kuasa. Dengan kata lain, penerima kuasa mengambil alih tugas pemberi kuasa, dan pemberi kuasa bertanggung jawab atas semua tindakan dan kesalahan yang dilakukan penerima kuasa atas nama pemberi kuasa.

Surat Kuasa
Surat kuasa adalah dokumen, yang ditandatangani oleh pemberi kuasa dan biasanya disahkan oleh notaris, yang memberi orang lain kuasa untuk membuat keputusan atas nama pemberi kuasa sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam dokumen tersebut. Pihak yang diberi wewenang untuk bertindak sering disebut sebagai "agen" atau "penerima kuasa." Namun demikian, penerima kuasa tidak mesti seorang pengacara. Surat kuasa umum memungkinkan penerima kuasa untuk melakukan berbagai kegiatan atas nama pemberi kuasa, seperti mengelola uang pemberi kuasa dan menangani properti riil pemberi kuasa. Surat kuasa khusus sama dengan surat otorisasi, yang menguraikan apa yang boleh dilakukan penerima kuasa atas nama pemberi kuasa. Surat kuasa jangka panjang tetap berlaku walaupun pemberi kuasa menjadi tidak cakap karena, jika tidak, pemberi kuasa yang tidak dapat membuat keputusan tidak dapat memberikan kuasa kepada penerima kuasa. Jika surat kuasa mengizinkan penerima kuasa membuat keputusan perawatan kesehatan atas nama pemberi kuasa ketika pemberi kuasa terlalu sakit untuk membuatnya sendiri, maka surat kuasa tersebut disebut surat kuasa perawatan kesehatan.

Biasanya wewenang penerima kuasa berakhir setelah tugas yang diuraikan dalam surat otorisasi terlaksana. Namun demikian, surat kuasa biasanya tanpa batas yang pasti. Jika tidak ada tanggal kedaluwarsa yang tertulis dalam surat kuasa, penerima kuasa dapat terus bertindak atas nama pemberi kuasa sampai pemberi kuasa mencabut kuasa tersebut. Pemberi kuasa melakukan ini dengan menyatakan pembatalan tertulis dan ditanda tangani dan mengirimnya ke penerima kuasa dan pihak lain yang menerima surat kuasa tersebut. Jika surat kuasa berhubungan dengan transaksi tanah dan bangunan dan terdaftar di panitera pengadilan negeri, pembatalan tersebut juga harus diajukan kepada panitera tersebut. Pemberi kuasa juga dapat membatalkan surat kuasa atau surat otorisasi dengan merobeknya. Jika pemberi kuasa meninggal, maka kuasa dan otorisasi juga meninggal bersamanya.


Pemberi kuasa bertanggung jawab atas kesalahan penerima kuasa sehingga pemberi kuasa harus hati-hati memilih penerima kuasanya. Bagaimanapun, pemberi kuasa dapat benar-benar mempercayakan hidupnya kepada penerima kuasanya. Biasanya, penerima kuasa adalah teman atau kerabat pemberi kuasa dan tidak ada uang yang berpindah tangan. Jika penerima kuasa akan diberi imbalan atas pekerjaannya, perincian keuangan harus dijabarkan dalam surat otorisasi atau surat kuasa. Surat otorisasi jarang disahkan oleh notaris, tetapi tanda tangan pada surat kuasa harus disahkan oleh notaris. Rumah sakit dan panti jompo biasanya meminta agar surat kuasa jangka panjang ditanda tangani saksi dan disahkan oleh notaris.

Hipyan Nopri, S.Pd.
Penerjemah Dokumen Hukum Inggris-Indonesia
Juga Menyediakan Jasa Penerjemahan Dokumen
Bisnis/Keuangan, Kedokteran, Kimia, Agrobisnis, dll.
Medan, Sumatera Utara

No comments: