Google
 

23 April 2008

Mengapa Penerbit Buku Cenderung Mematok Tarif Penerjemahan yang Rendah?

Dari pengamatan dan pengalaman saya sebagai penerjemah selama ini, penerbit buku dalam maupun luar negeri cenderung mematok tarif penerjemahan yang rendah.

Alasan klasik yang selalu mereka kemukakan adalah bahwa bila penerjemah dibayar dengan tarif yang layak, penerbit akan kesulitan memasarkan buku terjemahan tersebut karena mereka harus memasang harga yang mahal. Alasan kedua yang juga sering dikemukakan adalah mengingat volume order penerjemahan buku yang biasanya besar (satu buku biasanya terdiri dari ratusan halaman), maka wajar saja bila penerbit meminta diskon yang cukup besar.

Benarkah alasan yang menjadi andalan penerbit untuk menekan penerjemah ini? Apakah alasan ini mempunyai landasan logika ekonomi yang kuat?

Kedua alasan klasik tersebut sama sekali tidak benar dan tidak mempunyai dasar logika yang kuat.

Para penerjemah seharusnya sadar bahwa di dalam industri penerbitan berlaku ekonomi skala (scale economy), yaitu semakin banyak buku yang diterbitkan, semakin tinggi efisiensi produksinya, dan dengan demikian semakin besar keuntungan yang diperoleh penerbit. Keuntungan yang diperoleh ini akan terus meningkat berkali lipat bila buku yang sama diterbitkan kembali berulang kali.

Bila penerjemah menerapkan tarif standarnya untuk penerjemahan sebuah buku, penerbit hanya sekali saja membayar tarif yang "mahal." Dalam satu kali penerbitan dengan jumlah buku tertentu yang telah diperhitungkan berdasarkan biaya produksi dan biaya penerjemahan, penerbit sudah dapat memperoleh keuntungan. Pada penerbitan-penerbitan berikutnya, yang dapat diulang berkali-kali, penerbit tidak perlu mengeluarkan uang lagi untuk biaya penerjemahan karena mereka menerbitkan buku yang sama yang telah diterjemahkan sebelumnya.

Dengan kata lain, penerjemahan hanya diperlukan satu kali saja, dan penerbitan bisa dilakukan berulang kali. Tentu saja, keuntungan yang diperoleh akan meningkat berlipat ganda.

Sekarang mari kita lihat sisi penerjemahnya. Sebagaimana sudah dikatakan di atas, penerjemahan buku hanya diperlukan sekali saja. Karena itu, penerjemah mendapat keuntungan satu kali saja dari satu kali order penerjemahan yang diberikan penerbit tersebut. Tentu saja, penerbit tidak akan meminta penerjemah untuk menerjemahkan kembali buku yang sama.

Selanjutnya, di pihak penerjemah tidak berlaku ekonomi skala. Artinya, volume order penerjemahan yang makin besar tidak membuat seorang penerjemah mengeluarkan biaya yang makin kecil. Semakin besar volume order penerjemahan yang dikerjakannya, semakin lama waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan terjemahan tersebut; semakin besar tenaga yang diperlukan dalam proses penerjemahan tersebut; semakin banyak riset offline maupun online yang diperlukan selama penerjemahan berlangsung; semakin tinggi tingkat konsentrasi dan ketelitian yang dituntut agar kualitas terjemahan tetap terjamin; semakin besar tanggung jawab penerjemah atas terjemahan yang dihasilkannya; dan semakin besar risiko yang dihadapi penerjemah.

Singkatnya, semakin besar volume order penerjemahan yang diterima penerjemah, semakin besar biaya yang diperlukan untuk menyelesaikan terjemahan tersebut. Dengan demikian, diskon seharusnya tidak berlaku dalam bisnis jasa penerjemahan karena ekonomi skala tidak berlaku dalam bisnis jasa penerjemahan.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan:
1. Penerbit
a. Hanya perlu mengeluarkan satu kali saja biaya penerjemahan buku yang akan diterbitkan. Selanjutnya, penerbit dapat menerbitkan buku yang sama berulang kali. Karena itu, mereka dapat memperoleh keuntungan berlipat ganda.
b. Semakin banyak jumlah buku yang dicetak dalam satu kali penerbitan, semakin tinggi efisiensi produksinya, dan dengan demikian semakin besar keuntungan yang diperoleh.
2. Penerjemah
a. Hanya mendapat satu order penerjemahan saja untuk satu buku yang akan diterbitkan. Penerjemah tidak bisa kembali menerjemahkan buku yang telah diterjemahkannya. Karena itu, penerjemah tidak bisa melipatgandakan keuntungan yang diperolehnya.
b. Semakin besar volume order penerjemahan yang diterima penerjemah, semakin besar biaya yang dikeluarkannya untuk menyelesaikan terjemahan tersebut.

Berdasarkan uraian di atas, jelas bahwa penerjemah sebenarnya bisa menetapkan tarif standarnya untuk order penerjemahan buku yang ditawarkan penerbit. Dengan memberikan bayaran yang layak kepada penerjemah, penerbit tidak akan rugi. Sebaliknya, mereka tetap dapat memperoleh keuntungan berlipat ganda dari satu penerjemahan buku yang kemudian diterbitkan.

Yang terakhir, permintaan diskon dari penerbit untuk order penerjemahan buku jelas tidak dapat diterima karena ekonomi skala tidak berlaku dalam bisnis jasa penerjemahan.

Sehubungan dengan uraian di atas, penerbit jelas mendapatkan keuntungan yang sangat jauh lebih besar dibandingkan dengan penerjemah. Namun demikian, kembali ke judul tulisan ini - mengapa penerbit cenderung mematok tarif penerjemahan buku yang murah?

Mereka mematok tarif penerjemahan yang murah karena mereka menerapkan prinsip ekonomi kapitalis yang sangat tidak adil dan tak berperikemanusiaan - mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dengan pengorbanan sekecil-kecilnya.

Apakah rekan penerjemah masih tetap akan menerima tawaran tarif penerjemahan buku yang murah dari penerbit atau mulai berani bersikap dan mengambil keputusan untuk mengenakan tarif yang layak, itu semua tergantung pada diri masing-masing penerjemah.

Namun demikian, sebagai seorang penerjemah yang telah belasan tahun menekuni bisnis penerjemahan dan sering bertukar pikiran dengan rekan-rekan penerjemah dari seluruh dunia, saya sangat berharap rekan-rekan penerjemah Indonesia mulai menyadari dan terus meningkatkan profesionalisme dan profesionalitas mereka.

Dengan demikian, di masa yang akan datang tidak ada lagi penerjemah yang tanpa disadari atau dengan sengaja banting harga atau sebaliknya menerima tarif order penerjemahan yang tidak layak yang ditawarkan oleh klien.

No comments: