Google
 

09 October 2007

Eksotisme Profesi Penerjemah

Menurut hasil penerawangan saya dari Sabang sampai Merauke, belum begitu banyak orang yang menekuni profesi penerjemah. Kenyataannya, memang banyak orang yang bekerja sebagai penerjemah di samping menekuni pekerjaan di bidang profesi lain. Dengan kata lain, cukup banyak penerjemah paruh waktu di Indonesia namun relatif sedikit penerjemah penuh waktu (seperti saya, contohnya:)).

Bagi Anda yang belum tahu perbedaan antara penerjemah paruh waktu (part-time translator) dan penerjemah penuh waktu (full-time translator), silakan lihat tulisan saya lainnya di blog penerjemah ini mengenai definisi penerjemah penuh waktu dan paruh waktu.

Karena belum banyak penerjemah penuh waktu itulah maka masyarakat umumnya tidak begitu mengenal profesi penerjemah. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa penerjemah adalah suatu profesi yang eksotis (belum banyak dikenal orang, atau dalam istilah yang umum disebut langka).

Karena eksotisme profesi ini, tidak mengherankan kalau saya sering melihat orang yang keheranan melihat saya. Keluarga isteri saya dan masyarakat di sekitar tempat tinggal saya pada mulanya heran dengan apa profesi saya yang sesungguhnya.

Mertua saya dan ipar saya bertanya kepada isteri saya; tetangga saya bertanya kepada mertua dan isteri saya. Mereka heran melihat saya jarang sekali keluar rumah. Saya biasanya hanya keluar rumah untuk shalat Jum'at, potong rambut, mencari kamus baru di toko buku, atau sekali-sekali menemani isteri ke pasar. Mereka tidak pernah melihat saya mengenakan pakaian seragam kerja pergi ke kantor.

Tetangga atau tamu jauh yang datang ke rumah juga heran melihat saya hanya mengenakan kain sarung dan baju kaus tanpa lengan sibuk di depan komputer. Mereka juga heran melihat saya yang kadang-kadang memusatkan perhatian dan konsentrasi penuh ke layar komputer dan kadang-kadang tersenyum-senyum dan tertawa-tawa sambil mengarahkan pandangan ke layar televisi yang terletak di sebelah komputer saya. Kalau order sedang kosong, saya memang sering menikmati acara televisi dan sewaktu-waktu melihat komputer untuk memeriksa kalau-kalau ada email yang masuk.

Melihat semua ini, orang menyangka saya adalah seorang pengangguran - orang yang tidak punya pekerjaan, tidak menghasilkan uang, dan hanya bersenang-senang nonton televisi.
Pada gilirannya, mereka cenderung memandang rendah kepada saya.

Menghadapi semua ini, saya tenang-tenang saja. Mereka begitu karena belum tahu siapa saya. Bagi saya itu bukanlah wujud dari ketidaksopanan dan tiadanya rasa hormat terhadap sesama; bagi saya itu adalah wujud dari ketidaktahuan mereka.

Karena itu, saya berusaha membuat orang yang tidak tahu menjadi tahu. Alhamdulillah, setelah saya persilakan isteri saya memperlihatkan kepada mereka beberapa contoh bukti transfer uang internasional lewat Moneybookers, Western Union, dan transfer bank internasional, dan ditambah dengan sedikit penjelasan mengenai profesi saya sebagai penerjemah, sikap dan pandangan mereka langsung berubah.

Mereka terkagum-kagum dengan profesi penerjemah. Mereka bahkan berkomentar bahwa kalau begitu enak sekali jadi penerjemah - kerjanya santai, bebas, di rumah, tapi menghasilkan uang. Malah para tetangga ada yang meminta saya untuk mengajarkan bahasa Inggris kepada anaknya supaya nanti bisa jadi penerjemah juga seperti saya.:).

Mereka berkomentar, "Kalau anak saya bisa jadi penerjemah seperti kamu, saya tidak perlu repot-repot menyiapkan uang empat puluh juta rupiah setelah dia wisuda nanti sebagai uang sogok agar diterima sebagai PNS."

Inilah gambaran nyata masyarakat kita yang sudah sangat terpengaruh oleh paham materialisme dan hedonisme. Rasa menghargai dan menghormati terhadap orang lain sangat dipengaruhi oleh hal-hal material yang dapat dilihat dan dimiliki orang lain.

Selain itu, mereka cenderung melihat sesuatu dari salah satu aspek saja, yaitu hasil atau sisi mudah atau sisi enaknya saja. Yang mereka lihat hanya bukti transfer uang internasional yang nilainya sekian dolar. Mereka tidak berpikir dan bertanya lebih kritis lagi mengenai proses dan suka-duka untuk mendapatkan uang dolar tsb.

Mereka tidak menyadari bahwa diperlukan ketekunan, kerja keras dan tekad kuat untuk menjadi penerjemah yang andal; bahwa dibutuhkan sumber daya yang memadai untuk menjadi penerjemah yang mumpuni; bahwa order penerjemahan tidak datang setiap hari; bahwa penerjemah tidak bisa memperkirakan kapan order penerjemahan akan masuk karena memang tawaran order penerjemahan itu sangat tidak menentu; bahwa nilai order yang satu berbeda dengan order yang lain; bahwa seorang penerjemah sering harus menunda tidurnya sampai subuh karena harus siaga di depan komputernya menunggu kalau-kalau ada order masuk; bahwa seorang penerjemah sering harus menghadapi kenyataan pada hari tertentu ia tidak mendapatkan order sama sekali walaupun dari pagi sampai tengah malam ia selalu berada di depan komputernya; bahwa proposal yang diajukan seorang penerjemah kepada agensi internasional atau klien langsung internasional belum tentu diterima karena ada banyak penerjemah lain yang mengajukan proposal untuk order yang sama; dst.

Begitulah sepenggal kisah dan pengalaman saya sebagai penerjemah - sebuah profesi yang masih tergolong eksotis di negara kita - dan komentar masyarakat mengenai profesi ini.

5 comments:

Helmy Sani said...

Wah bermanfaat tulisan Uda Hipyan ini. Saya terkadang masih belum PD dengan profesi penerjemah, soalnya masyarakat desa saya masih katrok soal internet, jadi susah deh jelasinnya. Sebagian dari mereka juga mengira saya pengangguran.

Semoga saya bisa mengikuti jejak sukses Uda Hipyan serta program pengentasannya itu loh.

Sukses buat Uda Hipyan..:)

Hipyan (Mr) said...

Matur nuwun sudah berkunjung dan membaca artikelnya, Mas Helmy.

Semoga kesuksesan selalu diraih oleh Mas Helmy dalam bisnis jasa penerjemahannya.

Slamat P. Sinambela said...

hahahaha, sama Uda. saya juga dianggap pengangguran karena yg terlihat hanya momong anak dan bermain dengannya. setiap hari tak pernah berangkat dengan jam yang pasti dan bisa pakai kaos oblong.

enak sekali jadi penerjemah ini:))

tapi ada bagusnya juga. mereka tidak tahu kapan kantung kita kempis hahaha

Hipyan (Mr) said...

Ya, itulah enaknya kerja sebagai penerjemah, Mat.:)

Mari kita teruskan perjuangan menuju yg lebih baik.

Anonymous said...

interpreter emang profesi yang sulit pak,,kami juga belajar interpreter di kampus,,saya mau nanya,,persiapan seperti apa yang bapak lakukan untuk mengantisipasi keadaan atau kesulitan sewaktu mnjdi penerjemah..