Google
 

14 January 2008

Sample Financial Translation - English to Indonesian

English Source Text
The most common technique for valuing risky cash flows is the Free Cash Flow (FCF) method. In that method, interest tax shields are excluded from the FCFs and the tax deductibility of interest is treated as a decrease in the cost of capital using the after-tax weighted average cost of capital (WACC). Because the WACC is affected by changes in capital structure, the FCF method poses several implementation problems in highly leveraged transactions, restructurings, project financings, and other instances in which capital structure changes over time. In these situations, the capital structure has to be estimated and those estimates have to be used to compute the appropriate WACC in each period. Under these circumstances, the FCF method can be used to correctly value the cash flows, but it is not straightforward.

This paper presents an alternative method for valuing risky cash flows. I call this method the Capital Cash Flow (CCF) method, because the cash flows include all of the cash available to capital providers, including the interest tax shields. In a capital structure with only ordinary debt and common equity, CCFs equal the flows available to equity - NI plus depreciation less capital expenditure and the increase in working capital - plus the interest paid to debtholders. The interest tax shields decrease taxable income, decrease taxes and, thereby, increase after-tax cash flows. In other words, CCFs equal FCFs plus the interest tax shields. Because the interest tax shields are included in the cash flows, the appropriate discount rate is before-tax and corresponds to the riskiness of the assets.

Although the FCF and CCF methods treat interest tax shields differently, the two methods are algebraically equivalent. In other words, the CCF method is a different way of valuing cash flows using the same assumptions and approach as the FCF method. The advantage of the CCF method is its simplicity. Whenever debt is forecasted in levels, instead of as a percent of total enterprise value, the CCF method is much easier to use, because the interest tax shields are easy to calculate and easy to include in the cash flows. The CCF method retains its simplicity when the forecasted debt levels and the implicit debt-to-value ratios change throughout the forecast period. Also, the expected asset return depends on the riskiness of the asset and, therefore,does not change when capital structure changes. As a result, the discount rate for the CCFs does not have to be re-estimated every period. In contrast, when using the FCF method, the after-tax WACC has to be re-estimated every period. Because the WACC depends on value weights, the value of the firm has to be estimated simultaneously. The CCF method avoids this complexity so that it is especially useful in valuing highly levered firms whose debt is usually forecasted in levels and whose capital structure changes substantially over time.

Indonesian Target Text
Teknik yang paling sering digunakan untuk menilai aliran kas yang berisiko adalah metode Aliran Kas Bebas (FCF). Dengan metode ini, pelindung pajak bunga dikeluarkan dari FCF dan potongan pajak bunga dianggap sebagai penurunan biaya model dengan menggunakan biaya modal rata-rata tertimbang setelah pajak (WACC). Karena WACC dipengaruhi oleh perubahan struktur modal, metode FCF menimbulkan beberapa masalah pelaksanaan dalam transaksi yang sangat terungkit, restrukturisasi, pendanaan proyek, dan kasus-kasus lainnya di mana struktur modal berubah sepanjang waktu. Dalam situasi ini, struktur modal diperkirakan dan perkiraan tersebut harus digunakan untuk menghitung WACC yang tepat pada stiap periode. Dalam keadaan seperti ini, metode FCF dapat digunakan untuk menilai aliran kas dengan benar, tapi metode ini tidak sederhana.
Artikel ini menyajikan sebuah metode alternatif untuk menilai aliran kas yang berisiko. Metode ini saya namakan metode Aliran Kas Modal (CCF), karena aliran kas mencakup semua kas yang tersedia bagi penyedia modal, termasuk pelindung pajak bunga. Dalam struktur modal yang hanya terdiri dari ekuitas umum dan utang biasa, CCF sama dengan aliran yang tersedia bagi ekuitas – NI ditambah depresiasi dikurangi pengleuaran modal dan peningkatan modal kerja – ditambah bunga yang dibayar kepada pemberi pinjaman (debt holder). Pelindung pajak bunga mengurangi pendapatan kena pajak, mengurangi pajak dan, dengan demikian, meningkatkan aliran kas setelah pajak. Dengan kata lain, CCF sama dengan FCF ditambah pelindung pajak bunga. Karena pelindung pajak bunga dimasukkan dalam aliran kas, tingkat potongan yang tepat adalah sebelum pajak dan bersesuaian dengean keberisikoan aset.

Walaupun metode FCF dan CCF memperlakukan pelindung pajak bunga dengan cara yang berbeda, kedua metode ini secara aljabar sama. Dengan kata lain, metode CCF adalah cara lain untuk menilai aliran kas menggunakan asumsi-asumsi dan pendekatan yang sama dengan metode FCF. Kelebihan metode CCF adalah kesederhanaannya. Apabila utang diperkirakan dalam tingkatan, bukan sebagai persentase nilai total perusahaan, metode CCF jauh lebih mudah digunakan, karena pelindung pajak bunga mudah dihitung dan mudah dimasukkan dalam aliran kas. Metode CCF tetap sederhana bila tingkat utang yang diperkirakan dan rasio implisit utang-terhadap-nilai berubah selama periode perkiraan. Selain itu, imbal hasil aset (asset return) yang diperkirakan tergantung pada keberisikoan aset dan, karena itu, tidak berubah bila struktur modal berubah. Karena itu, tingkat potongan untuk CCF tidak perlu diperkirakan kembali setiap periode. Sebaliknya, bila menggunakan metode FCF, WACC setelah pajak harus diperkirakan kembali setiap periode. Karena WACC tergantung pada bobot nilai, nilai perusahaan harus diperkirakan sekaligus. Metode CCF menghindari kerumitan ini sehingga metode ini sangat berguna dalam menilai perusahaan yang sangat terungkit yang hutangnya biasanya diperkirakan dalam tingkatan dan yang struktur modalnya berubah secara signifikan sepanjang waktu.

No comments: