Google
 

16 August 2007

Penerjemah dan KTP

Ini adalah sebuah cerita ringan saya sebagai penerjemah onlen ketika mengurus KTP di kelurahan. Sebagaimana biasa, petugas mengajukan beberapa pertanyaan berkaitan dengan data pribadi saya seperti nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, alamat, agama, dan status perkawinan. Untuk semua pertanyaan ini, tidak ada persoalan sama sekali.

Yang sedikit bermasalah adalah ketika petugas menanyakan pekerjaan saya. Waktu ditanya apa pekerjaan saya, saya menjawab 'penerjemah.' Si petugas nampaknya tidak kenal dengan profesi ini dan bertanya apa yang dilakukan seorang penerjemah. Secara sederhana saya jelaskan bahwa penerjemah itu adalah orang yang mengubah suatu teks dari teks berbahasa Inggris ke bahasa Indonesia atau sebaliknya.

Si petugas nampaknya paham dengan penjelasan saya tapi dari kerut kening dan ekspresi wajahnya terlihat bahwa dia masih agak bingung dan ragu. Katanya, selama ini dia belum pernah mendengar ada orang yang bekerja sebagai penerjemah. Saya kembali menjelaskan, kalau di Padang memang profesi ini masih sangat langka tapi di Jakarta dan kota-kota besar lainnya sudah cukup banyak orang yang bekerja sebagai penerjemah.
Kemudian, si petugas kembali bertanya di mana saya berkantor. Sebagai penerjemah bebas (freelance translator), saya jelaskan bahwa saya bekerja di rumah.

Jawaban saya ini nampaknya membuat si petugas kembali heran. Mungkin dalam pikirannya ia bertanya 'Kok ada orang yang bekerja di rumah?' Karena itulah, kemudian dia bertanya bagaimana cara kerjanya. Saya kembali menjelaskan bahwa sebagai penerjemah onlen, saya bekerja di rumah dan memasarkan jasa penerjemahan saya melalui Internet.

Si petugas kemudian terlihat manggut-manggut. Saya tidak tahu apakah penjelasan saya yang terakhir membuat dia semakin paham atau justru semakin bingung mengenai pekerjaan saya sebagai penerjemah.

Ternyata, si petugas menganjurkan supaya pada bagian pekerjaan ditulis saja 'wiraswasta.' Usulan ini langsung saya tolak dengan menjelaskan bahwa istilah 'wiraswasta' itu terlalu umum. Pedagang sayuran di pasar, orang yang buka warung, tukang ojek, dan juragan jengkol, semuanya termasuk wiraswasta. Kalau istilah ini yang dipakai, pekerjaan saya sebagai penerjemah jadi kabur dan profesi ini jadi semakin tidak dikenal masyarakat. Selain itu, saya bangga dengan apa yang saya lakukan - menjadi penerjemah onlen. Saya tidak mau menutupi atau menyamarkan apa pekerjaan saya.

Karena itu, saya tetap berkeras meminta si petugas untuk menuliskan 'penerjemah' pada bagian pekerjaan di KTP. Apa gunanya mengaburkan pekerjaan saya? Ini kan pekerjaan yang baik dan halal. Akhirnya, si petugas menyerah dan menuliskan 'penerjemah' di KTP saya. Saya tidak percaya begitu saja dan melihat apa yang dia tulis. Ternyata memang benar, kata 'penerjemah' sudah diketik di bagian pekerjaan pada KTP.

No comments: