Google
 

12 January 2008

Sample General Translation

English Source Text
Is Democracy Losing Its Romance?
Back in the 1980s, when hawks were hawks and doves were doves, it used to be said that democracies don’t fight each other. When doves argued for “peace” in, say, Central America, the hawks answered that the best assurance of peace in any region was the establishment of democracy, even by violent means if necessary. Once established, democratically elected governments will never choose to spend the people’s blood and treasure making war against their democratically elected neighbors.
It’s a nice thought. Unfortunately, it’s been disproved in Yugoslavia, where the fall of communism has brought a vicious three-way war. Serbia and Croatia, both under democratically elected Presidents, intermittently fight each other while jointly dismembering democratic Bosnia. Serbia had a parliamentary election December 19 in which all the parties supported Serbia’s aggression – although it has left the country a basket case. The Yugoslav mess is one reason some former hawks have become born-again doves. They have lost their interest in promoting democracy. They look at the post-communist world and see that the common cause of war is nationalist hatred – which democracy, far from suppressing, actually gives vent to.

Indonesian Target Text
Apakah Demokrasi Mulai Kehilangan Pesonanya?
Kembali pada tahun 1980-an, ketika pendukung kekerasan adalah pendukung kekerasan dan pendukung perdamaian adalah pendukung perdamaian, sering dikatakan bahwa negara demokrasi tidak saling menyerang. Misalnya, ketika pendukung perdamaian menuntut 'perdamaian' di Amerika Tengah, pendukung kekerasan menjawab bahwa jaminan perdamaian yang paling baik di setiap kawasan adalah pembentukan negara demokrasi, bahkan bila perlu dengan jalan kekerasan. Bila sudah terbentuk, pemerintah yang terpilih secara demokratis tidak akan pernah berpikir untuk menggunakan darah dan harta rakyatnya untuk berperang melawan pemerintah tetangganya yang dipilih secara demokratis.
Ini pemikiran yang bagus. Sayangnya, pemikiran ini tidak terbukti di Yugoslavia, di mana jatuhnya komunisme telah menimbulkan perang tiga-pihak yang kejam. Serbia dan Kroasia, keduanya di bawah pimpinan Presiden yang terpilih secara demokratis, tiap sebentar saling menyerang dan pada saat yang sama keduanya memecah belah Bosnia yang demokratis. Serbia mengadakan pemilihan anggota parlemen pada tanggal 19 Desember di mana semua partai mendukung agresi Serbia walaupun agresi tersebut telah membuat negara tersebut menghadapi banyak permasalahan. Perang Yugoslavia menjadi salah satu penyebab sebagian pendukung kekerasan menjadi pendukung perdamaian yang terlahir kembali. Mereka telah kehilangan minatnya untuk mengembangkan demokrasi. Mereka melihat dunia pasca-komunis dan menyimpulkan bahwa penyebab utama peperangan adalah kebencian nasionalis yang bukannya dihambat tapi malah diberi peluang hidup oleh demokrasi.

No comments: