www.voa-islam.com

Buka mata & wawasan Anda mengenai dunia Islam melalui situs berita Islam.

Google
 

30 November 2014

Negosiasi: Mengapa Takut?



Dari pengalaman dan pengamatan saya di dunia bisnis jasa penerjemahan, para penerjemah cenderung segera menurunkan harga atau tarif jasa penerjemahan yang dinyatakan dalam surat penawarannya jika mendapat tanggapan dari calon klien seperti ini: 
“Wah, tarif yang Anda tawarkan terlalu mahal bagi kami.”

Tindakan penerjemah yang segera menawarkan pemotongan harga atau tarif jasa penerjemahannya demi mendapatkan order penerjemahan dari calon klien tersebut jelas merupakan kesalahan fatal. Memang, kesalahan besar ini sering dibuat oleh penerjemah karena takut order penerjemahan yang sudah di depan mata itu batal diberikan kepadanya karena calon klien memberikannya kepada penerjemah lain yang bersedia memberikan tarif yang jauh lebih murah.

Lalu apa yang harus dilakukan penerjemah selain menawarkan tarif yang lebih rendah? Jawaban yang tepat adalah: negosiasi. Apa yang harus dinegosiasikan oleh seorang penerjemah dalam menghadapi tanggapan seperti di atas?

Berikut ini beberapa gagasan praktis yang saya dapat dan rangkum dari pengalaman pribadi saya sebagai seorang penerjemah bebas (freelance translator), yang menyediakan jasa penerjemahan dokumen dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia dan sebaliknya.

Diskon waktu.
Tawarkan kepada klien bahwa order penerjemahan mereka dapat Anda selesaikan lebih cepat dari waktu yang ditawarkan sebelumnya. Kalau dalam surat penawaran yang telah Anda kirimkan kepada calon klien waktu penyelesaian order penerjemahan yang ditawarkan 21 hari, maka tawarkan kepada calon klien bahwa order penerjemahan tersebut dapat Anda selesaikan dalam 14 hari. Katakan ini sebagai bonus yang Anda berikan bagi calon klien. Besar kemungkinan, calon klien akhirnya bersedia membayar tarif Anda karena pesanan mereka bisa selesai jauh lebih cepat dari waktu yang diperkirakan sebelumnya. Ini bisa menjadi pereda stres bagi calon klien.

Perpanjangan waktu
Sebagai alternatif, penerjemah bisa menawarkan perpanjangan waktu untuk menyelesaikan penerjemahan jika tarif diturunkan. Ini merupakan pilihan yang sangat wajar dan menguntungkan baik bagi calon klien maupun penerjemah sendiri. Kalau calon klien tetap berkeras meminta harga yang lebih murah, maka penerjemah bisa menerima order penerjemahan tersebut dengan menawarkan waktu pengerjaan yang lebih lama. Misalnya, kalau waktu penyelesaian yang ditawarkan sebelumnya 21 hari, maka penerjemah bisa menawarkan waktu penyelesaian 28 hari namun dengan potongan harga 20%.

Diskon atas pembayaran di muka
Berikan diskon untuk pembayaran sekaligus di muka. Penerjemah bisa menawarkan diskon 10%, misalnya, jika calon klien bersedia membayar lunas biaya total jasa penerjemahan Anda di muka. Calon klien mungkin tidak keberatan menyerahkan order penerjemahannya kepada Anda karena mereka merasa senang mendapat potongan harga. Sebagai penerjemah, Anda juga merasa senang karena segera menerima bayaran atas jasa penerjemahan yang belum Anda kerjakan.

Ketiga strategi negosiasi di atas merupakan strategi yang menguntungkan kedua pihak, calon klien maupun penerjemah, sehingga besar kemungkinan calon klien bersedia menerima tawaran penerjemah karena mereka merasa mendapatkan keuntungan. Sebaliknya, ketiga strategi tersebut jelas menguntungkan bagi penerjemah karena besar kemungkinan tawaran order penerjemahan jadi diterimanya dengan harga dan waktu pengerjaan order yang masih wajar dan menguntungkan.

Namun demikian, agar ketiga strategi ini benar-benar memberikan keuntungan kepada penerjemah, penerjemah bersangkutan harus mampu: 1) menetapkan tarif atau harga jasa penerjemahan yang aman, 2) menentukan waktu penyelesaian order penerjemahan yang nyaman, dan 3) tidak takut kehilangan order penerjemahan.

Bagaimana menetapkan tarif jasa penerjemahan yang aman, menentukan waktu pengerjaan order penerjemahan yang nyaman bagi seorang penerjemah, dan agar penerjemah tidak takut kehilangan order?

Nantikan tulisan berikutnya karena saya sendiri belum tahu jawabannya.:)

28 May 2013

Padanan Additional Buyer Stamp Duty Discount

Frasa di atas juga terdapat pada salah satu dokumen hukum yang dibuat di Singapura. Ini merupakan dokumen promosi properti salah satu perusahaan pengembang Singapura.

Menghadapi frasa bahasa Inggris ini, sebagian penerjemah menerjemahkannya menjadi 'diskon tambahan bea meterai (tanggungan) pembeli', dan sebagian lagi menerjemahkannya menjadi 'diskon bea meterai tambahan tanggungan pembeli'. Dengan kata lain, sebagian penerjemah menafsirkan bahwa 'additional' menerangkan 'discount' (diskon), dan sebagian penerjemah lagi menyimpulkan bahwa 'additional' menerangkan 'buyer stamp duty' (bea meterai tanggungan pembeli).

Sebelum menyimpulkan terjemahan mana yang benar, penerjemah harus mampu menentukan apa yang diterangkan oleh kata 'additional': 'buyer stamp duty' atau 'discount'. Memang, makna frasa ini cukup meragukan karena tidak ada tanda hubung (hyphen) atau kata depan (preposition) yang dapat memperjelasnya. Karena itu, secara gramatikal, kedua versi terjemahan di atas benar semua. Namun demikian, secara faktual, versi kedualah yang benar.

Mari kita analisis mengapa terjemahan versi pertama keliru. Di Singapura ada istilah 'buyer stamp duty' (bea meterai pembeli atau bea meterai tanggungan pembeli) dan 'additional buyer stamp duty' (bea meterai tambahan pembeli atau bea meterai tambahan tanggungan pembeli) dalam pembelian properti. Jadi, dalam pembelian sebuah properti di Singapura, pembeli harus membayar BSD dan juga ABSD.

Untuk memancing pembeli, pengembang memberikan diskon atas ABSD. Dengan demikian, 'additional' dalam frasa 'additional buyer stamp duty discount' bukan merujuk pada 'discount' tapi pada 'buyer stamp duty'. Karena itu, padanan'additional buyer stamp duty discount' adalah 'diskon bea meterai tambahan tanggungan pembeli'.

Rujukan:
From 12 Jan 2013, in addition to Buyer Stamp Duty, buyer has to pay Additional Buyer Stamp Duty. http://www.newlaunch-preview.com/resource/buyerstampduty.html