Google
 

24 May 2016

Padanan Dismissal With Prejudice vs Dismissal Without Prejudice

Dalam konteks hukum di negara yang berbahasa Inggris, dismissal with prejudice dan dismissal without prejudice merupakan frasa yang dinyatakan dalam putusan hakim yang menolak gugatan atau tuntutan yang diajukan penggugat atau penuntut.

Dismissal with prejudice bermakna bahwa gugatan atau tuntutan yang diajukan oleh penggugat atau penuntut ditolak oleh hakim dengan hilangnya hak untuk mengajukan gugatan atau tuntutan kembali atas perkara yang sama.

Dismissal without prejudice berarti bahwa gugatan atau tuntutan yang diajukan oleh penggugat atau penuntut ditolak oleh hakim tanpa kehilangan hak untuk mengajukan gugatan atau tuntutan kembali pada perkara yang sama.

Pada kasus pertama, setelah gugatan atau tuntutannya ditolak hakim, penggugat atau penuntut tidak bisa lagi mengajukan gugatan tuntutan atas perkara yang sama meskipun penggugat atau penuntut mendapat bukti atau landasan hukum baru.

Pada kasus kedua, penggugat atau penuntut masih memiliki kesempatan untuk mengajukan kembali gugatan atau tuntutannya di kemudian hari jika diperoleh bukti baru.

Kedua konsep di atas tidak sama dengan asas ne bis in idem, yaitu seseorang tidak bisa digugat atau dituntut kembali atas kasus yang sama yang telah mendapat putusan yang telah berkekuatan hukum tetap, sebagaimana yang berlaku di Indonesia.

Dalam sistem hukum Common Law juga ada asas ne bis in idem yang berlaku secara umum, kecuali untuk tindak pidana berat seperti pembunuhan dengan sengaja dan pembajakan. Untuk tindak pidana kelas berat ini masih ada kesempatan bagi jaksa untuk mengajukan satu kali lagi penuntutan untuk perkara yang sama jika ditemukan bukti baru dan meyakinkan.

Namun demikian, konsep ne bis in idem berbeda dengan dismissal with prejudice dan dismissal without prejudice. Ne bis in idem berlaku untuk perkara yang telah mendapat putusan yang berkekuatan hukum tetap. Dismissal with prejudice dan dismissal without prejudice dilakukan pada persidangan awal perkara; belum membahas pokok perkara.

Konsep dismissal with prejudice dan dismissal without prejudice ini juga tidak sama dengan putusan sela. Pada kasus putusan sela, selanjutnya masih ada sidang berikutnya sampai selesai.

Pada kasus dismissal with prejudice, persidangan selesai sampai di situ; tidak ada sidang lagi dan tidak boleh ada gugatan atau tuntutan lagi sehubungan dengan perkara yang sama. Untuk putusan dismissal without prejudice, sidang berhenti sampai di situ, tapi jika di kemudian hari ada bukti baru dan meyakinkan, gugatan atau tuntutan bisa diajukan kembali untuk perkara yang sama.

Dengan demikian, memang cukup sulit mencari padanan istilah hukum bahasa Indonesia dari kedua istilah hukum bahasa Inggris di atas karena mekanisme dan sistem hukum yang cukup berbeda.

Namun demikian, untuk saat ini saya mengusulkan ‘penolakan dengan kerugian’ untuk ‘dismissal with prejudice’ dan ‘penolakan tanpa kerugian’ untuk ‘dismissal without prejudice.’ Padanan seperti ini saya usulkan karena dalam konteks hukum, salah satu makna prejudice adalah kerugian. Kerugian yang dimaksud dalam konteks ini adalah hilangnya kesempatan atau peluang untuk mengajukan kembali gugatan atau tuntutan terhadap perkara yang sama.

Hipyan Nopri, S.Pd.
Penerjemah Hukum Inggris-Indonesia
Medan, Sumatera Utara

No comments: