Google
 

16 August 2007

Suka Duka Penerjemah Online

Berbeda dengan profesi lain seperti dokter, pengacara, akuntan, notaris, dll. , profesi penerjemah pada umumnya dan penerjemah onlen pada khususnya belum begitu dikenal masyarakat. Hal ini mungkin disebabkan oleh dua faktor utama - program pendidikan yang tersedia dan keberadaan penerjemah itu sendiri.

Dalam hal program pendidikan, belum ada program pendidikan penerjemah di Indonesia. Sebaliknya program pendidikan dokter, pengacara, akuntan, dan notaris, tersedia hampir di semua perguruan tinggi.

Sehubungan dengan keberadaan penerjemah itu sendiri, jumlah penerjemah di Indonesia masih sangat terbatas. Kalau di Jakarta, Bandung, dan Surabaya, jumlah penerjemah mungkin cukup banyak, tapi di daerah-daerah di luar ketiga kota ini masih sangat terbatas. Tentu saja, penerjemah yang dimaksud di sini adalah penerjemah profesional atau purna-waktu (full-time) - penerjemah yang menekuni bidang penerjemahan sebagai bisnis intinya, bukan penerjemah sambilan atau part-time, yang menekuni bidang selain penerjemahan sebagai bisnis intinya dan melakukan kegiatan penerjemahan hanya sebagai kegiatan sambilan.

Jadi, tidak mengherankan bila masyarakat tidak begitu mengenal profesi penerjemah online.
Karena itu, sebagai salah satu cara mempromosikan profesi penerjemah online, saya mempublikasikan gagasan dan pengalaman saya sebagai penerjemah online Inggris-Indonesia melalui blog ini.

Sebagai penerjemah online, saya tidak harus tergesa-gesa bangun pagi dan bergegas berangkat ke kantor supaya tidak terlambat dan kena tegur atasan. Semua order penerjemahan yang masuk dikerjakan dari jam 9 pagi sampai jam 9 malam. Tujuh hari dalam seminggu saya siaga di depan komputer.

Selain itu, sebagai penerjemah online, saya berperan ganda sebagai bos sekaligus karyawan. Dengan kata lain saya bekerja sendiri, tanpa atasan atau bawahan. Karena itu, saya bisa mengatur sendiri jam kerja dan cara kerja saya.

Selanjutnya, penerjemah online bebas menentukan sendiri berapa besar penghasilan yang ingin didapatkannya. Karena penerjemah online adalah penerjemah bebas (freelance) yang tidak terikat pada lembaga tertentu, penerjemah online bebas menentukan sendiri tarif yang diinginkannya. Sebagai penerjemah online, saya menetapkan tarif penerjemahan lokal Rp37,5 per kata teks sumber. Dengan halaman standar 300 kata, tarif ini setara dengan Rp7.500 per halaman hasil terjemahan. Untuk jasa penerjemahan nasional, saya mematok tarif Rp125 per kata teks sumber atau setara dengan Rp37.500 per halaman hasil terjemahan. Untuk tarif penerjemahan internasional, saya memasang tarif US$0.12 per kata teks sumber, sedangkan untuk penyuntingan (editing) tarif saya US$40 per jam per 1000 kata.

Sebagai tambahan, penerjemah online juga mempunyai jangkauan pasar yang tidak terbatas. Dengan adanya Internet, penerjemah online bisa membuat situs untuk mempromosikan jasa penerjemahannya. Situs ini bisa dilihat oleh siapa pun, di mana pun, dan kapan pun. Karena itulah, saya bisa mendapatkan order penerjemahan dari Jakarta, Semarang, Bali, dan Medan, dan bahkan dari Inggris, Perancis, Latvia, Amerika Serikat, Australia, dan Malaysia.

Namun demikian, selain cerita suka di atas, ada juga cerita duka sebagai penerjemah online. Yang pertama adalah order penerjemahan itu tidak datang setiap hari, setiap minggu, atau setiap bulan. Ada kalanya hari ini masuk order, besok tidak ada order; minggu ini masuk order, minggu besok kosong; bulan ini dapat order, bulan depan tidak ada satu order pun.

Yang kedua adalah kesulitan dalam mengatur waktu kerja, tidur, sosialisasi, penyegaran, dan olah raga. Kalau di Padang jam 3 sore, di Eropa pada umumnya jam kantor baru dimulai. Kalau di Padang jam 9 malam, di Amerika Serikat pada umumnya jam kantor baru dimulai. Karena itu, untuk bersiaga menghadapi kemungkinan tawaran order penerjemahan dari Eropa dan Amerika, saya harus siaga dari jam 3 sore sampai jam 12 malam, dan sering juga sampai jam 3 subuh.

Selain itu, karena kapan order masuk tidak bisa diperkirakan, penerjemah online harus selalu siaga di depan komputernya. Dengan demikian, saya jarang sekali keluar rumah atau ngobrol panjang lebar dengan teman-teman melalui telepon. Begitu juga, karena jarang bisa berolah raga, badan juga semakin melar.

Yang terakhir, karena masyarakat belum begitu mengenal profesi ini, apresiasi masyarat terhadap profesi penerjemah masih kurang. Kalau bertemu dengan teman-teman lama atau mantan tetangga, mereka sering bertanya 'Di mana kerja, Hipyan?' dan saya biasanya menjawab 'Di rumah.' Mendengar jawaban ini, mereka biasanya tersenyum heran dan tidak melanjutkan dengan pertanyaan lain karena mungkin yang ada dalam pikiran mereka adalah 'Kalau di rumah berarti tidak punya kerja alias nganggur.'

Inilah sedikit cerita saya mengenai suka dan duka sebagai penerjemah online. Semoga bermanfaat.

2 comments:

Hadiblog said...

Pak Hypian, sungguh beruntung anda harus di rumah terus tanpa perlu meninggalkan rumah, saya sendiri harus keliling Indonesia tugas proyek konstruksi dari perusahaan, sampai sempat anak saya tidak mengenal bapaknya (sewaktu kecil umur 3 tahun), saya sendiri ingin bisa berbahasa Inggris selancar bapak, ajarin dong kuncinya, cara belajarnya, supaya kerjaan saya tambah gampang.

Hipyan (Mr) said...

Dalam hal itu, benar Mas. Seorang penerjemah menghabiskan sebagian besar waktunya bersama anak dan isteri namun tetap bisa bekerja menafkahi keluarga.

Namun demikian, pendapatan seorang penerjemah sangat fluktuatif, Mas. Kadang ada order; kadang kosong. Kadang dapat order besar; kadang dapat order kecil.:)

Kuncinya sederhana saja, Mas: pelajari teori, terus praktek. Insyaallah kalau sering belajar dan praktek kemampuan bahasa kita semakin baik.