www.voa-islam.com

Buka mata & wawasan Anda mengenai dunia Islam melalui situs berita Islam.

Google
 

19 January 2015

Contoh Perjanjian Penerjemahan Buku


Perjanjian penerjemahan buku biasanya dibuat antara penerbit dan penerjemah. Namun demikian, ada juga penulis yang langsung mengurus penerjemahan bukunya. Berikut ini contoh perjanjian penerjemahan buku yang akan diterbitkan antara penulis dan penerjemah. 
Ini contoh perjanjian yang pernah saya buat. Bagi siapa pun yang ingin memakainya sebagai acuan umum silakan saja. Tentu saja, ada kemungkinan diperlukan penyesuaian agar selaras dengan konteks dan kasus spesifiknya. 
PERJANJIAN PENERJEMAHAN BUKU
Perjanjian ini (“Perjanjian”) dibuat dan disepakati pada hari Selasa tanggal 20 Januari 2015 (dua puluh Januari dua ribu lima belas) oleh dan antara Nama Penulis (“Penulis”), yang berdomisili di Alamat Lengkap, Kota, Kabupaten, Provinsi, dan Nama Penerjemah (“Penerjemah”), yang berdomisili di Alamat Lengkap, Kota, Provinsi, mengenai penerjemahan (“Penerjemahan” atau “Terjemahan”) buku berjudul Judul Buku (“Buku”) yang ditulis oleh Nama Penulis (“Penulis”), yang masing-masing disebut sebagai “Pihak Pertama” atau “Penulis” dan “Pihak Kedua” atau “Penerjemah” dan secara bersama-sama disebut sebagai “Para Pihak”. 
Para Pihak menyatakan bahwa semua kesepakatan yang dibuat oleh Pihak Pertama dan Pihak Kedua yang diuraikan di bawah ini merupakan hasil pertimbangan bersama secara menyeluruh dan matang. 
Berdasarkan pertimbangan bersama ini, Para Pihak menyepakati sebagai berikut:
  1. Penerjemah akan menerjemahkan Buku dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris dan akan menyerahkan Terjemahan kepada Penulis pada atau sebelum tanggal 20 Mei 2015 (dua puluh Mei dua ribu lima belas).
  2. Penulis akan menyerahkan Buku yang akan diterjemahkan dalam format elektronik (soft copy) dan format tercetak (hard copy) kepada Penerjemah pada saat penandatanganan Perjanjian.
  3. Terjemahan yang telah selesai dikerjakan oleh Penerjemah akan diserahkan kepada Penulis dalam format elektronik (soft copy).
  4. Penulis tidak akan melakukan perubahan apa pun atas versi final Terjemahan kecuali yang berkaitan dengan tata letak (layout), jenis dan ukuran huruf, serta ilustrasi visual, setelah selesainya proses penyuntingan (editing) oleh penyunting/editor, proses revisi atau koreksi oleh Penerjemah, dan diskusi antara penyunting/editor dan Penerjemah.
  5. Apabila setelah proses penyuntingan (editing) diperlukan revisi atau koreksi Terjemahan, permintaan revisi atau koreksi ini harus disampaikan secara tertulis oleh Penulis kepada Penerjemah dalam jangka waktu paling lambat 60 (enam puluh) hari setelah Penerjemah menyerahkan Terjemahan kepada Penulis.
  6. Apabila permintaan revisi atau koreksi disampaikan Penulis kepada Penerjemah dalam jangka waktu 60 (enam puluh) hari, maka Penerjemah tidak memungut biaya apa pun atas proses revisi atau koreksi Terjemahan dan diskusi antara penyunting/editor dan Penerjemah.
  7. Apabila jangka waktu sebagaimana tersebut pada Pasal 5 sudah terlewati, maka permintaan revisi atau koreksi Terjemahan oleh Penulis harus mendapat persetujuan tertulis terlebih dahulu dari Penerjemah dan Penerjemah akan memungut biaya Rp100.000 (seratus ribu rupiah) per jam waktu yang diperlukan untuk proses revisi atau koreksi dan diskusi antara penyunting/editor dan Penerjemah.
  8. Waktu penyelesaian proses revisi atau koreksi sepenuhnya ditentukan oleh Penerjemah setelah konsultasi dengan Penulis.
  9. Penerjemah menjamin dan menegaskan bahwa tidak ada tulisan yang bersifat tidak menyenangkan atau memfitnah yang tidak terdapat di dalam Buku akan dimasukkan ke dalam Terjemahan.
  10. Penulis akan membayar ganti rugi kepada Penerjemah dan membebaskan Penerjemah dari segala risiko hukum atau pengeluaran atau biaya finansial yang timbul apabila terjadi tuntutan atau gugatan sehubungan dengan isi Buku.
  11. Penulis akan membayar uang jasa Penerjemahan sebesar Rp20.000.000 (dua puluh juta rupiah) kepada Penerjemah.
  12. Selain uang jasa Penerjemahan, Penulis akan membayar uang royalti sebesar 10% (sepuluh persen) dari harga jual eceran per eksemplar Terjemahan yang diterbitkan kepada Penerjemah.
  13. Penulis akan menyerahkan uang royalti sebagaimana dimaksud pada Pasal 12 setiap enam bulan sekali kepada Penerjemah.
  14. Penerjemah akan menerima pembayaran 50% (lima puluh persen) dari total biaya Penerjemahan pada saat penandatanganan Perjanjian oleh Para Pihak. 
  15. Selama berlangsungnya proses Penerjemahan, Penerjemah tidak wajib menyerahkan sebagian atau seluruh bagian dari Terjemahan yang telah dikerjakan kepada Penulis.
  16. 50% (lima puluh persen) sisa pembayaran akan diserahkan Penulis kepada Penerjemah sebelum Terjemahan yang telah selesai diserahkan Penerjemah kepada Penulis setelah Penerjemah memberi tahu Penulis mengenai selesainya Terjemahan.
  17. Nama Penerjemah akan dicantumkan pada sampul depan dan halaman judul pada semua edisi Terjemahan yang diterbitkan dengan ukuran huruf sekurang-kurangnya 60% (enam puluh persen) dari ukuran huruf nama Penulis.
  18. Biografi Penerjemah akan dicantumkan pada sampul belakang semua edisi Terjemahan yang diterbitkan.
  19. Pada penerbitan pertama Terjemahan, Penulis akan memberikan 1 (satu) eksemplar Terjemahan yang diterbitkan kepada Penerjemah.
  20. Apabila Terjemahan telah diterbitkan, Penulis akan memberikan pemberitahuan tertulis kepada Penerjemah paling lambat 1 (satu) minggu setelah penerbitan Terjemahan.
  21. Penulis akan memberikan laporan resmi tertulis dari Penerbit mengenai jumlah Terjemahan yang diterbitkan kepada Penerjemah paling lambat 14 (empat belas) hari setelah penerbitan Terjemahan.
  22. Penulis akan memberikan laporan resmi tertulis dari Penerbit mengenai jumlah Terjemahan yang telah terjual setiap enam bulan sekali terhitung sejak tanggal penerbitan Terjemahan kepada Penerjemah.
  23. Perjanjian ini dapat dibatalkan hanya dengan kesepakatan tertulis Para Pihak.
  24. Penulis akan membayar uang pembatalan sebesar 50% (lima puluh persen) dari total biaya Penerjemahan atau sebesar nilai dari persentase Terjemahan yang telah diselesaikan kepada Penerjemah apabila Perjanjian ini dibatalkan secara sepihak oleh Penulis.
  25. Uang pembatalan sebagaimana dimaksud pada Pasal 24 yang akan berlaku adalah salah satu yang lebih besar di antara 50% dari total biaya Penerjemahan dan nilai dari persentase Terjemahan yang telah diselesaikan.
  26. Perjanjian ini dibuat dua rangkap dan masing-masing ditandatangani oleh Para Pihak serta diberi meterai Rp6.000 (enam ribu rupiah).
  27. Demikianlah, Perjanjian ini dibuat sebagai hasil pertimbangan bersama Para Pihak dan tanda tangan Para Pihak di bawah ini menunjukkan penerimaan atas syarat dan ketentuan Perjanjian di atas.

                                                                                              Kota, 20 Januari 2015
Penulis                                                                                  Penerjemah

Nama Penulis                                                                       Nama Penerjemah

30 November 2014

Negosiasi: Mengapa Takut?



Dari pengalaman dan pengamatan saya di dunia bisnis jasa penerjemahan, para penerjemah cenderung segera menurunkan harga atau tarif jasa penerjemahan yang dinyatakan dalam surat penawarannya jika mendapat tanggapan dari calon klien seperti ini: 
“Wah, tarif yang Anda tawarkan terlalu mahal bagi kami.”

Tindakan penerjemah yang segera menawarkan pemotongan harga atau tarif jasa penerjemahannya demi mendapatkan order penerjemahan dari calon klien tersebut jelas merupakan kesalahan fatal. Memang, kesalahan besar ini sering dibuat oleh penerjemah karena takut order penerjemahan yang sudah di depan mata itu batal diberikan kepadanya karena calon klien memberikannya kepada penerjemah lain yang bersedia memberikan tarif yang jauh lebih murah.

Lalu apa yang harus dilakukan penerjemah selain menawarkan tarif yang lebih rendah? Jawaban yang tepat adalah: negosiasi. Apa yang harus dinegosiasikan oleh seorang penerjemah dalam menghadapi tanggapan seperti di atas?

Berikut ini beberapa gagasan praktis yang saya dapat dan rangkum dari pengalaman pribadi saya sebagai seorang penerjemah bebas (freelance translator), yang menyediakan jasa penerjemahan dokumen dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia dan sebaliknya.

Diskon waktu.
Tawarkan kepada klien bahwa order penerjemahan mereka dapat Anda selesaikan lebih cepat dari waktu yang ditawarkan sebelumnya. Kalau dalam surat penawaran yang telah Anda kirimkan kepada calon klien waktu penyelesaian order penerjemahan yang ditawarkan 21 hari, maka tawarkan kepada calon klien bahwa order penerjemahan tersebut dapat Anda selesaikan dalam 14 hari. Katakan ini sebagai bonus yang Anda berikan bagi calon klien. Besar kemungkinan, calon klien akhirnya bersedia membayar tarif Anda karena pesanan mereka bisa selesai jauh lebih cepat dari waktu yang diperkirakan sebelumnya. Ini bisa menjadi pereda stres bagi calon klien.

Perpanjangan waktu
Sebagai alternatif, penerjemah bisa menawarkan perpanjangan waktu untuk menyelesaikan penerjemahan jika tarif diturunkan. Ini merupakan pilihan yang sangat wajar dan menguntungkan baik bagi calon klien maupun penerjemah sendiri. Kalau calon klien tetap berkeras meminta harga yang lebih murah, maka penerjemah bisa menerima order penerjemahan tersebut dengan menawarkan waktu pengerjaan yang lebih lama. Misalnya, kalau waktu penyelesaian yang ditawarkan sebelumnya 21 hari, maka penerjemah bisa menawarkan waktu penyelesaian 28 hari namun dengan potongan harga 20%.

Diskon atas pembayaran di muka
Berikan diskon untuk pembayaran sekaligus di muka. Penerjemah bisa menawarkan diskon 10%, misalnya, jika calon klien bersedia membayar lunas biaya total jasa penerjemahan Anda di muka. Calon klien mungkin tidak keberatan menyerahkan order penerjemahannya kepada Anda karena mereka merasa senang mendapat potongan harga. Sebagai penerjemah, Anda juga merasa senang karena segera menerima bayaran atas jasa penerjemahan yang belum Anda kerjakan.

Ketiga strategi negosiasi di atas merupakan strategi yang menguntungkan kedua pihak, calon klien maupun penerjemah, sehingga besar kemungkinan calon klien bersedia menerima tawaran penerjemah karena mereka merasa mendapatkan keuntungan. Sebaliknya, ketiga strategi tersebut jelas menguntungkan bagi penerjemah karena besar kemungkinan tawaran order penerjemahan jadi diterimanya dengan harga dan waktu pengerjaan order yang masih wajar dan menguntungkan.

Namun demikian, agar ketiga strategi ini benar-benar memberikan keuntungan kepada penerjemah, penerjemah bersangkutan harus mampu: 1) menetapkan tarif atau harga jasa penerjemahan yang aman, 2) menentukan waktu penyelesaian order penerjemahan yang nyaman, dan 3) tidak takut kehilangan order penerjemahan.

Bagaimana menetapkan tarif jasa penerjemahan yang aman, menentukan waktu pengerjaan order penerjemahan yang nyaman bagi seorang penerjemah, dan agar penerjemah tidak takut kehilangan order?

Nantikan tulisan berikutnya karena saya sendiri belum tahu jawabannya.:)