Google
 

16 January 2013

Keseleo Lidah Calon Hakim Agung

Dalam sidang uji kelayakan dan kepatutan calon hakim agung baru-baru ini, salah seorang calon hakim agung berkomentar: Pemerkosa dan terperkosa (orang yang diperkosa) sama-sama menikmati (hubungan seks paksa tersebut).

Ini jelas sebuah komentar seorang pakar dan praktisi hukum yang sungguh benar-benar amat sangat begitu keterlaluan sekali.

Komentar ini sungguh ter-la-lu karena sama sekali tidak menunjukkan empati dan simpati kepada para korban pemerkosaan. Apakah rasa empati dan simpati ini baru akan muncul setelah anak perempuan, saudara perempuan, isteri, ibu, atau nenek kita diperkosa? Bukankah seharusnya kita bersyukur diberi kesempatan oleh Allah swt untuk menumbuhkan kedua rasa ini tanpa harus mengalami secara langsung musibah tersebut?

Komentar ini sungguh ter-la-lu karena diucapkan dalam suasana yang menuntut kecerdasan, kesungguhan,  dan kejujuran. Dalam acara lawak saja kata-kata seperti ini sangat tidak pantas diucapkan, apalagi dalam sebuah acara serius.

Komentar ini sungguh ter-la-lu karena diucapkan oleh seorang hakim senior yang mencalonkan diri untuk menjadi hakim agung. Seorang hakim, apalagi calon hakim agung, seharusnya merupakan orang yang mengerti dan sadar hukum, adil, dan memahami makna dan konsekuensi dari kata-kata yang diucapkannya. Dia seharusnya menyadari bahwa kesalahan penggunaan kata dalam konteks hukum dapat menimbulkan akibat fatal.

Seharusnya dia menyadari bahwa komentar seperti itu berarti bahwa tidak ada unsur paksaan dalam pemerkosaan karena kedua pihak sama-sama menikmatinya.

Tentu saja ini merupakan pernyataan seorang hakim yang sangat keliru. Yang namannya tindak pidana pemerkosaan itu harus memenuhi unsur paksaan dalam melakukan hubungan seks. Kalau menikmati hubungan seks tersebut berarti kedua pihak sama-sama mau dan tidak terpaksa.

Kalau tidak ada unsur paksaan berarti hubungan seks tersebut bukan pemerkosaan tapi tergolong perzinahan atau hubungan seks bebas.

Dengan kata lain, pernyataan calon hakim agung di atas berarti pemerkosaan itu bukan tindak pidana. Artinya, pemerkosa tidak bisa diadili dan dihukum. Artinya lagi, tidak ada korban dalam tindak pemerkosaan. Artinya lagi, pemerkosaan bukan merupakan kejahatan.

Sayangnya, si calon hakim agung menyatakan tetap melanjutkan pencalonannya ketika diwawancarai wartawan Metro TV kemarin sore.

Keputusan melanjutkan pencalonan ini berarti si calon hakim agung merasa bahwa kesalahannya itu merupakan merupakan kesalahan ringan yang dapat dimaafkan. Dengan kata lain, beliau beranggapan bahwa ucapannya tersebut merupakan kekeliruan sepele. Karena itu, dia tidak memutuskan untuk mengundurkan diri dari pencalonannya.

Ini sangat berbeda dengan kasus yang sering terjadi di luar negeri: pejabat yang terindikasi melakukan tindakan tercela atau melawan hukum segera meminta maaf dan dengan kesatria menyatakan mundur dari jabatannya. Di Indonesia, pejabat kesatria seperti ini masih sungguh benar-benar amat sangat begitu langka sekali. Namun demikian, jiwa kesatria Andi Malarangeng layak dijadikan teladan. Meskipun baru terindikasi terlibat dalam kasus Hambalang, beliau segera menyatakan mundur dari jabatannya sebagai Menpora.

Dengan pernyataannya yang kontroversial itu dan uraian di atas kita dapat menyimpulkan bahwa calon hakim agung ini tidak memenuhi syarat keagungan jiwa seorang hakim. Karena itu, seharusnya beliau segera menyatakan mengundurkan diri dari pencalonannya. Keputusannya untuk tetap bertahan dalam pencalonan hakim agung akan menimbulkan dampak yang memalukan dan merugikan kalau ternyata para anggota DPR tidak memilihnya akibat pernyataan tercelanya itu. Keagungan justru akan terlihat kalau beliau menunjukkan kebesaran jiwa dengan segera mengundurkan diri dari pencalonan hakim agungnya.

Hipyan Nopri, S.Pd.
Penerjemah Hukum Inggris-Indonesia
Medan, Sumatera Utara

No comments: