Google
 

25 September 2007

Penerjemah Manusia vs Penerjemah Elektronik

Bagi orang awam, kedua istilah ini mungkin terdengar ganjil. Bila mendengar kata 'penerjemah,' orang cenderung langsung membayangkan orang yang melakukan penerjemahan. Sebenarnya, dalam dunia penerjemahan terdapat dua kategori penerjemah - penerjemah manusia (human translators) dan penerjemah elektronik (electronic translators atau machine translators).

Pada penerjemah manusia, proses penerjemahan dilakukan oleh orang yang menguasai bahasa asal, bahasa sasaran, dan pokok bahasan dalam teks yang akan diterjemahkan. Pada penerjemah elektronik atau penerjemah mesin, proses penerjemahan dilakukan oleh perangkat lunak atau program komputer yang telah dirancang untuk menerjemahkan kata-kata pada teks asal.

Dari segi biaya, penerjemah manusia jelas jauh lebih mahal daripada penerjemah elektronik. Namun demikian, dari segi mutu terjemahannya, penerjemah elektronik atau penerjemah mesin tidak dapat menandingi penerjemah manusia.

Memang, untuk wacana yang sangat sederhana dengan struktur kalimat yang singkat dan sederhana seperti prosedur-prosedur teknis, penerjemah elektronik bisa membantu. Sayangnya, untuk wacana yang rumit seperti buku, artikel, dan brosur iklan, terjemahan yang dihasilkan penerjemah mesin sudah pasti harus diedit sehubungan dengan struktur kalimat yang berantakan, pilihan kata yang tidak sesuai konteksnya, dan banyaknya kata yang tak dapat diterjemahkan karena kata tersebut tidak terdapat dalam memori program penerjemah tsb.

Semua kelemahan penerjemah mesin ini terjadi karena pada dasarnya penerjemah ini tidak mempunyai kemampuan berpikir dinamis, adaptif, dan diskriminatif sebagaimana kemampuan penerjemah manusia.

Coba bayangkan perbedaan sopir manusia dan sopir robot. Sopir manusia akan hati-hati dalam menjalankan kendaraannya. Kalau sopir robot, dia akan terus jalan dengan kecepatan yang telah diprogram tak peduli kalau di depannya ada nenek-nenek sedang lewat atau ada kerbau yang numpang lalu. Semuanya akan ditabrak saja.

Mengapa demikian? Karena penerjemahan merupakan suatu proses yang sangat rumit yang melibatkan dua bahasa dengan sistem tata bahasa dan budaya yang berbeda. Bahasa melibatkan konsep-konsep seperti polisemi, kolokasi, dan tradisi. Jadi, tidak mengherankan kalau saya sering kedatangan para mahasiswa S1 maupun S2 yang meminta saya mengedit hasil terjemahan Transtool yang amburadul. Memang, sebagian mahasiswa cenderung mengutamakan tarif murah. Setelah melihat hasil kerja Transtool yang murah namun amburadul itu, mereka baru menyesal. Biasanya, saya akan menolak permintaan mereka dan menawarkan penerjemahan ulang total dari awal karena kekacaubalauan terjemahan yang luar biasa.

Karena itu, Anda yang membutuhkan jasa penerjemahan sebaiknya jangan memakai penerjemah elektronik/mesin. Gunakanlah selalu jasa penerjemah manusia. Memang kelihatannya biayanya lebih mahal, tapi kalau dilihat dari hasil terjemahannya, biaya tsb sangat wajar. Sebaliknya, biaya jasa penerjemahan yang memakai program komputer seperti Transtool atau program-program lainnya yang kelihatannya murah sebenarnya justru mahal mengingat rendahnya mutu terjemahan yang dihasilkan dan biaya besar yang kemudian diperlukan untuk merombaknya.

No comments: