Google
 

29 August 2007

Diskriminasi Tarif vs Diskriminasi Mutu Terjemahan?

Di telinga masyarakat umum, istilah diskriminasi mungkin mengandung konotasi negatif. Masyarakat sering mendengar istilah diskriminasi gender - karyawan laki-laki biasanya diberi gaji yang lebih besar daripada karyawan perempuan, orang tua cenderung lebih mengutamakan anak laki-laki untuk melanjutkan studi sampai perguruan tinggi, masyarakat lebih menghargai dan menghormati orang kaya daripada orang miskin, dll.
Dalam konteks di atas, istilah tersebut memang mengandung makna negatif. Namun demikian, bila dilihat dari maknanya, diskriminasi berarti pembedaan. Sama sekali tidak ada kesan negatif dari makna istilah tersebut. Karena itu, negatifitas atau positifitas istilah tersebut ditentukan oleh konteks pemakaian istilah tersebut. Misalnya, dalam konteks sistem rangkaian pengaman listrik, istilah diskriminasi mengandung makna positif. Sistem rangkaian pengaman listrik yang baik harus mampu mendiskriminasi antara arus beban lebih (overload) dan arus start (yang besarnya bisa mencapai 2,5 kali arus nominal). Kalau tidak ada diskriminasi, orang tidak akan pernah bisa menghidupkan perangkat komputer, kulkas, pendingin ruangan, dan alat-alat listrik rumah tangga lainnya karena pada saat perkakas ini dihidupkan sistem rangkaian pengaman listriknya langsung memutus aliran listrik. Tentu saja, hal ini sangat merugikan. Seharusnya, sistem rangkaian pengaman tersebut hanya memutus aliran listrik apabila terjadi beban lebih atau bila terjadi hubung singkat. Dengan demikian, dalam konteks ini diskriminasi merupakan suatu keharusan.
Sekarang mari kita masuk ke dua konteks pemakaian istilah diskriminasi lainnya - diskriminasi tarif jasa penerjemahan dan diskriminasi mutu terjemahan. Mana yang berkonotasi positif dan mana yang negatif?
Sebagai penerjemah profesional, saya dengan yakin menyatakan bahwa yang pertama positif dan yang kedua negatif. Sehubungan dengan diskriminasi tarif jasa penerjemahan, saya membagi tarif menurut wilayah klien - lokal, nasional, dan internasional. Tentu saja, tarif nasional lebih tinggi daripada tarif lokal, dan tarif internasional juga lebih tinggi daripada tarif nasional. Diskriminasi tarif ini didasarkan pada dua pemikiran logis - perbedaan daya beli dan faktor risiko bagi penerjemah.
Secara umum, klien lokal mempunyai daya beli yang lebih rendah daripada klien nasional. Begitu pula, klien nasional mempunyai daya beli yang lebih rendah daripada klien internasional. Faktor risiko bagi penerjemah merujuk pada kemungkinan klien tidak membayar jasa penerjemahan. Untuk klien lokal, faktor ini sangat kecil atau boleh dikatakan nol karena klien biasanya langsung datang ke rumah memberikan order dan membayar panjar separuh dari nilai total biaya penerjemahan. Untuk klien nasional, faktor ini lebih besar daripada klien lokal karena transaksi umumnya dilakukan secara online. Namun demikian, seandainya terjadi masalah dalam hal pembayaran, biaya yang diperlukan untuk mengatasi masalah ini tentu jauh lebih murah daripada biaya yang diperlukan apabila terjadi masalah pembayaran dari klien internasional.
Konteks yang kedua adalah diskriminasi mutu terjemahan. Ini jelas mengandung makna negatif. Sebagaimana telah saya paparkan dalam posting sebelumnya mengenai kode etik penerjemah, seorang penerjemah tidak boleh melakukan diskriminasi mutu terjemahan. Jadi, apakah order yang saya terima berasal dari klien lokal, nasional, ataupun internasional, saya akan selalu berusaha menghasilkan terjemahan dengan mutu setinggi mungkin. Seorang penerjemah tidak boleh melakukan penerjemahan yang asal-asalan karena ordernya berasal dari klien lokal dan tarifnya jauh lebih murah daripada order dari klien nasional. Dari mana pun order terjemahan tersebut, penerjemah harus melakukan yang terbaik untuk mendapatkan hasil terjemahan yang bermutu.
Kesimpulannya, diskriminasi tidak selalu berkonotasi negatif. Positifitas ataupun negatifitas makna istilah tersebut ditentukan oleh konteks pemakaiannya. Selain itu, diskriminasi tarif jasa penerjemahan adalah hal yang dapat diterima, sedangkan diskriminasi mutu terjemahan jelas merupakan hal yang harus ditiadakan.

No comments: