Google
 

14 February 2011

Penerjemahan Lisan dan Penerjemahan Tulisan: Pilih yang Mana?

Penerjemahan lisan adalah penerjemahan ucapan pembicara secara langsung. Penerjemahan lisan ada yang dilakukan relatif bersamaan dengan pengucapan kata-kata pembicara dan ada juga yang dilakukan setelah pembicara selesai mengucapkan kata-katanya. Penerjemahan lisan yang pertama dinamakan penerjemahan lisan simultan, dan cara penerjemahan lisan yang kedua dinamakan penerjemahan lisan konsekutif.

Dalam penerjemahan lisan simultan, penerjemah lisan (interpreter, juru bahasa) tidak punya kesempatan untuk berpikir. Pada saat pembicara mengucapkan kata-katanya, saat itu pula penerjemah lisan harus menerjemahkannya. Dengan kata lain, penerjemah lisan harus mampu berpikir kilat untuk menangkap makna yang dimaksudkan si pembicara.

Dalam penerjemahan lisan konsekutif, penerjemah lisan mendapat kesempatan untuk berpikir meskipun tidak lama. Namun demikian, dalam metode penerjemahan lisan ini penerjemah lisan mendapatkan cukup waktu untuk menangkap makna yang dimaksud dari kata-kata si pembicara.

Dengan demikian, penerjemahan lisan simultan lebih menantang bagi penerjemah lisan dibandingkan dengan penerjemahan lisan konsekutif.

Selain tantangan waktu yang sangat singkat ini, dalam penerjemahan lisan seorang penerjemah lisan juga menghadapi berbagai kemungkinan gangguan seperti ucapan si pembicara yang kurang jelas, ucapan pembicara yang terlalu cepat, gangguan mikrofon, gangguan suara lain selain suara si pembicara, kesalahan ucapan si pembicara baik sengaja atau pun tak sengaja.

Dari pengalaman penerjemahan lisan saya, masalah yang paling sering dihadapi adalah ucapan pembicara yang terlalu cepat. Mungkin karena banyak pejabat pemerintah yang baru kali itu berbicara berhadapan dengan orang asing, mereka umumnya tidak sadar kalau ucapan mereka harus diatur agar tidak terlalu cepat supaya bisa diterjemahkan oleh penerjemah lisan agar dapat dipahami oleh orang asing lawan bicara mereka. Sayangnya, meskipun sudah diingatkan dari awal dan juga diingatkan kembali saat pembicaraan berlangsung, mereka umumnya tetap berbicara dengan kecepatan tinggi.:)

Selain itu, penerjemahan lisan juga tidak memberikan kesempatan kepada penerjemah lisan untuk melihat kamus atau bahan rujukan oflen maupun onlen. Jadi, penerjemah lisan benar-benar mengandalkan dirinya sendiri dalam melaksanakan tugasnya melakukan penerjemahan lisan.

Dalam tugas penerjemahan lisan, seorang penerjemah lisan juga harus berangkat meninggalkan rumahnya ke tempat tugas yang telah ditentukan pada jam tertentu dan baru bisa pulang pada jam tertentu pula. Tempat tugas ini bisa jadi tidak berapa jauh dari rumah dan bisa juga sangat jauh dari rumah. Seorang penerjemah lisan bisa saja melakukan tugas penerjemahan lisan di dalam provinsi, di luar provinsi, atau bahkan di luar negeri. Waktu pelaksanaan tugas penerjemahan lisan pun bisa bervariasi dari hitungan jam, hari, bahkan bulan.

Sebaliknya, penerjemahan tulisan memberikan waktu yang relatif longgar kepada penerjemah tulisan untuk memahami kata-kata tertulis yang akan diterjemahkannya. Kalau dibandingkan dengan penerjemahan lisan, penerjemahan tulisan jauh lebih santai. Waktu yang diberikan klien kepada penerjemah lisan untuk menyelesaikan tugas penerjemahan lisan biasanya tidak membuat penerjemah tulisan harus berpacu dengan waktu.

Penerjemah tulisan menghadapi naskah tertulis yang umumnya ditulis dengan rapi, baik dan benar sesuai dengan kaidah bahasa. Dengan demikian, naskah yang akan diterjemahkan sangat jelas dan bebas gangguan.

Selanjutnya, penerjemahan tulisan memberikan kesempatan kepada penerjemah tulisan untuk memanfaatkan berbagai kamus atau bahan rujukan oflen maupun onlen. Dengan demikian, seorang penerjemah tulisan dapat melakukan riset yang mendalam kalau dia menghadapi istilah yang cukup sulit ditangkap maksudnya.

Yang terakhir, dalam penerjemahan tulisan, penerjemah tulisan tidak harus meninggalkan anak dan istrinya karena penerjemahan tulisan biasanya dilakukan di rumah saja. Seorang penerjemah tulisan menghasilkan uang dengan bekerja di rumah, dan bisnis jasa penerjemahan dan promosi jasa penerjemahannya dilakukan dari rumah melalui fasilitas Internet yang tersedia.

Dengan uraian singkat di atas, mana yang lebih enak, penerjemahan lisan ataukah penerjemahan tulisan?

Tentu saja jawabannya sangat subjektif. Masing-masing penerjemah akan menentukan pilihan yang berbeda sesuai dengan keinginan dan kecenderungannya.

Saya sendiri lebih suka bekerja sebagai penerjemah tulisan daripada penerjemah lisan. Dari pengalaman menjadi penerjemah lisan untuk tim bantuan gempa Amerika, Jepang, dan Filipina setelah gempa besar Sumatera Barat 30 September 2009, saya dapat merasakan bagaimana repotnya menjadi penerjemah lisan yang harus datang ke kantor jam 08:00 pagi dan baru pulang jam 09:00 malam. Kadang-kadang saya bahkan harus kerja lembur sampai di atas jam 12:00 malam.

Penerjemahan lisan yang saya lakukan waktu itu menggunakan metode penerjemahan lisan simultan. Penerjemahan lisan ini dilakukan dalam rapat, wawancara dengan pejabat pemerintah, dan wawancara dengan masyarakat korban gempa.

Kesibukan pergi ke kantor-kantor pemerintah dan ke lokasi-lokasi bencana memang semakin memperluas wawasan, pengalaman, dan pergaulan. Namun demikian, kebebasan waktu di pihak penerjemah lisan tidak ada. Penerjemah lisan benar-benar terikat oleh jam kerja setiap hari. Jadi, dalam tugas penerjemahan lisan ini seorang penerjemah lisan bekerja seperti seorang pegawai. Penerjemah berhadapan langsung dengan klien, dan klien secara langsung mengawasi pekerjaan penerjemah lisan.

Keterikatan waktu inilah yang membuat saya lebih suka bekerja sebagai penerjemah tulisan. Sebagai penerjemah tulisan, saya bekerja dengan nyaman dan santai di rumah menggunakan komputer dan fasilitas Internet. Jam kerja dan jam istirahat sepenuhnya penerjemah yang menentukan. Penerjemah tulisan bebas menentukan waktu untuk mulai mengerjakan order penerjemahan, kapan mau istirahat, tidur, dan berkumpul serta bermain dengan anak dan istri.

Karena itu, saya pernah menolak tawaran order penerjemahan lisan yang akan dilakukan di Batam, Jakarta, dan Singapura.:)

Yang terakhir, saat sedang mengerjakan satu order penerjemahan tulisan, penerjemah tulisan masih bisa menerima tawaran order penerjemahan tulisan lainnya. Dengan demikian, penerjemah tulisan bisa menerima dan mengerjakan lebih dari satu order penerjemahan tulisan pada jangka waktu yang sama. Saya sendiri pernah menerima dan mengerjakan tiga order penerjemahan dari klien internasional yang berbeda dalam minggu yang sama.

Sebaliknya, penerjemah lisan tidak bisa atau sulit sekali menerima tawaran order penerjemahan lisan lainnya kalau sedang mengerjakan satu order penerjemahan lisan.
Waktu saya jadi penerjemah lisan tim bantuan gempa Amerika, saya terpaksa menolak tawaran Kedutaan Besar Australia di Jakarta yang meminta saya menjadi penerjemah lisan tim bantuan gempa Australia.

Meskipun demikian, waktu saya jadi penerjemah lisan tim bantuan gempa Jepang, saya masih sempat menerima satu order penerjemahan bernilai sekitar Rp45 juta dari agensi penerjemahan Australia. Bisa dibayangkan betapa sibuknya saya saat itu: setiap hari dari pagi sampai paling cepat menjelang magrib jadi penerjemah lisan orang Jepang, dengan cerdik memanfaatkan waktu luang untuk mengerjakan order penerjemahan tulisan di siang hari saat orang Jepang sedang tidak memerlukan penerjemahan lisan, malam hari istirahat sebentar terus mengerjakan order penerjemahan tulisan, dan pagi-pagi sekali sudah harus bangun untuk shalat Subuh dan bersiap berangkat ke kantor.

Tentu saja, order penerjemahan tulisan ini bisa diterima karena order penerjemahan lisan yang sedang dikerjakan cukup banyak waktu luangnya meskipun saya harus berkantor dari pagi sampai malam.

No comments: